alexametrics
Jumat, 27 November 2020
Jumat, 27 November 2020

Ngopi Bareng Aqi: Cetak 5 Ribu Pengusaha Hadapi Resesi

MATARAM-Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) Inka melihat, banyak milenial masih apatis melihat politik. “Politik dianggap banyak setannya, biang kebohongan, dan kelicikan,” katanya, dalam acara Milenial Talk: Ngopi bareng Aqi, Jumat (23/10/2020)

Pandangan ini kata Inka, turut dipopulerkan pemikir politik dunia. “Niccolo Machiavelli,” sebutnya.

Dalam pandangan Machiavelli politik identik dengan kebuasan. “Itu dalam bukunya Il Principe, dia mengatakan penguasa itu harus mengadopsi sifat Singa,” tuturnya.

Selayaknya sifat Singa, identik dengan buas, ganas, dan menggertak. Maka penguasa harus cerdik, licik, licin, dan kadang tangan besi. “Jadi kedengarannya ngeri kan?” celetuknya.

Ideologi atau pandangan politik ini rupanya banyak muncul di benak generasi milenial. Sehingga tidak sedikit memilih menghindar sampai tidak mau tahu tentang politik. “Padahal politik itu menentukan maju atau mundurnya sebuah negara,” tegasnya.

Lebih lanjut Inka mengatakan, persepsi tentang politik sebenarnya tergantung bagaimana setiap orang memaknai. Namun hal yang fundamental dan tidak bisa dihindari generasi milenial mau tidak mau akan menjadi penyambung estafet pembangunan bangsa. “Dan harus  berpolitik,” ulasnya.

Menurutnya  politik tergantung siapa yang berkuasa. Sementara penguasa yang duduk di pemerintahan tergantung kepedulian orang-orang baik memilih pemimpin. “Sangat disayangkan bila milenial tidak menggunakan hak suaranya yang dilindungi Undang-Undang untuk memilih pemimpin yang baik,” imbuh dosen Ilmu Pemerintahan itu.

Pemimpin yang buruk dapat akhir dari keputusan milenial tidak mau tahu dengan politik. Lahirnya pemimpin penindas, mementingkan kepentingan diri-sendiri dan kelompoknya, dan tidak peduli pada rakyat. “Maka milenial harus melek politik, dalami gagasan para calon mana yang terbaik diantara pilihan yang ada, demi tongkat estafet kepemimpinan lebih baik,” pungkasnya.

Nara sumber diskusi, H Baihaqi mengatakan, milenial tidak bisa sekadar melek politik. “Tetapi harus melihat, mencermati, dan menganalisa gagasan,” imbuh calon wali kota Mataram nomor urut 4 itu.

Sebagai pelaku politik, Aqi menawarkan gagasan membangun Kota Mataram yang lebih progresif.  Gagasan itu diyakini dapat menyelamatkan Kota Mataram dari jurang resesi ekonomi.

Penyebab resesi tidak lepas dari munculnya Pandemi Covid-19. “Teman-teman mau percaya wabah ini ada atau tidak, itu terserah analisa masing-masing, tetapi yang tidak bisa kita hindari resesi ini akan terjadi,” ulasnya.

Beberapa analisa menyebut resesi akan berakibat pada goncangnya ekonomi negara. “Ada yang bilang resesi ini akan lebih dahsyat dari krisis 1998,” tuturnya.

Namun saat itu Indonesia berhasil selamat dan kembali bangkit, karena ditopang ekonomi kerakyatan. “Maka menghadapi nanti mari kita berpikir terobosan apa yang perlu kita buat di kota,” tantangnya.

Aqi lantas menawarkan menjadikan Mataram sebagai pusat enterpreneur. “Mataram Bisnis Center,” sebutnya.

Gagasan ini berangkat dari pengalaman bangsa menghadapi krisis 1998. Saat itu para wiraswata berkontribusi besar menyelamatkan bangsa dari krisis. “Maka kita perlu melakukan penguatan yang serupa menghadapi resesi nanti,” ujarnya.

Ekonomi Kota Mataram lanjut Aqi belakangan melorot signifikan. “Dari 8,2 persen menjadi 4,7 persen,” terangnya.

Penyebab pertama karena bencana gempa bumi lalu. “Tetapi kita bisa recovery dengan cepat karena kita dapat banyak bantuan dari daerah lain, seperti Jawa, Bali, Jakarta, dan daerah lainnya,” tuturnya.

