alexametrics
Selasa, 9 Agustus 2022
Selasa, 9 Agustus 2022

Dorong Pasangan Sukiman-Suhaili Hadang Zul-Rohmi di Pilgub NTB 2024

MATARAM-Pilkada Serentak 2024 memang masih jauh. Tetapi dinamika politik di NTB sudah mulai hangat.

Terbaru di kalangan elite politik muncul narasi politik “Sasak Bersatu”.

Narasi ini cukup berhasil memicu diskusi kelas warung kopi. Lalu menebak siapa figur yang tepat mengisi narasi itu.

Dari informasi yang dihimpun Lombok Post narasi ini belakangan mengkristal ke dua nama yang ingin dipasangkan. Mantan Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT dan Bupati Lombok Timur Sukiman Azmy.

“Iya saya mendengar memang diskusi-diskusi tentang ‘Sasak Bersatu’ itu,” kata Pengamat Politik UIN Mataram Ihsan Hamid, kemarin (20/3).

Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu lantas memaparkan analisanya mengapa dua tokoh itu dianggap sebagai figur yang tepat untuk narasi “Sasak Bersatu”.

Pertama, isu narasi Sasak Bersatu ini memang manis dan sukses memprovokasi banyak kalangan berdiskusi.

“Sebenarnya kepemimpinan Zul ini ada yang menganggap cukup satu periode saja, bisa kita baca dari isu sebelumnya yang mendong agar Zul-Rohmi pecah kongsi,” ujarnya.

Isu Zul-Rohmi pecah kongsi secara tidak langsung mengonfirmasi keengganan sejumlah tokoh politik — termasuk internal NWDI — agar Zul jangan lagi menjadi Gubernur NTB.

“Sehingga dimunculkanlah Rohmi,” ujarnya.

Namun dalam pengamatan politik, Rohmi dianggap akan sulit mengalahkan Zul bila head to head  di Pilgub. Bahkan keduanya berpeluang sama-sama kalah bila pecah melawan paket yang muncul nantinya di luar mereka.

“Kedua-keduanya bisa kalah kalau pisah,” ujarnya.

Karenanya, Zul-Rohmi Jilid 2 kembali digaungkan karena isu pecah kongsi dianggap tidak produktif. “Riak-riak internal yang ingin pecah kongsi mulai berkurang,” imbuhnya.

Kedua, Ihsan melihat direbutnya seluruh posisi AKD oleh Oposisi di DPRD NTB sebagai sinyal awal saja.

“Kalau saya lihat itu baru permulaan. Oposisi sepertinya tengah memantik api untuk memisahkan kekuatan dengan Zul,” ulasnya.

Baca Juga :  HM Taufik Tawarkan Kenyamanan untuk Mohan

Api polarisasi politik perlu dinyalakan secepatnya, untuk memastikan “nyalanya” semakin besar dan kuat hingga Pilkada Serentak 2024.

“Dan sekarang dianggap Oposisi waktu yang tepat untuk menyalakannya dan punya momentum pas,” imbuhnya.

Bara politik antara oposisi dengan pemerintah akan terus dipelihara sampai Pemilihan Gubernur 2024. “Tidak boleh padam, karena kalau padam bisa gagal membangun kelompok politik,” ulasnya.

Maka antara isu “Sasak Bersatu” dengan AKD yang dikuasai di DPRD NTB oleh Oposisi dilihat sebagai satu nafas dalam misi politiknya.

“pemantik isu ‘Sasak Bersatu’ dengan AKD di DPRD bisa jadi kelompok yang sama atau bisa saja berbeda, tetapi kalau dua isu ini berkolaborasi jadi satu, maka warning serius bagi Zul,” ulasnya.

Ketiga, muncul pertanyaan siapa tokoh yang dianggap layak diusung mengisi narasi ‘Sasak Bersatu’?

Pengajar Ilmu politik itu mengatakan, sejauh ini memang tidak ada nama figur yang terus hangat dibahas kecuali dua nama: Suhaili dan Sukiman.

“Kalau Ahyar saya kira sudah mulai meredup, Mohan belum saatnya, siapa lagi? Fauzan malah bergabung dalam satu gerbong dengan Rohmi yang artinya kecil kemungkinannya diusung lewat NasDem, Pathul juga saya pikir akan tetap di Lombok Tengah,” ulasnya.

Suhaili sekalipun sudah tidak menjabat sebagai Bupati namun memiliki basis massa yang riil. “Selama kepemimpinannya, Suhaili tidak hanya sukses sebagai pemimpin politik, tetapi juga sukses menanamkan ‘rasa’. Sehingga wajar bila banyak warga Lombok Tengah masih terbayang-bayang kepemimpinan Suhaili,” ulasnya.

Terlebih Ihsan melihat pasangan Bupati dan Wakil Bupati Lombok Tengah HL Pathul Bahri-HM Nursiah merupakan produk politik Yayasan Attohitiyah Alfadiliyah (Yatofa), Bodak. Yang artinya, dapat digerakkan sewaktu-waktu untuk kepentingan politik Bodak.

“Bisalah kita bilang, Suhaili punya orang di pemerintahan, sehingga bisa dapat mengendalikan sumber logistik terbesar lewat APBD,” nilainya.

Baca Juga :  Pemkab Loteng Siapkan Perbup Hadapi New Normal

Sedangkan Sukiman, sekalipun tidak memiliki basis massa yang riil, namun saat ini posisinya sebagai Bupati memberinya akses yang kuat pada sumber logistik di APBD Lombok Timur.

“Belum lagi Sukiman itu berasal dari wilayah dengan pemilih atau DPT terbesar di NTB,” ulasnya.

Maka bila paket Suhaili-Sukiman terbentuk maka keduanya bisa saling mengisi kekurangan. Sekaligus menjadi kekuatan politik yang sangat besar.

“Terserah mau Suhaili-Sukiman atau Sukiman-Suhaili, kalau itu tergantung di komunikasi politik mereka,” ujarnya.

Keempat, Ihsan melihat secara historis politik antara Sukiman dan Suhaili dianggap tidak memiliki resistensi politik yang tinggi untuk dipersatukan.

“Sehingga akan menyulitkan lawan politiknya, mencari celah memisahkan mereka. Ini saya pikir yang paling penting diantisipasi serangan dari dalam. Karena kalau lawan melihat paket ini sangat kuat, cara paling ampuh untuk mengalahkannya adalah dengan membuat mereka jangan sampai bersatu,” ulasnya.

Narasi Sasak Bersatu ini akan semakin nendang bila hanya dua paket yang bertarung di Pilgub 2024 nanti.

“Lawan Zul-Rohmi hanya satu pasangan atau maksimal dua pasangan-lah. Karena kalau kita lihat pada Pilgub 2018 lalu, dengan empat pasangan terbukti suara Sasak terbagi-bagi jadi kecil,” ulasnya.

Sementara itu, sebelumnya Bupati Sukiman pernah menyatakan kesiapannya untuk tampil di Pilgub 2024.

“Kalau partai (Demokrat) memerintahkan, maka harus siap,” katanya saat itu.

Seperti diketahui Sukiman saat ini telah mengantongi KTA Demokrat. Sekalipun gagal menjadi Ketua DPD Demokrat NTB namun posisinya sebagai Ketua MPD Partai Demokrat NTB, tetap membuka peluangnya diusung Demokrat.

Sementara Suhaili belum mengungkapkan kembali kesediaannya tampil di Pilgub. Namun Bupati Lombok Tengah dua periode itu, terpantau sangat intens turun ke tengah masyakat melalui panggung-panggung dakwah. (zad/R2)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/