alexametrics
Kamis, 11 Agustus 2022
Kamis, 11 Agustus 2022

Debat Rasa Cerdas Cermat, Akademisi: BARU Pembeda dari Para Calon

MATARAM-Banyak pihak mengkritik jalannya debat kandidat calon wali kota (Cawali) dan calon wakil wali kota (Cawawali) Mataram, Sabtu (14/11/2020). Mereka mengeluhkan teknis debat yang dinilai kehilangan substansi.

Acara itu dianggap bukan debat tetapi mirip lomba cerdas cermat. “KPU harus mengevaluasi teknisnya,” saran Akademisi Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) Rossi Maunofa W, Senin (16/11/2020).

Rossi berharap KPU tidak mengulangi lagi kesalahan merancang teknis debat ketiga nanti. Hilangnya segmen paslon saling lempar pertanyaan telah membuat publik kecewa. “Di mana-mana yang namanya debat itu adu argumentasi dan saling mengkritisi gagasan,” ulasnya.

Tetapi untungnya masih ada yang membuat penonton tidak kecewa berat. “Setidaknya dari penampilan calon wali kota nomor 4 itu jadi pembeda,” ujarnya.

Calon Wali Kota Mataram nomor urut 4 H Baihaqi mampu menghilangkan kesan pidato. Berbagai pertanyaan mampu dijawab jelas dan tuntas. “Gagasannya menarik, disampaikan dengan gaya meyakinkan,” imbuhnya.

Sekalipun performa Baihaqi belum bisa juga disebut sempurna. “Ya karena keterbatasan waktu,” ulasnya.

Gestur Baihaqi saat memaparkan visi-misi dan menjawab pertanyaan dinilai lebih hidup. Begitupun narasinya menggunakan kalimat yang jelas dan terang. Namun Rossi melihat performa itu, belum bisa diimbangi calon wakil wali kotanya. “Masih terlihat belum luwes,” ujarnya.

Baca Juga :  Saatnya Kota Mataram Dipimpin Seorang Arsitek

Sisalnya paslon lain seperti terjebak pada kesan tengah pidato dan berpacu dengan waktu. “Kita berharap di debat III nanti, lebih hidup antar paslon bisa saling beradu argumentasi,” harapnya.

Calon Wali Kota Mataram nomor urut 4 H Baihaqi ikut mengeluhkan debat yang dilakoninya Sabtu (14/11/2020). “Bukan debat tapi cerdas cermat,” celetuknya.

Awalnya Aqi, sapaan akrabnya, telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk tampil di debat kedua itu. “Sudah ada persiapan untuk mendalami visi-misi kami dan paslon lain, tapi tidak ada sesi itu,” ungkapnya.

Melalui sesi saling lempar pertanyaan, publik diharapkan bisa menilai mana paslon yang punya ide realistis dan konkret, mana yang gagasan rapuh. “Jadi bukan sekadar ide gagah-gagahan, tetapi secara konseptual mewakili keinginan masyarakat Kota Mataram dan mampu diwujudkan,” ulasnya.

Ketua Tim Pemenangan H Baihaqi-Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi (BARU) Zainul Aidi, turut menyampaikan kekecewaan atas format debat kedua. “Bagaimana paslon kami mau mengembangkan performa, kalau pertanyaan antar paslon di krangkeng dari pertanyaan yang sudah disiapkan?” kritiknya.

Baca Juga :  Calon Kepala Daerah Wajib Jadi Influencer Protokol Kesehatan

Segmen paslon menjawab pertanyaan dan dikomentari paslon lain, pun tidak bisa maksimal. “Waktu mengomentari cuma 60 detik, tidak ada waktu mengomentari gagasan paslon lain, sementara kami harus sampaikan konsep juga untuk permasalahan itu,” ulasnya.

Harapan debat akan berjalan lebih menarik dan seru tidak bisa terwujud. Sementara keunggulan paslon BARU menurutnya ada pada gagasannya yang kuat dan realistis. “Benar-benar debatnya di luar ekspektasi kami,” tegasnya.

Dari sisi performa, Zainul mengaku sangat puas dengan penampilan Baihaqi dan Ganefi di atas panggung. “Semua dijawab dengan tepat waktu, kaya ide dan gagasan, tidak ada satu detik terbuang percuma ketika kami diberi kesempatan,” ulasnya.

Sementara itu, Ketua KPU Kota Mataram M Husni Abidin mengatakan, konsep debat terkesan seperti cerdas cermat karena terikat aturan. “Kita memang agak kaku karena aturan,” katanya.

Aturan itu terkait segmen acara. Hanya saja Husni tidak merinci aturan mana dimaksud sebagai rujukan konsep segmen acara.

Husni berjanji di debat ke tiga nanti suasana debat akan lebih menarik untuk ditonton. “Lebih rileks lebih santai,” katanya. (zad/adver)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/