alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Cerita H Najamudin, Penyiar Radio 90-an

Namanya H Najamudin, lahir tahun 1972 silam. Dia pernah berurusan dengan aparat dimasa orde baru karena nekat mendirikan radio kampus, saat kuliah di Universitas Udayana Bali.

DEDI SS – Praya

================

Begitu menjadi mahasiswa FKIP, di UNUD Bali tahun 1992 silam. Suami dari Hj Dewi Lestiani ini langsung mendirikan radio kampus. Kala itu, dioperasikan dari kosnya. Uang belanja dan kebutuhan hidupnya, digunakan untuk membeli alat-alat radio. Nama radionya, Esek-esek.

Eits, tunggu dulu. Jangan cepat berpikir negatif. Diberi nama Radio Esek-esek  karena saat mencari siaran radio kampus yang dimaksud, yang muncul suara seperti gerimis hujan, tidak begitu terang. Di udara, dia dikenal dengan sebutan Oding. Setahun berkarir pada radio kampus, mantan aktivis ini diminta bekerja di radio Guntur FM Bali. Itu dilakoni hingga pertengahan 1997.

Di tempat itu, nama Oding semakin dikenal luas. Dari bergelut di dunia penyiaran tersebut, dia juga menemukan jodohnya yang sekarang menjadi istri tercinta. Diceritakannya, pada era itu, menjadi seorang jurnalis tidaklah mudah. Salah sedikit, maka siap-siap saja berurusan dengan aparat.

Bapak tiga orang anak itu sempat merasakannya. Radio kampus yang siaran 24 jam tersebut, terancam diberedel. Itu karena, menyiarkan kritikan kepada pemerintah. ”Untungnya, informasi itu bocor,” ujarnya.

Sontak beberapa mahasiswa yang ikut menjadi penyiar, bergegas merapikan alat-alat radio. Lalu, memindahkannya ke kampus yang kala itu agak jarang dimasuki aparat. Selamat, tak ada bukti yang bisa memberatkannya. Kendati demikian, suasana kala itu dikatakan cukup mencekam dan menakutkan.

Kondisi itu membuat siaran radio kampus di stop beberapa hari, menunggu waktu tenang. Itu hanyalah satu dari sejumlah lika-liku yang dirasakannya. Jika tak kuat mental, bisa-bisa mundur ditengah jalan.

Hal lain yang tak ditemukan pada penyiar saat ini adalah, harus menghafal posisi kaset. Begitu ada permintaan, tangan harus dengan cepat mencari. Entah lagu-lagu Indonesia, India, barat, maupun Malaysia. Berbeda dengan penyiar sekarang yang tinggal pencet layar. ”Kemudian 1996, saya di wisuda,” cetusnya.

Oding lantas diminta pulang ke kampung halaman. Kedua orang tua memintanya, menjadi guru. Namun, jiwa radionya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Alhasil, dia bergabung di Radio Hccandra pada akhir tahun 1997, hingga sekarang.

Di Hccandra yang sebelumnya berkantor di Mataram, kemudian pindah ke Narmada, Lombok Barat ini, namanya dikenal luas dengan sebutan Gus Ding. Kini, dia menjadi Direktur Penyiaran. ”Dulu, saya yang melatih dan membimbing penyiar-penyiar radio seluruh Loteng,” kata Gus Ding, yang sekarang mengabdi juga sebagai guru di MTsN 2 Loteng tersebut. (r9/*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks