alexametrics
Selasa, 9 Agustus 2022
Selasa, 9 Agustus 2022

Mungkinkah, Ahyar Abduh Lompat ke Gerindra?

MATARAM–Panggung politik H Ahyar Abduh di ambang usai. Pada pertengahan Februari mendatang, wali kota dua periode itu akan melepas jabatan prestisiusnya sebagai Wali Kota Mataram.

Di sisi lain, Ahyar terlihat tidak ingin kehilangan panggung politik. Upaya kerasnya merebut kursi Ketua DPD Golkar Provinsi NTB, menggambarkan politisi senior itu ingin berkiprah panjang melalui panggung politik.

Tetapi upaya kerasnya, dibalas rivalitas yang tinggi antar kader. “Saya melihat secercah harapan di Pak Mohan (H Mohan Roliskana, Red) dan Ibu Isvie (Hj Baiq Isvie Rupaeda) sebagai calon kuat yang akan memimpin Golkar NTB,” kata Pengamat Politik UIN Mataram, Dr Kadri.

Nama Ahyar dan Suhaili justru disebut meredup. Sekalipun keduanya pernah diprediksi sebagai kandidat kuat nakhoda Golkar NTB.

Meredupnya keduanya, tidak lepas dari ‘habitat’ Golkar yang disebut tidak bisa jauh dari kursi kekuasaan. Sementara Ahyar dan Suhaili sama-sama akan selesai sebagai kepala daerah.

Baca Juga :  Musda Golkar NTB Berpeluang Digelar di Jakarta

Lantas jika prediksi ini benar, ke mana Ahyar akan menaungi gairah politiknya? Mungkinkah Ahyar melompat ke Gerindra? Mengingat keterpilihan H Ridwan Hidayat, sebagai ketua DPD Gerindra NTB  — kakak kandung Ahyar — tidak lepas dari campur tangannya?

“Saya pikir tidak, beliau politisi Golkar yang sudah lama berkarir di sana,” kata politisi Gerindra NTB, Mori Hanafi, menanggapi kemungkinan mantan pasangannya di Pilgub 2018 lalu, melompat ke Gerindra.

Anggota Penasihat DPD Gerindra NTB itu tahu persis bagaimana peran Ahyar menyukseskan Ridwan duduk di kursi Ketua DPD Gerindra NTB menggantikan Wilgo Zainar, kala itu.

Seperti diketahui, pergantian itu terjadi saat momentum Pilbup 2018, di mana Ahyar dan Mori berpasangan dan menggunakan Gerindra NTB untuk bertarung di Pilgub 2018.

Sekalipun Ahyar disebut sebagai dedengkot Golkar NTB, tetapi banyak yang memaknai langkah Ahyar menggunakan Gerindra kala itu sebagai bentuk perlawanan terhadap perintah partai.

Baca Juga :  Program Industrialisasi Mulai Tampak

Mengingat yang mendapat SK dan B.1-KWK Golkar kala itu adalah HM Suhaili FT-H Muhammad Amin. Kekaderan dan loyalitas Ahyar dipertanyakan, karena tidak patuh dan taat.

Lantas apakah pada situasi butuh panggung politik, Ahyar masih akan mempertahankan idealisme kekaderannya di Golkar, jika di partai lain ada peluang? “Saya kira beliau punya komitmen dan pendirian yang teguh (untuk tetap jadi kader Golkar), dan belum ada juga kabar seperti itu (Ahyar pindah ke Gerindra),” tepis Wakil Ketua DPRD NTB itu.

Mori masih melandaskan keyakinannya pada karir politik yang dibangun Ahyar selama ini. Semua berawal dari partai berlambang pohon beringin itu.

Termasuk posisinya sebagai Wali Kota dua periode. Sekalipun tak bisa dipungkiri pada Pilwali 2015 silam, Ahyar ‘membuang’ Golkar untuk mempertahankan peluang bertanding. “Kalau lihat karir beliau, saya sangat yakin beliau tidak akan pindah,” pungkasnya. (zad/r2)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/