alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Mau Gaet Milenial, Pahami Startup!

MATARAM-Suara kaum milenial salah satu bidikan para kandidat calon kepala daerah. Buktinya, para calon ramai-ramai mengemas diri, sebagai sosok yang paham tentang kemajuan peradaban terkini.

Mulai dari eksis di media sosial, melibatkan tangan-tangan kereatif untuk membuat konten kampanye, hingga membuat program kerja — bila terpilih — yang khas ada aroma teknologinya. Tujuannya satu meraih dukungan suara milenial yang populasinya sangat besar dan menentukan kemenangan.

Lalu sudah benarkah langkah yang ditempuh para kandidat memoles diri?

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB Hj Baiq Mulianah saat dihubungi Lombok Post mengatakan teknologi faktanya telah menggeser peradaban. Sehingga mau tidak mau, arah pembangunan pun harus disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

“UNU juga sebagai lembaga pendidikan tidak hanya menyiapkan knowladge, tapi juga skil mahasiswa,” kata Mulyana.

Ia mencontohkan beberapa waktu lalu, misalnya UNU bekerjasama dengan raksasa teknologi Google memberi pemahaman pada mahasiswa. Bagaimana cara menghadapi dan mempersiapkan diri menghadapi bisnis digital startup.

Tapi, jika pemeritah tidak menyiapkan lahan praktik saat para mahasiswa nantinya lulus dari universitas. Maka sulit berharap banyak, generasi daerah mampu bersaing.

“Pemerintah pusat juga telah mengingatkan, kita bersiap masuk (teknologi) 4.0,” ujarnya.

Teknologi mutakhir ini tidak bisa dihadapi sendiri lembaga pendidikan dan pemerintah pusat. Harus ada kesiapan pemerintah daerah yang menyiapkan program kerja yang berkesesuaian dan sinergis. Maka kaitannya dengan pilkada 2020 nanti, Mulianah termasuk berharap lahir pemimpin yang paham tentang startup.

“Kita berharap ada pemimpin yang mampu mensupport perguruan tinggi,” harapnya.

Calon kepala daerah milenial tidak hanya dari sisi kemasan saja. Tetapi mampu memberikan ide lahan pengabdian masyarakat bagi generasi milenial.

“Kami misalnya telah membuat bisnis startup di bidang kebersihan, lalu ada beberapa bisnis oline lain,” contohnya.

Maka menurutnya jadi tugas pemerintah selanjutnya, menyiapkan sarana dan prasarana yang mampu mendukung tumbuh kembang bisnis ini. Sehingga ke depan bisa menjadi salah satu wajah ekonomi masyarakat.

Milenial tidak hanya mencari kandidat pemimpin yang tampilannya kekinian. Tetapi kosong dalam gagasan untuk membangun bisnis startup. Pemilih milenial tentu akan melihat program kerja yang akan dibuat calon pemimpin bila terpilih nanti. Tidak hanya sekedar mengklaim diri bagian dari milenialis.

“(Saat terpilih) Pemda bisa bersinergi dalam memberikan program peningkatan penguasaan teknologi,” contohnya.

Kampus menurutnya bekerja di bidang hulu. Sedangkan pemerintah ada di hilir untuk menyiapkan lahan pekerjaan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dikuasai kaum milenial.

“Sekarang tumbuh Youtuber kreatif, (para kandidat) bagiamana memberdayakan mereka,” tantangnya.

Gagasan yang konkret tentu lebih ditunggu para milenial. Daripada sekedar megumbar janji-janji metafora. Gagasan yang langsung menyentuh kebutuhan skil para milenial.

“Misalnya (program) pemberdayaan youtuber kreatif untuk promosi pariwisata,” contohnya.

Atau bila itu dalam bentuk startup, pemerintah melalui Litbang-nya bisa mendukung riset-riset anak muda dalam membuat aplikasi-aplikasi jual beli atau layanan yang mengutungkan. Bahan kampanye yang konkret akan jauh lebih menarik dan dilirik milenial.

Gagasan itu juga sarana para milenial untuk mengukur pemahaman kandiat sendiri tentang peradaban milenial masa kini.

