alexametrics
Selasa, 9 Agustus 2022
Selasa, 9 Agustus 2022

Pasangan Airlangga-Anies, Seberapa Laku di NTB?

MATARAM-Kader Golkar lagi ramai menjodohkan ketua umumnya Airlangga Hartarto dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Tentu saja, upaya kader partai warisan orde baru ini ramai diperbincangkan.

Terkait peluang tandem, sampai seberapa besar peluang paket ini diterima di daerah-daerah, termasuk di NTB.

Pengamat Politik UIN Mataram Ihsan Hamid mengatakan, sebelum mengukur seberapa besar penerimaan masyarakat NTB terhadap paket ini, perlu melihat peluang paket ini terbentuk.

“Gambaran umumnya begini: semua partai saat ini tengah menunggu sikap PDIP,” katanya, kemarin (6/1).

Sebagai partai penguasa, PDIP memegang peranan penting dalam membentuk polarisasi koalisi parpol lain.

“Apalagi tidak ada ketum partai yang memiliki elektabilitas tinggi,” urainya.

Kandidat doktoral UIN Syarif Hidayatullah itu mengecualikan untuk Prabowo di Gerindra.

Tetapi case Prabowo dengan elektoralnya saat ini berbeda saat sebagai oposisi.

“Dampak bergabungnya Prabowo dengan pemerintah perlu diuji lagi, sebesar apa elektabilitasnya,” ulasnya.

Sementara para figur pemilik elektabilitas tinggi didominasi non ketua umum.

Maka peluang yang paling mungkin dalam pasangan Capres-Cawapres menurutnya dengan ‘mengawinkan’ ketua umum partai dengan figur pemilik elektoral tinggi.

Baca Juga :  Harlah NU Ke-96, Menko Airlangga Dorong Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat

“Maka skema, Airlangga-Anies atau Airlangga-RK, atau bahkan Airlangga-Ganjar itu bisa masuk,” imbuhnya.

Perpaduan ini penting untuk menjamin tiket partai politik aman, tiket kemenangan juga terbuka melalui elektoral yang tinggi.

Kembali pada peluang Airlangga-Anies, langkah ini bisa dibaca sebagai tes case dan test the water.

Sembari itu, Golkar tengah menunggu kepastian koalisi Gerindra-PDIP.

“Kalau isu Prabowo-Puan itu terwujud, saya kira sangat besar peluang Airlangga-Anies,” imbuhnya.

Berbeda halnya, jika keputusan PDIP memberi tiket pada kader terbaiknya Ganjar Pranowo yang saat ini memiliki elektabilitas tinggi.

“Misalnya jadi Prabowo-Ganjar, maka bisa jadi Golkar berpikir ulang (memasangkan Airlangga-Anies), karena pemilu bisa selesai kalau keduanya duet,” analisanya.

Dosen Ilmu Politik itu kembali menekankan tentang berani atau tidak PDIP membuang kader emasnya Ganjar.

Hanya untuk memberi ruang putri mahkota: Puan Maharani.

“Saya pikir di situ poinnya,” tekannya.

Andai, Prabowo-Puan tercipta dan Airlangga-Anies deal, mana yang lebih laku di NTB?

“Saya kira, orang akan lebih condong pada Airlangga-Anies,” katanya.

Baca Juga :  Empat Pilar Kebangsaan Benteng Pengaruh Budaya Luar

Ada dua prediksi yang membuat Prabowo bisa gagal mempertahankan NTB sebagai lumbung suaranya. Pertama, Prabowo dianggap tidak lagi mencerminkan figur oposisi sejati.

Kedua, sosok Puan yang sudah diketahui anak dari Mega. Kita bisa lihat bagaimana penerimaan masyakat NTB pada Mega dan partainya,” ulasnya.

Sedangkan walaupun tidak terlalu tinggi elektoral Airlangga, masyakat NTB bisa melihat sosok Anies sebagai primadona baru.

Sementara itu, Pengamat Politik Unram Saiful Hamdi mengatakan, sebenarnya kemasan komposisi akan lebih nendang kalau dibalik menjadi Anies-Airlangga.

“Kalau Anies-Airlangga (sebenarnya) akan lebih prospek di Lombok. Saya yakin mereka bisa menang. (Tapi) kalau Airlangga nomor satu sulit (harus kerja keras lagi),” katanya.

Tetapi memosisikan Anies di posisi satu juga bukan hal mudah. Di samping ambisi sejumlah pimpinan partai yang ingin tampil, Anies juga tidak punya saham di salah satu parpol dengan mayoritas kursi di DPR RI. (zad/r2)

 

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/