alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

Timsel Anggota Bawaslu NTB Kirim Enam Nama Terpilih ke Bawaslu RI

MATARAM-Perebutan tiga kursi lowong anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) NTB berlangsung sengit. Akibatnya, sejumlah nama beken ‘gugur’ dalam seleksi 12 besar menjadi 6 besar.

Ketua Timsel Prof Mahyuni mengatakan proses seleksi telah mengedepankan prinsip kerja profesionalisme dengan sistem bobot yang telah diatur dalam ketentuan seleksi.

“(Pengumuman hasil ini) puncak proses panjang (seleksi oleh Timsel) dan banyak yang menantikan hasilnya,” katanya, saat sesi Konferensi Pers, kemarin (2/8).

Dikatakannya, hasil itu dengan telah mencermati tes wawancara dan kesehatan. “Bobot nilai tes wawancara 60 persen sedangkan tes kesehatan 40 persen,” urainya.

Selanjutnya, nama yang dinyatakan lolos enam besar diumumkan.

Mereka antara lain Arnan Jurami dari kalangan media; Hasan Basri, Ketua Bawaslu Kota Mataram; Itratip, anggota Bawaslu NTB; Suhardi, anggota Bawaslu NTB. Kemudian Syaifuddin, anggota KPU Kota Mataram; Umar Achmad Seth, anggota Bawaslu NTB.

“Kerja kami sampai di sini (menyeleksi 6 besar) selanjutnya hasil ini akan kami kirim ke Bawaslu RI untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan, untuk diputuskan menjadi 3 orang anggota,” jelasnya.

Sedangkan yang tersingkir juga merupakan figur beken di kalangan penyelenggara.

Mereka antara lain: Ketua KPU NTB Suhardi Soud; anggota Bawaslu Kota Mataram Dewi Asmawardhani; Ketua Bawaslu Lombok Tengah Abdul Hanan; Ketua Bawaslu Lombok Timur Retno Sirnopati; Anggota Bawaslu Lombok Tengah Usman Faisal; anggota KPU Lombok Barat Muhammad Amrullah.

Baca Juga :  Pilkada Serentak NTB di Tengah Korona, Anggaran Bakal Membengkak

Timsel masih membuka diri atas kritik, masukkan, ataupun komplain hasil yang telah diputuskan Timsel. Jika ada hal yang dianggap perlu diperbaiki atau tidak sesuai dengan mekanisme yang ada.

“Selanjutnya kami memohon pada masyarakat untuk memberikan tanggapan atas hasil ini. Iya (termasuk juga dari) peserta (seleksi) silakan,” ujarnya.

Sementara itu, terkait keharusan peserta pernah menjadi penyelenggara pemilu di tingkat bawah sebelum mendaftar sebagai anggota Bawaslu provinsi, Prof Mahyuni mengatakan itu salah satu poin penilaian saja.

“Jadi itu salah satu poin penilaian saja di antara sekian banyak poin penilaian,” katanya.

Substansinya adalah melihat kecakapan para calon anggota menguasai tentang kepemiluan. Prof Mahyuni mencontohkan seperti Arnan Jurami, sekalipun tidak pernah menjadi penyelenggara di tingkat bawah, namun pengalaman di dunia jurnalis meliput tentang kepemiluan masuk dalam penilaian.

“Selama pemahaman konseptual dia (Arnan Jurami, Red), bagaimana mewawancarai tokoh-tokoh (yang terlibat langsung dalam pemilu), bagaimana dia terlibat dalam kepemiluan dalam makna (menjalankan tugas sebagai) media, jadi ada peluang (bagi teman-teman jurnalis mendaftar), ini kan terbuka untuk umum,” tegasnya.

Timsel ingin membangkitkan optimisme masyarakat luas berani tampil, ikut mendaftar dalam setiap kali kesempatan menjadi penyelenggara. Tidak apatis apalagi mudah terpengaruh oleh isu miring di luar terkait proses pendaftaran menjadi penyelenggara pemilu.

Baca Juga :  Musda Golkar NTB, Peluang Kuda Hitam di Luar Suhaili-Ahyar

“Ini memberi nuansa baru, jadi semua berhak (tampil). Ketika seseorang mampu memberikan hasil yang baik, argumentasinya logis dan konseptual, kenapa tidak (lolos seleksi)?” tekannya.

Sementara terkait kabar adanya ‘calon titipan’ Prof Mahyuni menegaskan hasil yang telah diputuskan telah didasari atas objektivitas lima anggota Timsel.

“Itulah hasil objektivitas,” tekannya.

Diungkapkannya, sebenarnya ada juga pihak yang mencoba mengganggu independensi pansel.

“Ada, tapi kami tidak respons. Sebab kalau kami respons satu pasti yang lain ikut. Jadi kami profesional saja,” tegasnya.

Anggota Timsel Arifin Zaenal mengatakan proses penilaian telah dilakukan untuk tes kesehatan dan wawancara. Terkait hasil atau nilai bobot para calon anggota, tidak dapat diekspose oleh Timsel pada publik.

“Mungkin terkait nilai, itu ada nilai wawancara, ada nilai kesehatan. Namun nilai itu hanya bersifat pelaporan Timsel pada Bawaslu RI. Itu menurut juknis (seleksi) yang sampai ke kami,” jelasnya.

Publik yang ingin mengetahui angka nilai secara detail, dapat menanyakan langsung pada Bawaslu RI.

“kami Timsel tidak punya kewenangan. Yang bisa kami sampaikan bahwa 6 orang yang terpilih ini, adalah yang terbaik (nilainya),” pungkasnya. (zad/r2)

 

 

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/