alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Mengenal Sakti, Atlet Karate Loteng Berprestasi

Lalu Gede Mandala Neqmas Tanauran Sakti baru berusia 11 tahun. Namun di usia belianya atlet karate ini memiliki segudang prestasi. Seperti apa sosoknya.?

Dedi SS – Praya

==========================================

        Pagi itu, pukul 10.06 Wita, kemarin (10/3) Lombok Post, berkesempatan menyaksikan latihan para atlet Inkai di aula kantor Camat Pujut. Suasana panas menyegat, keringat bercucuran. Nyaris tak ada hembusan angin yang masuk di gedung itu. Itulah, yang terasa begitu melihat anak-anak usia dini, sedang bertarung.

        Latihannya cukup keras dan menantang. Mereka bertarung, saling tendang dan saling tinju. Kepala menjadi sasaran utama, karena bisa mendapatkan nilai lebih. Kalau lawan sampai terjatuh, maka nilainya semakin tinggi. Jadi, harus pintar-pintar menghindar dan menangkis setiap pukulan lawan.

        Agar tidak cedera, setiap atlet mengenakan pelindung kepala, pelindung perut dan pelindung dada. Tangan menggunakan sarung tinju, sedangkan kaki sepatu khusus karate. Kegiatan tersebut, sebagai upaya mempersiapkan diri mereka, bertanding dalam kejuaraan Inkai Kota Mataram Cup II se NTB.

        Dari sekian banyak anak-anak usia dini tersebut, satu diantaranya menggunakan sabuk hijau. Yang lain, masih menggunakan sabuk putih dan kuning. Namanya cukup panjang, Lalu Gede Mandala Neqmas Tanauran Sakti, lahir di Desa Katare 2 Juni 2008.

        Nama panggilannya Sakti, sesuai dengan namanya, anak ke empat dari Lalu Siaga dan Baiq Nurhidayati memang “sakti” kuat dan pemberani. Untuk mendapatkan sabuk hijau itu, tidak lah semudah yang dibayangkan, butuh proses panjang. Di Loteng, Sakti satu-satunya yang memegang dan menggunakan sabuk hijau, di usianya yang masih belia. Bukan karena, orang tuanya. Tapi, karena kemauan kerasnya.

        Kalau mau mencoba melawan Sakti, maka harus banyak menghindar. Karena, tendangannya bisa menempus kepala orang dewasa, begitu pula pukulan tangannya. Sakti merupakan, atlet terbaik kejuaraan Inkai Kota Mataram Cup I se NTB, yang digelar tahun lalu. Namanya, sudah tidak asing lagi di usianya.

        Di tingkat kabupaten, jangan ditanya lagi. Ia memiliki sederetan prestasi, sudah tidak terhitung berapa jumlahnya. Ia menekuni Inkai, sejak duduk di kelas III di SDN 1 Ketare, hingga sekarang kelas V. Kini, ia berada pada posisi puncak di usianya.

        Namun, Sakti merasa tidak berpuas diri. Ia masih ingin merebut sabuk biru, bahkan coklat. Untuk mendapatkannya, ia ingin menunjukkan prestasi di kejuaraan Inkai Kota Mataram Cup II, tahun ini lagi. “Saya berusaha menang,” cetus Sakti dengan nada polos.

        Saat ditanya, bagaimana persiapannya. Saksi dengan polos nya lagi menjawab, sudah berpengalaman. Karena, tahun lalu pernah ikut. “Insya Allah,” cetusnya lagi, sembari memperlihatkan cara memukul dan menendang lawan.

        Di Inkai sendiri, terdapat enam sabuk yang dilalui para karateka. Paling dasar sabuk putih, kemudian naik ke sabuk kuning, naik lagi ke sabuk hijau, sabuk biru dan sabuk coklat. Kemudian, naik lagi sabuk hitam hingga mendapat gelar guru besar. Untuk mendapatkannya, prosesnya bertahun-tahun.(*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Penyuntikan Vaksin Korona Untuk Warga Dimulai Januari 2021

Pemerintah telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dan mendapatkan vaksin untuk Covid-19 sebanyak 20 juta dosis. Rencananya, vaksin mulai didistribusikan pada Desember.

Kampung Sehat, Warga Desa Setanggor Semangat Gotong Royong

GAIRAH warga Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat sedang menggebu-gebu untuk mewujudkan lingkungan mereka yang bersih dan sehat. Karena itu, jangan heran manakala menemukan semangat gotong royong masyarakat di desa ini sangat tinggi.

Satu Gerakan, Warga Desa Kuripan Lawan Penyebaran Covid-19

Warga Desa Kuripan kian konsisten menerapkan protokol kesehatan. Apalagi setelah berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat kabupaten di lomba Kampung Sehat. Sederet inovasi pun telah disiapkan Desa Kuripan.

Simulasi KBM Tatap Muka SMA Sederajat di NTB Pekan Kedua Dimulai

Simulasi KBM tatap muka untuk SMA sederajat di NTB memasuki pekan kedua. ”Sambil kami tetap memantau perkembangan penyebaran Pandemi Virus Korona,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post, Minggu (20/9/2020).  

Mendikbud Pastikan Wacana Penghapusan Mapel Sejarah Hoaks

”Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” tegas dia.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.
Enable Notifications    Ok No thanks