LombokPost- Anggaran pendidikan Kota Mataram dipastikan terpangkas setelah kebijakan pemotongan Transfer ke Daerah (TKD).
Dampaknya, anggaran pendidikan tahun 2026 di Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram berkurang cukup besar, mencapai Rp 7 miliar dari pagu awal.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Mataram (DPM) Prof Muhammad Tajuddin menegaskan, pemangkasan anggaran pendidikan Mataram berpotensi memperlambat berbagai kegiatan sekolah, termasuk program ekstrakurikuler hingga peningkatan mutu layanan belajar.
“Kalau secara umum tentu berdampak pada sekolah. Program-program otomatis akan berkurang,” ujarnya, Prof Tajuddin.
Menurutnya, kegiatan peningkatan kompetensi guru yang sebelumnya rutin kini semakin jarang terlaksana. Padahal perkembangan teknologi pendidikan menuntut guru selalu mengikuti pembaruan.
“Program peningkatan kompetensi guru itu jarang dilaksanakan di Kota Mataram, sementara ilmu berkembang, alat berkembang, sarana prasarana berkembang,” jelas Prof Tajuddin.
Ia juga menyoroti bantuan pemerintah berupa fasilitas digital seperti smartboard. Namun bantuan alat tanpa SDM yang terlatih membuat manfaatnya tidak maksimal.
“Sementara SD sekarang dapat bantuan alat, tapi penggunaannya mereka tidak tahu. Ini harus dibarengi pelatihan,” tambah Prof Tajuddin.
Meski anggaran pendidikan Mataram mengalami pemotongan, Prof Tajuddin mengajak sekolah tetap menjalankan tugas secara maksimal dan kreatif. Ia menilai kualitas pendidikan bisa tetap ditingkatkan bila seluruh elemen bekerja dengan komitmen kuat.
“Mari bekerja dengan ikhlas. Jangan terlalu terpaku pada anggaran, tapi lebih kreatif,” ucap Prof Tajuddin.
Dengan kondisi ini, evaluasi dan penataan ulang program menjadi kunci agar anggaran pendidikan yang tersisa tetap berdampak pada peningkatan mutu pendidikan di Kota Mataram.
Editor : Siti Aeny Maryam