Wakil Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Mataram, I Gusti Lanang Praya juga berharap pilkada 2020 nanti mampu melahirkan pemimipin yang memahami tentang apa itu era milenial.

“Jangan hanya sekedar kelihatan saja milenial tapi tidak tahu apa-apa,” tekan Lanang.

Ia juga yakin kaum milenial sudah mulai lebih objektif dalam menilai kandidat calon kepala daerah. Tidak tergoda dengan jargon-jargon luar. Tetapi sudah melihat isi dari gagasan yang ia bawa bagi daerah bila kelak ia terpilih jadi pemimpin.

Bagi Lanang, pemahaman yang utuh tentang kebutuhan kaum milenial kompensasi yang wajar. Bila ingin dipilih oleh pemilih milenial. Apalagi dari kaca mata serikat, Lanang melihat belum ada regulasi perlindungan yang dapat menjamin. Para pelaku bisnis startup dilindungi dari sisi ketenagakerjaan.

“Misalnya para ojek online, apa mereka dilindungi jaminan kesehatannya, keluarganya, seperti halnya para pekerja di sektor ril selama ini? kan belum,” ujarnya.

Belum adanya aturan dari pemerintah, membuat bisnis startup yang sangat subur saat ini, tumbuh liar. Pekerja bisa diberhentikan dan dipekerjakan tanpa standar-standar regulasi yang baku.

“Kandidat pemimpin yang tidak memahami ini berisiko dipilih, mengingat bisnis startup ini sangat potensial,” tekannya.

Risiko, pemimpin yang tidak paham kebutuhan milenial dapat memperlambat daya saing dan kemajuan daerah. Pemimpin yang gagap teknologi, cendrung membuat gagasan yang jauh dari harapan milenial. Pada akhirnya, ini juga yang akan membuat generasi milenial enggan memberikan suaranya.

“Ada pekerja ojek onilne, jasa pengiriman makan online, semua serba online, syukurnya pemerintah pusat saya dengar sekarang sudah mulai godok regulasinya, nanti daerah juga harus cepat meresponnya,” harap dia.

Maka Lanang pun yakin, nantinya kandidat yang punya visi dan misi milenial yang akan mendapat suara milenial. Termasuk dari pekerja milenial yang saat ini menunggu lahirnya pemimpin yang pro terhadap mereka.

“Jangan sampai nanti perusahaan startup semau-maunya, pada pekerjanya, kita menunggu lahirnya pemimpin milenial,” tegasnya. (zad/r2)  

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Gowes di Jalan Raya Kini Tak Bisa Lagi Serampangan, Ini Aturannya

Belakangan tren bersepeda marak. Agar tertib, maka Kementerian Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 59 Tahun 2020 Tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan pada 14 Agustus lalu. Kemenhub rutin untuk melakukan sosialisasi.

Pilbup Lombok tengah, Pasangan Manthab Optimis Rebut Suara Tiga Ormas

PKS percaya diri memenangkan Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) H Masrun-Habib Ziadi Thohir. Hal ini didasari analisa Masrun-Habib atau paket Manthab sebagai representasi politik tiga ormas di Lombok Tengah (Loteng).

Kampanye Terbuka di Masa Pandemi, Konser Musik Tetap Dibolehkan

Pilkada di tengah Pandemi Covid-19 membuat gerakan Pasangan Calon (Paslon) serba dibatasi. Hal ini sebagai upaya memutus mata rantai Pandemi Covid-19.

Pasangan BARU Bentuk Satgas Internal Pandemi

Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) H Baihaqi-Hj Diyah Ratu Ganefi membentuk Satgas Internal penanganan Pandemi Covid-19. “Sesuai arahan pak Kapolda kami siapkan Satgas internal Pandemi,” kata H Baihaqi, kemarin (18/9).

Ketua Positif Korona, KPU se-NTB Perketat Penerapan Protokol Covid-19

MATARAM-Ketua KPU RI Arief Budiman terkonfirmasi positif Korona. Hal itu setelah Arief menjalani swab test pada Kamis (17/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks