alexametrics
Rabu, 23 September 2020
Rabu, 23 September 2020

Adu Kuat Dua Birokrat, Makmur Said vs Selly Andayani

MATARAM– Mantan Plt Wali Kota Mataram Selly Andayani dianggap punya pengalaman kuat  di birokrasi. Hal ini dianggap menjadi modal besarnya untuk maju menantang para pesaingnya di Pilwalkot Mataram 2020 mendatang.

Namun pesaing Selly tak kalah hebat. Waki Mali Kota Mataram H Mohan Roliskana punya ketokohan dan basis masa yang telah teruji selama dua priode.  Selain itu nama HL Makmur Said juga tak bisa dipandang sebelah mata.

 “Puncaknya pak Makmur pernah jadi ‘wali kotanya’ para ASN, dengan jadi Sekda,” kata pengamat politik Dr Kadri.

Akademisi UIN Mataram ini, menilai Makmur dinilai lebih memahami konstruksi persoalan di Kota Mataram. Dari persoalan di birokrasi hingga apa yang dibutuhkan warga kota.

“Ia tahu apa yang belum dan sudah dilakukan, hingga apa yang sebenarnya jadi cita-cita warga kota,” nilainya.

Pemahaman itu dinilai, jadi modal penting bagi Makmur menata kota. Belum lagi, Makmur dinilai punya figur yang  kuat. Figuri itu jika lebih dipopulerkan, akan jadi kekuatan politik mantan sekda itu.

“Bagi orang yang telah mengenal Pak Makmur, ya figurnya yang Smile Man,” ungkapnya.

Kesan itu, ditambah dengan sisi intelektualnya dalam menyelsaikan masalah. Bagi Kadri, Makmur itu identik dengan penyelesainan masalah yang lembut, tenang, tidak ribet, dan menggembirakan.

 “Dia figur problem solver, itu memperkuat penampilannya yang Smile Man,” ujarnya.

Tipologi pemimpin seperti Makmur yang dinilai Kadri sangat dibutuhkan masyarakat Mataram. “Majunya ia melalui jalur independen sebenarnya mempertegas sosok Makmur punya humman relations yang kuat,” terangnya.

Menurutnya Makmur sejauh ini hanya punya satu kelemahan. “Tidak pernah jadi wali kota, itu saja,” cetusnya.

Di sisi lain Selly memang bukan birokrat kemarin sore. Perjalanan panjangnya di birokrasi pemerintah provinsi, membuatnya ia tentu matang dengan ragam persoalan dan cara menyelesaikannya.

“Apalagi Selly pernah punya pengalaman menjadi penjabat wali kota, yang setahu saya Makmur belum pernah,” bandingnya.

Warga akan lebih mudah mengukur kinerja Selly dibanding Makmur. Karena ia pernah duduk di sana. Selama jadi penjabat, Selly relatif sukses membangun citra diri sebagai pemimpin yang berkarakter keibuan dan sangat detail dalam hal kebersihan.

“Ia berhasil membangun image pemimpin dengan Sense of Cleanliness yang tinggi,” terangnya.

Trobosannya dalam hal penanganan sampah. Turun pantau drainase hingga got. Hingga bagiamana tangan besinya sukses menutup lokalisasi pasar di pasar beras. Semuanya sukses menggiring persepsi publik pada figur Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Kekuatan Selly yang lain ia sudah punya modal sosial kapital.Mengingat suami Selly petinggi partai PDI Perjuangan di NTB. Paling tidak, loyalis PDIP akan heroik memperjuangkan Selly sebagai wali kota.

“Selly juga punya kedekatan secara emosional dengan warga Bali di Mataram yang jumlahnya berkisar 20 persen,” ujarnya.

Menjual, Selly di PDIP dan warga Bali-Hindu akan jauh lebih mudah. Karena dinilai punya sisi histroris kuat. Belum lagi warga nonhindu yang berafiliasi pada PDIP, lebih mudah ditebak bakal condong ke Selly.

