Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

HBK : Sembalun Sangat Potensial Untuk Ashitaba

A
Penulis: Administrator❯
H Bambang Kristiono (kiri) bercengkrama dengan seorang petani di Sembalun, beberapa waktu lalu.
H Bambang Kristiono (kiri) bercengkrama dengan seorang petani di Sembalun, beberapa waktu lalu.

SELONG-Kawasan Sembalun di Lombok Timur kerap dikatakan surganya hortikultura Lombok. Aneka jenis sayur dan buah tumbuh subur di sana.


Belakangan, Ashitaba (Angelica Keiskei Koidzumi) tanaman khas Jepang yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, juga mulai dikembangkan. Sayangnya, meski bisa tumbuh lebih subur dibanding di negara asalnya, Ashitaba Sembalun masih terbentur sistem pengolahan dan pemasaran yang belum maksimal.


Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Gerindra, H Bambang Kristiono yang akrab disapa HBK menilai persoalan yang ada perlu dibenahi. ”Pohon Ashitaba di kawasan Sembalun ini, dari sisi pertumbuhan lebih cepat dari negara asalnya. Jika di Jepang Ashitaba yang dikembangkan melalui Teknologi Green House baru bisa dipanen tujuh bulan semenjak pembibitan, di Sembalun bisa dipanen pada usia 3-4 bulan,” ucapnya takjub, saat berkunjung ke lokasi penanaman pohon Ashitaba milik Haji Aidir, di Dusun Pesanggrahan, Kamis (7/2).


Ashitaba dikenal sebagai tanaman obat yang memiliki beragam fungsi. Baik daun, getah, dan akarnya yang bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. ”Perlindungan terhadap hasil produksi dan pemasarannya masih lemah, harus diperbaiki,” tegasnya.


Produksi Ashitaba Sembalun telah jatuh kepada segelintir tengkulak. Petani Sembalun tidak memiliki akses jaringan pasar yang langsung kepada pengguna.


Sebagai langkah nyata, HBK berjanji mendatangkan rekan bisnisnya dari Taiwan yang bergerak di bidang produk Ginseng. ”Sembalun itu ibarat taman sari hortikultura di Pulau Lombok, yang bisa ditanami apa saja karena tanahnya yang begitu subur juga pemandangan alamnya yang sangat indah,” ujarnya.


Dia percaya Ashitaba Sembalun akan memberi dampak ekonomi luar biasa jika bisa berhasil menembus pasar ekspor.


Terpisah, Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Sembalun, H Egi memaparkan, sejarah  awal mula tanaman Ashitaba bermula 1996/1997 lalu, kala dibawa wisatawan Jepang. Karena pertumbuhannya yang cepat, warga Sembalun berbondong-bondong menanam di pekarangan rumah ataupun kebunnya. ”Saat itu booming,” katanya.


Hanya saja, karena over produksi dan sistem pemasaran yang tidak maksimal, petani banyak yang mengalami kerugian.


Kini Ashitaba masih ditanam oleh para petani Sembalun, sebab usia Ashitaba yang bisa mencapai 15 tahunan.


Harga getah Ashitaba bisa tembus Rp 700 ribu perkilogramnya. Produksi setiap hektare bisa menghasilkan 10 ton daun Ashitaba basah. Nantinya itu menjadi satu ton Ashitaba kering. ”Harga daun kering perkwintalnya Rp 500 ribu,” sambungnya.


Namun, karena pasar yang sangat terbatas, sehingga tidak semua terserap. H Aidir, petani setempat menambahkan, saat ini hampir seluruh warga Sembalun menanam Ashitaba. Kendala yang ada membuat potensi tanaman itu sia-sia. ”Kebanyakan warga Sembalun hanya untuk konsumsi sendiri,” katanya.


Sejumlah manfaat Ashitaba yang diyakini khasiatnya antara lain untuk menyehatkan rambut, mencegah kanker, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu juga bagus sebagai antioksidan alami yang kuat, menyehatkan mata, memperbaiki fungsi hati dan ginjal, menurunkan


kolesterol, dan baik untuk program diet. (yuk/r4/*)


Advertisement
Advertisement
Editor : Administrator
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Dewan Dapil Gunungsari-Batulayar Desak Pemkab Lobar Lanjutkan RTH Gunungsari

Dewan Dapil Gunungsari-Batulayar Desak Pemkab Lobar Lanjutkan RTH Gunungsari

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) didorong untuk lebih progresif dalam merealisasikan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer