Selasa, 31 Januari 2023
Selasa, 31 Januari 2023

Membanggakan, SMAN 1 Selong Gondol Emas di OPSI 2022!

SELONG-Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kemendikbudristek RI telah mengumumkan juara Olimpiade Penelitian Siswa  Indonesia (OPSI) 2022 di masing-masing bidang. Hasilnya, Aplikasi Paradis SMAN 1 Selong, Lombok Timur (Lotim) berhasil meraih Medali Emas OPSI 2022 Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora (ISH).

Ini merupakan karya Haifa Nisrinnaya dari kelas XII IPS 1 dan Yuliana Bahri dari kelas XII MIPA 2. Aplikasi ini menjadi media sosialisasi ragam dialek bahasa Sasak sebagai upaya merajut kebhinekaan. ”Raihan emas ini sesuai dengan apa yang kami targetkan,” terang Haeruddin, salah satu pembina KIR SMAN 1 Selong, Sabtu (26/11).

Paradis berarti Peta Ragam Dialek Bahasa Sasak. Paradis serapan dari kata Paradise dalam bahasa Inggris bermakna surga. Inspirasinya dari Pulau Lombok yang memiliki keindahan alam dan keunikan.

Ia dan sesama pembina Nurhayadi, sangat aktif mendampingi Haifa dan Yuliana untuk mendapat bimbingan dari ahlinya. Seperti pemerhati budaya NTB, dari Brida NTB, rekan dari guru penggerak, alumni, hingga pihak Universitas Hamzanwadi. ”Pelibatan mereka untuk memperkuat validasi, sekaligus sebagai bahan masukan dan saran,” terang wakil kepala Bidang Kurikulum SMAN 1 Selong ini.

Baca Juga :  Mengenal Sylvia Maulida, Puteri Remaja Indonesia NTB 2020 dari Lotim (1)

Haerudin berharap, pemerintah daerah (pemda) dapat memberi perhatian terhadap inovasi anak didiknya. Aplikasi Paradis, keunggulannya menggunakan penutur asli dari setiap dialek di Lombok.

Bahkan untuk mendapatkan dialek asli tersebut, mereka berkeliling Lombok selama dua bulan lebih. Keduanya telah mendatangi penutur dialek asli di 33 desa se-Pulau Lombok. ”Ini kerja keras yang patut diapresiasi,” pungkasnya.

Yuliana mengungkapkan selain presentasi dan wawancara, tahapan yang penuh dengan konsentrasi adalah pembuatan video pameran. Karena melibatkan banyak orang. ”Untuk menampilkan arti dan makna dari ragam dialek bahasa Sasak, kami membuat drama untuk video pameran,” terangnya.

Mereka menggunakan dialek bahasa Sasak dari dua siswa yang berasal dari Suralaga dan Sakra. Siswa Sakra meminta untuk dibuatkan tugas ke temannya, siswa Suralaga dengan mengatakkan yaqku sebagai ungkapan penolakan.

Baca Juga :  Dikbud NTB Tunggu Kepastian Subsidi Upah Guru Honorer dan Guru Ngaji

Keesokan harinya, siswa Sakra menagih janji tugas tersebut ke siswa Suralaga, karena yaqku di Sakra berarti akan aku lakukan. Sementara yaqku di Suralaga artinya tidak. ”Adanya kesalahpahaman tersebut membuat siswa Suralaga dan siswa Sakra terjadi konflik, akibat kesalahapahaman dialek itu,” terang dia.

Haifa menjelaskan, kehadiran video pameran tersebut rupanya menarik perhatian dewan juri. Bahkan saat ia dan Yuliana mengunggah video tersebut ke salah satu sosial media, mendapat respons positif. ”Ini yang kami terus bersemangat, di samping kami juga saat itu mengikuti karantina untuk persiapan menjawab pertanyaan dan wawancara dewan juri,” kata dia.

Kepala SMAN 1 Selong Sri Wahyuni, sangat bangga dengan capaian anak didiknya. Bukan hanya membawa nama baik sekolah, namun juga daerah. ”Selain diberikan apresiasi dari panitia penyelenggara, sekolah akan memberi reward,” tegasnya. (yun/r9/*)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks