LombokPost--Memasuki masa kampanye Pemilu 2024, Menteri Agama (Menag) RI KH Yaqut Cholil Qoumas meminta para elite politik untuk menghormati kesakralan ajaran agama. Bentuknya engan tidak menjadikannya sebagai bahan lelucon atau guyonan dalam berbagai kegiatan politik.
“Sebenarnya guyonan soal agama, itu kan sering dilakukan ya, banyaklah kalau mau browsing atau kita lihat di YouTube gitu misalnya ya, menggunakan agama sebagai bahan guyonan, nah saya sih kira kalau bisa dihindari, jangan menjadikan agama sebagai guyonan,” terangnya, usai hadir di acara pengukuhan 2.302 Relawan Moderasi Beragama lingkup Kanwil Kemenag NTB dan Deklarasi Pemilu Damai 2024, di lapangan Sangkareang, Mataram, kemarin (26/12).
Penekan perihal tersebut harus disampaikan kepada peserta Pemilu 2024. Lantaran guyonan soal agama beberapa kali menggemparkan publik. Belum lama ini, candaan tersebut dilontarkan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan.
Saat itu, Zulhas menjadi pembicara dalam rapat kerja nasional Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Dalam pidatonya, ia menyinggung ada orang yang memilih diam, dan tidak menyebutkan amin usai imam membacakan surat Al-Fatihah saat Salat.
Bahkan gerakan Salat, dijadikan candaan oleh Zulhas, dengan mengatakan bahwa saat tahiyat di gerakan Salat, ada yang mengangkat dua jari. Ini dianalogikan sebagai bentuk kesetiaan mendukung paslon Prabowo-Gibran. Padahal sesuai ketentuan agama, harusnya mengangkat satu jari telunjuk saja. Alhasil, masyarakat dibuat heboh.
Kemudian, beredar potongan video capres nomor urut 1 Anies Baswedan dan ulama kondang Ustadz Abdul Somad (UAS). Itu terjadi saat mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut melakukan lawatan ke Riau.
Video itu juga ramai menjadi perdebatan di kalangan netizen, karena yang menarik perhatian adalah ketika keduanya membahas soal perubahan sikap jamaah Salat yang enggan mengucap amin setelah imam membaca surat Al-fatihah.
Dari peristiwa itu menjadikan agama sebagai bahan candaan, atau dijadikan alat politik, tentu akan memantik bahkan meningkatkan sensitivitas publik secara luas, apalagi Indonesia saat ini berada di situasi tahun politik.
“Tetapi memang kadang-kadang itu akan menjadi ramai kalau ketemu momentum politik, seperti ini digoreng-goreng. Itu dulu yang guyon-guyon soal agama itu, ndak ketemu momentum politik juga ndak apa-apa, sekarang kan rebut karena ketemu momentum politik,” jelas pria kelahiran 1975 tersebut.
Karenanya, pria yang akrab disapa Gus Yaqut ini dengan tegas menekankan, kepada semua pihak, siapapun itu agar guyonan yang menyinggung perihal agama tidak boleh dibiasakan, jangan diulangi lagi, bahkan sudah saatnya candaan yang tidak elok tersebut harus dihentikan.
“Saya kira sudahlah, sudahi gitu, baik menggunakan agama sebagai alat politik, bahkan menggunakan agama sebagai bahan candaan atau apapun jangan, sudah berhenti, yang sudah ya sudah, jangan diulangi, ndak perlu sampai tuntat-tuntut tuntat-tuntut,” tegas dia.
Di kesempatan itu, Gus Yaqut juga turut mengapresiasi pengukuhan 2.302 relawan moderasi beragama yang digagas Kanwil Kemenag NTB. Ini merupakan inovasi yang harus ditiru oleh seluruh Kanwil Kemenag se-Indonesia.
“Menurut saya ini luar biasa, ini bagus sekali bagaimana mendorong partisipasi masyarakat agar mereka ikut terlibat isu-isu moderasi beragama, karena moderasi ini menolak keekstreman, baik ekstrem kanan dan kiri dan mengajak orang kembali ke tengah,” tandasnya.
Sementara itu, Pj Sekda NTB H Fathurrahman mengajak semua pihak untuk menjaga jalannya Pemilu 2024 agar tetap damai, aman, kondusif, dan nyaman dalam proses berdemokrasi.
“Pemilu merupakan tonggak demokrasi yang harus kita hadapi dengan penuh kedewasaan, dan penuh tanggung jawab,” terangnya.
Semua pihak harus bersama-sama berkomitmen untuk memelihara ketenangan dan menjaga ketertiban. Dalam situasi politik dan sosial yang kompleks, sebisa mungkin semua pihak diharapkan tidak boleh bahkan harus menghindari konflik dan kerusuhan yang mungkin timbul selama Pemilu 2024.
“Penting bagi kita semua untuk memahami bahwa perbedaan pandangan politik, tidak boleh merusak kerukunan yang telah kita bangun bersama,” ujarnya.
Sejatinya, Pemilu adalah momentum untuk menyuarakan pilihan, bukan menjadi ajang konfrontasi atau permusuhan. Tunjukkan bahwa masyarakat saat ini sudah cerdas dan bijaksana serta penuh hormat terhadap perbedaan.
“Jadikan pemilu ini sebagai panggung persatuan, bukan sebagai panggung perpecahan. Karenanya saya mengajak seluruh masyarakat NTB, saling mendukung mewujudkan pemilu yang aman, damai dan harmonis,” pungkasnya. (yun/r2)
Editor : Redaksi Lombok Post