alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Pulang dari PON Papua, Atlet Futsal NTB Unjukrasa Tagih Janji KONI Loteng

PRAYA-Para atlet futsal dan keluarganya menggedor kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lombok Tengah, kemarin (7/10). Mereka menuntut dana insentif Rp 9 juta per orang atau per bulan sebesar Rp 1,5 juta per orang. Dana itu seharusnya diberikan saat berangkat menuju arena PON XX di Papua.

“Tapi sampai kami pulang ke daerah justru tidak ada sama sekali. Apa-apaan ini,” keluh salah satu atlet futsal Makrifatul Amri, kemarin (14/10).

Kedatangan mereka dijaga ketat personel Polres dan Satpol PP Loteng. Mereka diterima Bendahara KONI Loteng Faturrahman. Di hadapan mantan anggota DPRD Loteng tersebut, atlet menuntut pencairan dana insentif.

Jika tidak, mereka mengancam akan membawa masa yang lebih besar lagi. Bahkan akan membawa persoalan ini ranah hukum. Karena dianggap mengandung unsur penipuan. “Atau kalau tidak, mundur saja dari pengurus KONI. Kami minta KONI NTB mengevaluasi,” tegas Amri.

Baca Juga :  Persiapan PON Papua Jalan Terus, Atlet NTB Latihan Mandiri

Dijelaskan, jumlah atlet futsal yang ikut PON sendiri ada delapan orang dengan satu orang pelatih. Dana insentif itu dijanjikan dijatah untuk enam bulan. Kendati persoalan itu menimpa cabang olahraga futsal, namun para atlet berhasil mengharumkan nama daerah. Mereka berhasil meraih medali perunggu atau juara tiga.

Pantauan Lombok Post, masa aksi awalnya ingin melakukan penyegelan kantor KONI. Namun, para pengurus lainnya menghalau dan menghadang. Untungnya polisi dan satpol pp bergerak cepat. Jika tidak, kericuhan kedua belah pihak tidak bisa dihindari.

“Sedangkan untuk dana keberangkatan ke PON dari pemkab sudah kami terima. Sebesar Rp 4,4 juta per orang, tinggal dana yang dari KONI Loteng saja,” papar Amri.

Baca Juga :  Urung Ditiadakan, Bau Nyale di Loteng Digelar 3-4 Maret

Sementara itu, Bendahara KONI Loteng Faturrahman mengatakan, total anggaran khusus untuk cabor futsal sendiri sebesar Rp 135 juta. KONI kemudian membuat kebijakan agar dana sebesar itu dijadikan dana insentif atlet. Namun, dalam perjalanannya ada nama-nama baru dari atlet yang ikut PON. “Yang semula sembilan orang, menjadi 15 orang,” tandasnya.

Kondisi seperti itu membuat KONI mengubah kebijakan. Karena kalau dibagi tidak cukup. Lantaran karena ada kebutuhan konsumsi, transportasi dan penginapan di lokasi PON.

Kendati demikian, pihaknya berjanji akan mencarikan solusi terbaik. Salah satunya, mengusulkan kembali tambahan dana ke pemkab. KONI memastikan akan memperjuangkannya. Karena jangan sampai para atlet menjadi lemah dalam meraih prestasi. “Seperti itu jalan keluarnya,” pungkas Faturrahman. (dss/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/