alexametrics
Sabtu, 18 September 2021
Sabtu, 18 September 2021

Kekurangan Oksigen, RSUD Praya Tunda Operasi Pasien

PRAYA–Rumah Sakit Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya Lombok Tengah, menjadi salah satu rumah sakit milik pemerintah yang terang-terangan mengeluarkan Surat Edaran terkait penundaan operasi pasien yang sudah terjdwal imbas kekurangan oksigen.

Surat Edaran Nomor 445.6/DIR/984/RSUDP/2021 terbit kemarin (2/8). Isinya mengumumkan tentang penundaan pelaksanaan tindakan operasi elektif, atau operasi yang terprogram. Penundaan berlaku selama tiga hari ke depan dan akan dievaluasi kembali, dan sangat bergantung pada kondisi stok oksigen di rumah sakit.

Humas Covid-19 RSUD Praya dr Yudha Permana pada Lombok Post, kemarin mengatakan, stok osigen medis di rumah sakit tersisa tinggal satu ton saja. Sedangkan di tabung ukuran 40 kilogram tersisa 10 tabung. Diperkirakan stok oksigen medis tersebut habis kemarin dengan penggunaan normal.

“Sehingga kami mengeluarkan kebijakan seperti dalam Surat Edaran,” katanya.

Kendati demikian, dia menjamin, operasi yang sifat darurat atau cyto tetap dijalankan. Pilihan lain yang dilakukan pihaknya adalah mengurangi penerimaan pasien rawat jalan setiap harinya. Kemudian meniadakan jam kunjungan pasien.

Dikatakan, kalau kondisinya sudah normal, maka pelayanan kesehatan dikembalikan seperti biasa. “Kelangkaan oksigen ini akibat lonjakan pasien Covid-19 di sejumlah kabupaten/kota di NTB, bahkan Indonesia,” kata dr Yudha.

Di RSUD Praya sendiri, kemarin, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat sebanyak 38 orang. Tingkat ketersisian tempat tidur untuk pasien Covid-19 secara keseluruhan masih 41 persen.

Ditegaskannya, untuk kebutuhan oksigen bagi pasien Covid-19 sendiri menyesuaikan kondisi kesehatan mereka masing-masing. Sehingga tidak semua memakai oksigen. Jadi, kata dr Yudha kelangkaan oksigen di RSUD Praya bukan karena kasus Covid-19. Melainkan murni kasus di tempat lain.

Dari informasi yang diserap Lombok Post, obat-obatan untuk pasien Covid-19 di rumah sakit berpelat merat itu juga ikut menipis. Misalnya Oseltamivir 75 mg, hanya tersisa 82 tablet, Favipiravir 200 mg 208 tablet, Azithromycin 500 grm 195 tablet dan Hidroxycloroquin tersisa 940 tablet.

Sementara itu, Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Loteng H Hasyim mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi untuk memastikan stok oksigen bisa terpenuhi.

“Kami melaporkan kekurangan oksigen setiap hari pukul 12.00 Wita,” katanya. Pelaporan dilakukan secara daring melalui aplikasi.

Dia berharap, pada malam hari, stok oksigen ada yang datang lagi. Dan tak hanya rumah sakit. Stok oksigen juga dibutuhkan di puskesmas-puskesmas di Lombok Tengah. Total ada di 28 puskesmas di daerah ini.

Salah satu konter pengisian oksigen UD 02 Oksigen Loteng, Irhamdi mengatakan, sudah seminggu ini stok oksigen di tempatnya kosong. Untuk isi ulang tabung oksigen ukuran 40 kilo dikenai tarif Rp 150 ribu per sekali isi. Kemudian tabung ukuran 10 kilo dikenai tarif Rp 90 ribu per kilo.

Sedangkan penyewaan tabung oksigen ukuran 40 kilo dikenai tarif sebesar Rp 2,5 juta. “Kekosongan stok ini akibat ketidakstabilan pabrik liquid oksigen di Kota Mataram,” kata Irhamdi, yang ditemui secara terpisah.

Pelanggan terbanyak, kata Irhamdi dari keluarga pasien di RSUD Praya. Sisanya keluarga pasien dari rumah sakit swasta dan klinik swasta. Rata-rata yang diisi tabung ukuran 10 kilo. Dia berharap sekali pasokan kembali normal. (dss/r6)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks