alexametrics
Rabu, 21 April 2021
Rabu, 21 April 2021

Musda Golkar NTB, Pengamat: Tidak Mudah Mendongkel Suhaili

MATARAM-Usai penyerahan SK Plt DPD Golkar NTB ke Gde Sumarjaya Linggih atau Demer, dinamika politik internal partai Golkar NTB bergejolak hebat.

Drama politik di balik layar, semakin mengharu-biru dengan manuver politik sejumlah tokoh yang ingin menggolkan jagoannya.

Orasi Wakil Bendahara Umum, DPP Partai Golkar Hj Sari Yuliati di podium penyerahan SK Plt, diprediksi tidak akan berhasil mendikte pemilik suara.

“Saya kira pemilik suara, sudah terbiasa ditekan secara politik,” kata pengamat politik UIN Mataram Ihsan Hamid, Selasa (23/2/2021).

Sebelumnya, Sari sempat menebar peringatan yang bernada ancaman akan meninggalkan kader yang tidak mau tegak lurus terhadap perintah partai. Tetapi ancaman Sari dinilai tidak sebagai penyampai kabar atau penyambung lidah DPP.

Anggota DPR RI Dapil Lombok itu dicurigai membawa misi politik menyukseskan salah satu figur. Langkahnya menebar peringatan dianggap sebagai upaya mengintervensi dukungan politik pemilik suara.

Sebagai gambaran, total sebanyak 15 suara yang akan diperebutkan dalam Musda Golkar NTB, 2 Maret Mendatang.

15 suara itu terdiri dari: 1 suara DPD Golkar NTB, 1 suara DPP Golkar, 10 suara DPD kabupaten/kota, 1 suara dewan pertimbangan Golkar NTB, 1 suara dari organisasi yang didirikan (AMPG dan KPPG), 1 suara organisasi mendirikan (SOKSI, MKGR, Kosgoro).

Sebanyak 9 Suara DPD kabupaten/kota kabarnya mendukung Suhaili. Satu suara DPD Kota Mataram mengarah ke H Mohan Roliskana. 1 suara DPP diklaim H Ahyar Abduh.

Sedangkan sisanya, belum diketahui. Baik organisasi yang tergabung dalam organisasi pendiri dan organisasi yang didirikan belum satu suara mendukung siapa.

Bila mengacu syarat pendaftaran, calon ketua harus minimal didukung 30 persen dari total pemilik suara. Maka dengan peta dukungan sementara saat ini, baru hanya Suhaili yang di atas kertas memenuhi syarat.

“Kecuali ada yang dapat diskresi ketua umum. Dengan peta seperti ini saya kira tidak mudah mengalahkan Suhaili,” yakinnya.

Peringatan yang ditebar Sari memang tidak eksplisit ditujukan kepada siapa. Tetapi jika peringatan itu, dimaksudkan mendikte pilihan pemilik suara agar mendukung figur tertentu, maka itu dianggap langkah keliru.

“Seperti bola karet semakin ditekan, semakin mantul, politisi Golkar itu sudah kenyang dengan tekanan-tekanan semacam itu,” ujarnya.

Ihsan melihat, ancaman itu berpotensi blunder. “Budaya Golkar itu berdiplomasi, bukan mengancam, jika memulai saja dengan menebar ancaman bisa-bisa para pemilik suara semakin sulit diubah pendiriannya,” katanya.

Lebih-lebih para pemilik suara tahu, peran Sari hanya sebagai penyambung suara DPP. Ancamannya dianggap tidak akan berbuah persoalan serius sekalipun Sari menggunakan diksi ‘meninggalkan’ yang tidak mau seirama dengannya.

“Kalau mau memecat DPD kabupaten/kota yang tidak sejalan misalnya, kan tidak semudah itu. Golkar sekarang berbeda loh, yang sekarang ini taat asas, tidak mungkin mereka akan dipecat hanya karena berseberangan dengan Sari,” ulasnya.

Karenanya, jika Musda digelar saat ini, Ihsan meyakini Suhaili masih unggul.

“Sekalipun misalnya, ini misalnya ya, Sari dan Demer menginginkan yang lain,” ujarnya.

Sari dan Demer saat ini memang terlihat sebagai ‘orangnya’ DPP yang dikirim menyelesaikan kepemimpinan Golkar di NTB. “Tetapi mereka juga bukan satu-satunya, masih banyak pintu lain di DPP untuk memuluskan kepentingan politik,” tegasnya.

Salah satu pintu itu bisa dimasuki Suhaili. “Dan ini harus diwaspadai pula oleh Ahyar dan Mohan, ingat loh Suhaili itu 5 tahun memimpin Golkar NTB dan berkomunikasi intens dengan DPP, jangan pandang remeh,” ujarnya.

Bagi Ihsan, lobi-lobi di DPP tetaplah tentang ‘proposal’ yang paling menjanjikan bagi kepentingan nasional Golkar. “Sampai saat ini, saya masih konsisten meyakini DPP Golkar pasti menginginkan kader yang siap dicalonkan sebagai Gubernur NTB di tahun 2024,” tegasnya.

Selanjutnya, tinggal melihat di antara kandidat yang muncul siapa yang paling siap maju pencalonan Gubernur. “Kalau yang sudah terbukti tampil walaupun gagal kan baru Suhaili dan Ahyar saja,” ulasnya.

Ihsan berkeyakinan, keduanya pasti sangat siap untuk tampil lagi di 2024.

Sementara itu, terkait diskresi Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto untuk Musda Golkar NTB sampai dengan kemarin belum ada. “Belum, belum ada,” kata Demer.

Diskresi atau semacam kebebasan yang diberikan ketua umum, memungkinkan figur tertentu dapat mencalonkan diri. Sekalipun secara syarat administratif tidak memenuhi. “Bisa jadi (keluar di menit terakhir), bisa jadi juga tidak ada,” ujarnya. (zad/r2)

 

 

 

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks