alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Sinyal Poros Gerindra-PDIP di NTB

MATARAM-Dua partai terlihat semakin harmonis belakangan ini di NTB: Gerindra dan PDIP.

Keharmonisan hubungan itu terlihat dari bagaimana para petingginya cukup intens saling menghadiri acara.

Ketua DPD PDIP NTB Rachmat Hidayat misalnya, datang langsung pada saat acara serah terima SK kepengurusan DPD Gerindra NTB dari Ridwan Hidayat ke Lalu Pathul Bahri.

Pun sebaliknya acara PDIP seperti aksi donor darah, dihadiri petinggi Gerindra Bambang Kristiono. Di acara-acara yang lain keakraban keduanya juga sering terlihat.

Nuansa hangat ini memantik prediksi, muncul poros Gerindra-PDIP di NTB. Sekalipun Pilpres apalagi Pilkada Serentak masih lama.

“Saya kira memang masih jauh, pemilu masih dua tahun lagi,” kata pengamat Politik Agus, kemarin (20/1).

Pengajar UIN Mataram itu, melihat manisnya hubungan petinggi Gerindra dan PDIP bisa saja sebagai pertanda poros Gerindra-PDIP mulai dijajaki.

Namun terlalu dini untuk menyimpulkan poros ini sudah matang. Mengingat situasi masih dinamis ke depannya.

“Jadi partai masih punya cukup banyak waktu untuk saling meminang dan menyamakan visi-misi mereka untuk menyelesaikan masalah publik NTB yang begitu kompleks ini,” ulas kandidat doktor Universitas Diponegoro itu.

Proses penjajakan ini akan menjadi kesempatan bagi mereka saling mengeksplorasi potensi masing-masing partai. Melihat peluang dan kesempatan membangun poros hingga koalisi.

Walaupun Agus menekankan, terlalu dini bagi setiap partai untuk membicarakan siapa pasangan calon.

“Saya justru berpandangan partai jangan terburu-buru berbicara pasangan calon,” tekannya.

Kesempatan saat ini lebih produktif dimanfaatkan partai untuk saling mendalami karakter. Lalu setelah menemukan kecocokan membangun poros yang pada akhirnya diharapkan semakin membesar dan solid menjelang Pilpres terutama Pilkada.

Baca Juga :  Lantik Pengurus DPD Golkar, Airlangga Target Menang 70 Persen di NTB

“Yang semestinya dilakukan partai (saat ini adalah) membuka diskusi publik yang seluas-luasnya untuk merumuskan isu-isu publik strategis untuk menjadi visi-misi dan program yang ditawarkan pada saat kampanye nanti,” ujarnya.

Bila poros Gerindra-PDIP di NTB terbentuk, sebenarnya linier dengan isu di pusat. Saat ini isu nasional menggambarkan kemungkinan besar PDIP-Gerindra akan berkoalisi di Pilpres 2024.

Isu itu dibarengi dengan mengerucutnya rumor duet Prabowo Subianto-Puan Maharani.

Rumor ini bisa saja benar yang lalu diikuti dengan perintah bagi jajaran kepengurusan di provinsi hingga kabupaten daerah untuk ikut merapatkan barisan.

Namun Agus berpandangan, seharusnya para elite politik tidak lagi menggunakan cara pragmatis dalam membangun opini politik publik.

“Selama ini ada kekeliruan kita melihat Pemilu, seolah-olah Pemilu hanya soal siapa jadi calon dan siapa terpilih untuk berkuasa,” katanya.

Cara ini justru akan membuat rakyat terus akan menjadi objek Pemilu.

“Pemilu 2024 saatnya kita atau rakyat berdaulat atas hak politiknya dan dapat membangun momentum konsolidasi demokrasi,” urainya.

Cara ini dianggap lebih elegan bagi partai dalam membangun basis pendukung. Rakyat harus diberi ruang berdiskusi politik.

Tinggal partai sebagai instrumen politik mengikuti kehendak rakyat. “Bukan sebaliknya. Jadi jangan bicara calon dulu, partai harus bicara apa kebutuhan rakyat dulu,” tekannya.

Kembali pada kans poros Gerindra-PDIP terbentuk di NTB, poros ini di atas kertas memang relatif menjanjikan.

“Gerindra pada Pemilu 2024 didukung oleh elektabilitas Prabowo yang kemenangannya sangat spektakuler di NTB,” katanya.

Sebagai perbandingan Jokowi yang merupakan representasi politik PDIP saat itu memperoleh 32,11 persen. “Prabowo 67,89 persen,” urainya.

Baca Juga :  Ridwan Klaim JODA Lampaui NADI di Lombok Utara

Elektabilitas Prabowo memberi dampak pada perolehan suara Gerindra di DPRD. “Andai saja Pemilu dan Pilkada dilaksanakan pada tahun yang sama, boleh jadi gubernur terpilih dari Gerindra,” prediksinya.

Agus melanjutkan lagi, berkaca dari data 2019, jika Pemilu dan Pilkada dilaksanakan pada tahun yang sama, maka akan menjadi keuntungan bagi Gerindra.

“Apabila Prabowo berpasangan dengan Puan Maharani,” katanya.

Maka jika Pilkada 2024, Gerindra bergandengan dengan PDIP, maka kesempatan untuk memenangkan Pilkada sangat terbuka. Tetapi sekali lagi Agus menekankan, ini dengan catatan di pusat koalisi Gerindra-PDIP juga terbentuk, sehingga daerah mengikuti.

“Tapi kalau dari pusat Gerindra dan PDIP tidak bersama maka agak berat bagi PDIP di NTB,” pungkasnya.

Sementara itu, Bambang Kristiono yang juga pengurus DPP Gerindra mengatakan, hubungannya dengan Rachmat memang sudah terbentuk lama.

“Intensnya pertemuan saya dengan pak Radenga itu karena beliau salah satu tokoh yang pertama saya kenal di pulau Lombok atau NTB ini,” ungkapnya.

Bahkan dirinya sudah sering saling membangun silaturahmi dengan Rachmat.

“Kami saling cerita, berbagi pengetahuan tentang kondisi NTB ini,” ungkapnya.

Sementara itu dampaknya secara politik, sekalipun berbeda warna tentu akan menambah semangat kekeluargaan sekalipun harus berkompetisi.

“Kalaupun pimpinan di atas memerintahkan kami untuk berkompetisi, karena saya pak Pathul (Ketua DPD Gerindra NTB) dan lainnya hanya petugas partai, kami akan berkompetisi,” ungkapnya.

Tetapi bila DPP mengamanatkan untuk bersama-sama, berjuang dalam satu barisan, maka langkah silaturahmi itu akan memudahkan dalam membangun komunikasi politik.

“Jadi kita bisa bersinergi bersama membangun masyakat,” pungkasnya. (zad/r2)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/