alexametrics
Senin, 27 Juni 2022
Senin, 27 Juni 2022

Suntik untuk Cegah PMK, Peternak Loteng Keluarkan Rp 50 Ribu Per Sapi

PRAYA-Stok obat-obatan untuk sapi yang terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lombok Tengah sudah habis. Dinas pertanian (dispertan) setempat berharap Pemerintah Provinsi NTB dan pemerintah pusat membantu.

“Karena setiap kabupaten/kota membutuhkannya,” tandas Kepala Dispertan Loteng Taufikurrahman Pua Note, Jumat (20/5).

Obat-obatan, kata Arman, biasanya tersedia secara gratis di kantor Dispertan Loteng dan unit pelaksana teknis (UPT) dispertan di setiap kecamatan. Hanya saja, sejak ditemukannya sapi-sapi terinfeksi PMK 7 Mei lalu hingga sekarang stok habis.

Atas dasar itulah, para kelompok peternak mau tidak mau harus membeli sendiri. Kalau kebutuhan penyemprotan disinfektan untuk kandang aman, tidak kekurangan. Namun, harus dibarengi dengan menjaga kebersihan kandang.

Caranya, setiap hari kotoran-kotoran sapi dibersihkan. Termasuk sisa-sisa pakan ternak. Bila perlu, sapi-sapi ikut dibersihkan. Sehingga mampu mencegah penularan virus PMK. “Itu harus dijalankan secara rutin,” pesan Arman.

Baca Juga :  Loteng Tagih Dana Gempa, Rp 51,4 Miliar Belum Cair

Kendati demikian, pihaknya optimis dispertan mampu menekan penularan PMK. Data terakhir dari 608 ekor sapi yang terinfeksi PMK, 187 ekor sapi dinyatakan sembuh.

Dispertan berharap beberapa hari atau minggu kemudian seluruh sapi-sapi yang ada sembuh, sehat dan kuat. Agar tercapai, pihaknya menekankan bahwa, tugas itu harus dijalankan secara bersama-sama. Tidak bisa serta merta dijalankan dispertan. Melainkan, butuh bantuan pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan khususnya para peternak.

“Intinya, jangan panik. Hadapi persoalan yang ada dengan tenang,” saran mantan Sekretaris Dispertan Loteng tersebut.

Sementara itu, salah satu kelompok peternak sapi Tunas Urip di Dusun Pejongan, Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah Ipzal Khairi mengatakan, setiap kali penyuntikan sapi para peternak diminta mengeluarkan biaya sebesar Rp 50 ribu per sapi. Informasinya biaya itu untuk kebutuhan obat-obatan.

Baca Juga :  Libur Tahun Baru, Destinasi Wisata Loteng Ditutup Sementara untuk Warga Luar Daerah

“Saat ini, saya punya tiga ekor sapi. Berarti saya mengeluarkan biaya sebesar Rp 150 ribu per sekali suntik,” ujarnya.

Artinya, jika di kandang kelompok Tunas Urip terdapat 63 ekor sapi, kemudian dikalikan Rp 50 ribu per ekor, maka para peternak harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 3,1 juta.

Bagi Ipzal, biaya itu sangat memberatkan. Di satu sisi, peternak mulai khawatir akan mengelami kerugian lebih besar lagi. Di sisi lain, Dispertan Loteng, provinsi dan pusat seolah enggan membantu. “Seharusnya, mereka (pemerintag) ikut memberikan subsidi bantuan,” harapnya.

Menurut dia, pemerintah juga perlu, memikirkan bagaimana menggantikan sapi-sapi yang sudah mati. “Tolong kami dibantu. Tolong jangan kami dibiarkan jalan sendiri,” pungkasnya. (dss/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/