alexametrics
Rabu, 5 Oktober 2022
Rabu, 5 Oktober 2022

Berebut Ceruk Suara NWDI

MATARAM-Pengamat Politik Dr Ihsan Hamid melihat masih ada yang kurang dari bergabungnya TGB HM Zainul Majdi di Partai Persatuan Indonesia (Perindo).

“Terutama dari respons wilayah yang masih terlihat dingin,” katanya pada Lombok Post, kemarin (8/8).

Sebagai tokoh besar daerah yang menasional, Perindo di daerah idealnya memanfaatkan momentum besar ini, menambah popularitas Perindo di NTB.

“Sehingga opini yang saya sampaikan beberapa waktu lalu bahwa TGB memang disiapkan sebagai tokoh nasional, bukan sekadar memburu pemilih NTB masih relevan,” ujarnya.

Peluang problem muncul andai TGB habis-habisan diendorse di NTB sangat terbuka. Terutama dari sisi di internal ormas NWDI.

“Istilahnya berebut di ceruk yang sama. Situasi ini tidak menguntungkan bagi NWDI,” ujarnya.

Berbeda halnya dengan ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah yang memiliki basis massa yang memang besar. NWDI akan dihadapkan pada situasi sulit bila membagi suara ke sejumlah partai.

“Di NWDI itu tokoh elitenya ada yang bergabung NasDem, Demokrat, bahkan PKS juga. Dan sekarang ditambah lagi Perindo,” urainya.

Langkah paling masuk akal untuk membuat NWDI tetap bergigi di peta politik dengan mengarahkan suara jamaahnya ke satu atau dua partai saja. “Kalau suara NWDI solid, maka masih ada peluang ormas ini mengirim kader terbaiknya merebut sebanyak-banyaknya kursi di DPRD kabupaten/kota dan provinsi,” urainya.

Semua ini mengarahkan analisa pada kecondongan TGB diendorse di nasional. Bukan membidik suara NTB.

Memang akan menjadi pertanyaan besar kalau misalnya setelah pemilu 2024 Perindo gagal meraih kursi signifikan di NTB.

Baca Juga :  Dapat Dukungan TGB dan Ali BD, Mohan Makin Pede

“Tentu orang akan bertanya prestasi kursi TGB dalam kapasitasnya sebagai petinggi partai di tingkat nasional, itu akan jadi under line kalau hasilnya buruk,” ujarnya.

TGB mau tidak mau harus dapat memberikan sumbangan suara yang rasional di NTB. “Rasional dalam arti yang disesuaikan dengan kapasitas TGB sebagai tokoh besar di daerah di NTB juga,” ujarnya.

Sebagian besar tokoh yang menjadi bagian dari sistem TGB, saat ini masih bertahan di partai masing-masing.

“Ibu Rohmi masih di NasDem, begitu juga pak Lutfi, lalu Mahalli juga sejauh ini masih nyaman di Demokrat, Najmul, dan lain-lain,” ujarnya.

Doktor politik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu memperkirakan gerbong TGB yang belum masuk dalam partai tersisa sekitar 30-40 persen.

“Mereka tidak masuk NasDem atau Demokrat, tapi juga belum ada tanda-tanda akan bergantung dengan Perindo, artinya situasinya belum menggambarkan kesiapan TGB totalitas berjuang bagi Perindo di NTB,” urainya.

Hal inilah yang membuat Ihsan ragu, kepercayaan diri Perindo NTB dapat mengisi semua Dapil di NTB pada pemilu 2024 dapat tercapai.

“Ketiadaan sistem yang dimiliki TGB di Perindo akan membuat partai ini tidak mudah mendapat TGB Effect. Bahkan kalaupun TGB nantinya total berjuang di daerah mengendorse caleg-caleg yang diusung Perindo, maksimal ya 50 persen lah target politik Perindo bisa dicapai,” prediksinya.

Belum lagi beban politik TGB sebagai Ketua Harian Nasional DPP Perindo harus bisa merebut 60 kursi di DPR RI.

“Artinya kalau target ini mau dimaksimalkan, maka mau tidak mau TGB harus menggarap NTB baik di Dapil pulau Lombok atau Sumbawa. Tapi kembali persoalannya seperti di awal tadi, ini berpeluang menggarap di ceruk yang sama. Sebab akan sangat sulit untuk menggarap misalnya milik PDIP, PKS, atau yang lain,” ujarnya.

Baca Juga :  Pilbup Loteng, PKS Buka Opsi Survei Lale Prayatni

Sementara di keluarga TGB, ada HM Syamsul Lutfi anggota DPR RI dari Partai NasDem yang telah lebih dahulu menggarap ceruk NWDI.

“Jadi akan enigmatis (penuh teka-teki, Red) dan dinamika politik yang luar biasa di internal NWDI kalau misalnya masing-masing mengedapkan ego politik partai masing-masing,” urainya.

Dosen ilmu politik UIN Mataram itu mengatakan harus ada yang mengubah visi. Agar ceruk jamaah NWDI tidak terpolarisasi terlalu banyak.

“TGB memang idealnya ke nasional sedangkan NasDem kemungkinan akan diberi keleluasaan menggarap basis massa NWDI. Atau bisa saja, Perindo mengambil alih semua,” ujarnya.

Struktur kepengurusan Perindo di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, juga masih perlu pembuktian kinerjanya.

“Kita lihat pengurus Perindo ini kebanyakan orang baru dengan jam terbang politik yang masih sedikit. Maka mereka harus mampu membuktikan, apakah dapat mengkapitalisasi ketokohan TGB sebagai dukungan yang besar atau malah sebaliknya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua DPW Perindo NTB Lalu Atharifatullah, langsung tancap gas saat ditanya target pemilu 2024 usai TGB resmi bergabung.

“Kalau dulu kami sempat ragu, sekarang kami sangat optimis dapat mengisi semua Dapil NTB,” katanya.

TGB Effect juga dilihat akan berdampak pada elektoral Perindo di NTB. “Dibanding dengan perolehan Perindo di NTB selama (pemilu lalu) ini,” ujarnya. (zad/r2)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/