Sementara pandemi juga telah berakibat pada rapuhnya ekonomi bangsa. Maka untuk menghadapinya tidak bisa dengan menunggu bantuan dari daerah lain. “Resesi ini terjadi secara nasional, setiap daerah tentu akan sibuk menyelesaikan persoalan daerahnya,” ulasnya.

Karena itu Aqi optimis penguatan UMKM akan jadi solusi jitu. “Kita harus cetak pengusaha baru dan melahirkan banyak lapangan pekerjaan,” katanya.

Jika H Baihaqi-Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi (BARU) terpilih sebagai kepala daerah, maka terobosan pertama yang akan dibuat yakni mendorong lahirnya 5 ribu pengusaha baru di bidang UMKM. “Target kita pengusaha baru itu dari kalangan milenial,” ulasnya.

Dalam satu kelurahan ditarget 100 pengusaha UMKM. “Jika satu UMKM saja dapat merekrut 10 orang, maka kita sudah bisa ciptakan 50 ribu lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Pria berlatar arsitek itu optimis 50 ribu lapangan pekerjaan bisa menjadi solusi bagi 9,6 persen angka kemiskinan di Kota Mataram. “Kalau 9,6 persen itu sekitar 42 ribu orang, saya kira sudah bisa ditutupi dengan 50 ribu pekerjaan itu,” tegasnya.

Mengapa harus milenial yang disasar? “Ya karena mereka yang masih segar dan punya motivasi tinggi dalam bekerja,” pungkasnya. (zad/adv)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mandiri Syariah Launching Fitur E-mas di Mandiri Syariah Mobile

Berdasarkan tren dan kebutuhan customer tersebut, kami melakukan inovasi produk layanan digital berbasis emas melalui fitur e-mas di MSM,” jelas Syafii.

Rumah Ditandai, Ratusan Penerima PKH Mendadak Mengaku Mampu

Langkah yang dilakukan Dinas Sosial Kota Mataram cukup ampuh untuk memverifikasi data penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Setelah melakukan labelisasi di rumah warga penerima PKH, ratusan warga mendadak menyatakan diri sebagai keluarga mampu alias memutuskan keluar dari program PKH.

Makmur : Warga Mataram Pemilih Cerdas

Kritik terhadap jalannya debat Pilkada Kota Mataram yang telah terlaksana dua kali datang dari sejumlah pihak. Banyak yang menilai debat monoton, datar bahkan ada yang mensinyalir debat sebagai sebuah konspirasi.

Ini Dia Morikai, Masker Wajah dari Daun Kelor Bikin Wajah Kinclong

Nurul Rahmadani begitu kreatif. Perempuan jebolan Agri Bisnis Universtas Mataram ini memanfaatkan daun kelor sebagai bahan kosmetik. Terutama masker wajah.

Peluang Raih Hati Pemilih Mataram di Debat Terakhir

Sejauh ini, beberapa lembaga survei mengunggulkan H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (Harum). Elektabilitas pasangan ini disebut jauh meninggalkan tiga pasangan lain.

HARUM Buka Ruang Kreatif untuk Pemuda MATARAM

Gelombang revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan fundamental pada berbagai tatanan kehidupan global. Hal ini ditandai dengan semakin berkembangnya kreativitas dan inovasi berbasis pemanfaatan teknologi informasi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Kisah Sukses Juragan Lobster NTB : Sekali Panen Rp 1 Miliar

Budi daya lobster sungguh menjanjikan. Inilah hikayat mereka-mereka yang hidupnya berbalik 180 derajat karena lobster. Sekali panen, ratusan juta hingga Rp 1 miliar bisa...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Rumah Ditandai, Ratusan Penerima PKH Mendadak Mengaku Mampu

Langkah yang dilakukan Dinas Sosial Kota Mataram cukup ampuh untuk memverifikasi data penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Setelah melakukan labelisasi di rumah warga penerima PKH, ratusan warga mendadak menyatakan diri sebagai keluarga mampu alias memutuskan keluar dari program PKH.

Akta Kelahiran Anak Kini Bisa Dibuat tanpa Buku Nikah

Akta kelahiran anak kini bisa dibuat tanpa melampirkan buku nikah atau akta nikah orang tua. “Sekarang ada namanya SPTJM (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak) pernikahan sebagai syarat buat akta kelahiran,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kota Mataram Chairul Anwar.
Enable Notifications    OK No thanks