Tapi punya suami petinggi partai, tak selamanya menguntungkan bagi Selly. Bila Selly tak bisa mengelola dengan baik, itu bisa berbalik menyerang dan melemahkan posisinya. Publik sejauh ini masih mempersepsikan Selly di bawah bayang-bayang suaminya, H Rachmat Hidayat. “Ia harus bisa meyakinkan publik, bahwa dalam hal pemerintahan ia bisa lepas dari Rachmat,” ujarnya.

Karisma Rachmat, memang sangat penting bagi Selly untuk menggerakan PDIP. Tetapi bagi masyarakat luas — tak terlalu respect dengan PDIP — tentu akan  melihat itu sebagai kelemahan.

“Bu Mega, Bu Risma adalah figur-figur yang secara karakter bisa tampil dengan karisma kuat, tanpa bayang-bayang suaminya,” ulasnya.

Lalu siapa diantara keduanya yang paling bisa membangun Good Governance? Kadri mengatakan kedua-duanya berpeluang. Apalagi selama ini, baik Makmur atau Selly punya catatan positif dibirokrasi. Paling tidak, mereka tak terbelit kasus pelik sehingga harus berada di balik jeruji besi.

“Kalau ada catatannya, saya kira itu bisa jadi catatan masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, HL Makmur Said sampai saat ini terus memaksimalkan relawan pemenangan Mataram Ingin Makmur (MIM). Pria murah senyum ini, telah mendapat dukungan ribuan KTP yang saat ini masih terus diverifikasi dan validasi.

Ketua Posko MIM Husni Fahri, mengatakan tak ingin buru-buru mengumpulkan KTP. “Waktu saya rasa masih panjang, kami juga tidak ingin nanti dukungan itu jadi masalah, kita ingin dapat dukungan yang riil dari masyarakat,” kata Husni yang juga mantan kepala dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB.

Di lingkaran PDIP NTB Selly, dikabarkan masih tertutup. Tentang rencana pencalonan dirinya. Saat ditanya dengan siapa akan maju, Selly lebih memilih menyampaikan kepastiannya di waktu yang lain.

“Tapi yang pasti beliau pasti maju,” tekan sumber internal PDIP NTB, yang enggan disebutkan namanya.

Selly saat ini masih menunggu momentum politik. Untuk akhirnya mendeklarasikan menatang petahana di Pilwalkot 2020 Mataram. “Bisa usai kongres PDIP atau setelah Konferda,” tandasnya. (zad/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, NTB Promosikan Peluang Investasi

Ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Bank Indonesia. ”Pasti ujungnya juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji.

Efek Pandemi, Transaksi Valas di NTB Melorot 90 Hingga Persen

”Hingga kini pandemi telah memukul telak seluruh kegiatan usaha penukaran valuta asing (kupva) di money changer hingga 90 persen,” kata Darda Subarda, pemilik Money Changer PT Tri Putra Darma Valuta, kepada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Silky Pudding Drink Lombok, Minuman Kekinian Satu-satunya di Lombok

Minuman ini hadir dengan delapan varian rasa, yakni Red Island, Choco Dream, Magical Blue, dan Beauty Sunset. Juga Baby Queen, Sweet Choco, Deep Purple dan terakhir ada Snlight Choco. “Harganya hanya Rp 13.000 per cup,” kata Ramadarima, pemilik Silky Pudding Drink Lombok.

Sumbawa Gelar Simulasi KBM Tatap Muka

”Masing-masing kecamatan, ada perwakilan atau piloting, minimal dua sekolah yang kami tunjuk,” kata Sahril.

Disdik Kota Mataram Berharap Bantuan Kuota Dimanfaatkan Maksimal

”Kami belum tahu persis, makanya kami akan tunggu petunjuk berikutnya,” ujarnya, pada Lombok Post, Selasa (22/9/2020).

Saatnya Kota Mataram Dipimpin Arsitek

“Tidak bisa kita mengharapkan perubahan, kalau masih memberikan kepemimpinan pada orang yang sama,” kata Ketua Partai Gelora NTB HL Fahrurrozi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks