alexametrics
Selasa, 9 Agustus 2022
Selasa, 9 Agustus 2022

Pilgub NTB 2024, Suhaili-Sukiman atau Suhaili-Indah Damayanti?

MATARAM-HM Suhaili FT kembali jadi perbincangan sebagai figur yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2024.

Namun kali ini bukan dengan Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy, melainkan Bupati Bima Indah Damayanti Putri (IDP).

Dalam flyer yang beredar paket ini di namai “Suadaya”. Akronim dari Suhaili-Damayanti.

“Saya pikir ini konsep yang menarik juga (selain Sukiman-Suhaili),” kata Pengamat Politik Ihsan Hamid, kemarin (5/6).

Ihsan mengatakan sekalipun dari sisi basis dukungan suara “Paket Susu” lebih potensial, tetapi tidak mencerminkan geopolitik sehingga rentan diserang isu identitas.

“Maka tradisi politik keterwakilan wilayah dua pulau besar di NTB, yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa akan terjawab dengan paket Suhaili-IDP, jadi dari sisi geopolitiknya terpenuhi,” imbuhnya.

Selanjutnya, sekalipun basis suara di Bima bukan yang terbesar, namun berpotensi membawa kemenangan kalau dikelola dengan maksimal. Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kabupaten Bima dalam ranking selalu di urutan ke empat terbesar setelah Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat.

Suhaili ataupun IDP sebagai tokoh dapat mengelola lumbung suaranya masing-masing untuk meraup suara maksimal.

“Keduanya berasal dari daerah dengan basis suara yang besar, sehingga peluang menang tetap terbuka,” ulasnya.

Hanya saja, duet ini memiliki tantangan yang relatif tidak mudah diselesaikan. Antara lain keduanya yang berstatus sebagai kader Golkar.

Baca Juga :  Hasil Evaluasi MotoGP Mandalika Bahan Persiapan MXGP Samota

“Ini akan menjadi tantangan yang tidak mudah dalam membangun koalisi partai pengusung,” katanya.

Berikutnya, dari sisi logistik yang terlihat menguasai sumber logistik terbesar APBD adalah IDP dengan posisinya saat ini sebagai Bupati.

Paling tidak hal ini akan mempengaruhi totalitas dalam bertarung. “Karena tawarannya IDP di posisi dua, berbeda dengan paket Susu di mana Sukiman berada di posisi satu, yang saat ini juga memiliki kuasa atas sumber logistik terbesar,” ulasnya.

Sekalipun siapa di posisi satu atau dua (baca: calon gubernur atau calon wakil gubernur) belum final, namun konfigurasi ini sangat menentukan untuk membaca totalitas pertarungan.

“Sebab kita tidak tahu berapa kekuatan logistik Suhaili, setelah tidak menjabat lagi sebagai Bupati,” ulasnya.

Sudah menjadi rahasia umum logistik merupakan salah satu kunci pertarungan. Koalisi besar saja tidak menjamin kemenangan karena setelah koalisi terbangun ‘sudah lumrah’ koalisi butuh logistik untuk digerakkan.

“Jadi ini sangat fundamental,” tekannya.

Sedangkan paket Susu kalaupun tidak memenuhi unsur geopolitik, tetapi memenuhi aspek potensi lumbung suara yang dapat dikelola secara maksimal.

“Paket Lombok Timur dan Lombok Tengah ini memang pernah terwujud saat duet Ali BD dan Gede Sakti (Pilgub 2018), tapi hasilnya tentu tidak bisa dikatakan pasti sama,” ujarnya.

Baca Juga :  Seluruh Kader Golkar NTB Bergerak Menangkan HARUM

Semuanya kembali pada ketokohan figur dan totalitas bertarung dalam menggarap lumbung suara masing-masing. “Jadi kembali ke masing-masing tokoh, apakah keuntungan berasal dari wilayah lumbung suara besar dikelola dengan baik atau tidak,” pungkasnya.

Terpisah, Sekretaris DPD Partai Golkar NTB, Lalu Satriawandi menyampaikan partainya saat ini tengah mempersiapkan fungsionaris sebagai ujung tombak menghadapi tahun politik 2024. Baik itu untuk Pileg ataupun Pilkada.

“Semuanya berdasarkan usulan dan aspirasi dari kader secara berjenjang,” katanya.

Namun Satriawandi, masih merahasiakan nama-nama kader yang sudah masuk daftar sebagai fungsionaris yang akan diusung dalam Pilkada. Hal ini ada kaitannya dengan proses penilaian pada fungsionaris, apakah mereka menjalankan tugas yang diamanatkan partai atau tidak.

Seperti misalnya, sosialisasi diri, sosialisasi partai, hingga sosialisasi Airlangga sebagai Presiden di tahun 2024.

“Saya sampaikan ini tanpa menyebut nama dulu ya, karena ini baru tahapan di internal partai. Sebab nanti beda lagi tahapan Pilkada versi KPU. Nah, nanti kita buka nama-namanya setelah tahapan resmi KPU dimulai,” ujarnya. (zad/r2)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/