LombokPost- Yayasan Partisipasi Muda (YPM) mendorong lahirnya pemimpin muda sadar iklim melalui program Academia Politica yang digelar bersama Prodi Sosiologi Universitas Mataram (Unram).
Program ini melatih anak muda NTB untuk memahami isu perubahan iklim, politik lingkungan, dan bahaya wisata toxic yang merusak alam.
Kerusakan mangrove dan terumbu karang kini menjadi ancaman serius bagi pariwisata berkelanjutan NTB. Data Walhi NTB mencatat, 78 persen hutan mangrove di wilayah ini rusak, termasuk sekitar 1.500 hektare di Sekotong.
Sementara itu, 50 persen terumbu karang di Gili Matra mengalami degradasi. Padahal, ekosistem mangrove berperan penting menyerap karbon hingga 10 kali lebih tinggi dari hutan daratan.
Direktur Eksekutif YPM Neildeva Despendya menegaskan, politik seharusnya berpihak pada bumi dan masa depan.
“Politik bukan soal kekuasaan, tapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk kebaikan alam dan manusia. Kalau alam rusak, turis pergi, anak muda rugi,” ujar Neildeva.
Ia mengingatkan, bahwa praktik wisata toxic pembangunan wisata yang abai pada daya dukung lingkungan dapat mempercepat krisis iklim dan menekan ekonomi lokal. Karena itu, generasi muda NTB harus aktif dalam proses politik, advokasi kebijakan, hingga micro-activism di media sosial.
“Anak muda punya kekuatan besar untuk mendorong perubahan. Mulai dari hal kecil seperti menyuarakan isu lingkungan di media sosial hingga ikut dalam kebijakan publik,” tambah Neildeva.
Sementara itu, Raja Aditya Sahala S, peneliti senior Sustainable Oceanic Research, Conservation, and Education (SORCE) menjelaskan, bahwa perubahan iklim menjadi penyebab utama rusaknya terumbu karang NTB akibat pemutihan dan kenaikan suhu laut.
“Menjaga terumbu karang berarti menjaga masa depan laut, wisata, dan ekonomi pesisir,” tegas Raja.
Ia menekankan, pentingnya konservasi berbasis komunitas melalui edukasi, rehabilitasi mangrove, dan aksi bersih pantai. Langkah ini sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata berkelanjutan NTB dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Dari perspektif budaya, Lalu Kesuma Jayadi dari Badan Pemuda Adat Nusantara NTB menyebut masyarakat adat Sasak memiliki kearifan ekologis tinggi dalam menjaga keseimbangan alam. Tradisi seperti Rebo Bontong dan aturan adat Bayan menjadi contoh pelestarian lingkungan yang bisa diadaptasi untuk menghadapi krisis iklim.
Chandra Aprinova, Kabid Destinasi Dinas Pariwisata NTB mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen mengembangkan wisata berkelanjutan dengan tiga pilar utama. Yakni, ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Lingkungan yang rusak berarti hilangnya daya tarik wisata. Karena itu, kami libatkan anak muda dalam gerakan wisata bersih dan edukasi ekowisata,” ujar Chandra.
Berbagai program telah dijalankan, mulai dari Desa Wisata Bersih, Friendly Muslim Tourism, hingga pelatihan ekonomi kreatif berbasis lingkungan. Pemprov NTB juga menargetkan net zero emission pada 2050 dengan melibatkan anak muda dalam inovasi digital ramah lingkungan.
Kegiatan Academia Politica ditutup dengan penyusunan policy brief berisi rekomendasi kebijakan publik untuk mencegah wisata toxic dan memperkuat pariwisata berkelanjutan NTB. Anak muda NTB harus jadi bagian dari gerakan perubahan. Karena masa depan wisata dan bumi ada di tangan mereka.
Editor : Siti Aeny Maryam