alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

PMK Kian Meluas, tapi Bantuan Obat dari Pemprov NTB Sangat Minim

PRAYA-Penyebaran kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lombok Tengah terus meluas. Kini, menyebar di 108 desa/kelurahan dari total 139 desa/kelurahan. Penanganannya pun terkesan lamban lantaran Pemerintah Provinsi NTB seolah tidak mau tahu.

“Pernah kita diberikan bantuan obat-obatan oleh provinsi. Tapi sedikit sekali,” sindir Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Loteng Taufikurrahman Pua Note pada Lombok Post, Kamis (23/6).

Logikanya, kata Arman, yang terserang PMK itu ribuan ekor. Namun, yang disalurkan hanya 10 botol saja. “Mana cukup,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya meminta provinsi sebaiknya buka-bukaan menyangkut stok obat-obatan. Jika ada dan banyak, maka dispertan dan pemerintah desa siap membeli.

Tidak perlu dibantu. Kecuali, bantuan yang diberikan maksimal dan optimal. “Setelah bantuan yang sedikit itu diberikan. Sampai sekarang tidak ada lagi. Ingat sedikit,” sindirnya lagi.

Baca Juga :  Inspektorat Audit Enam Desa Bermasalah di Lombok Tengah

Dia menekankan, saat ini dispertan sangat membutuhkan obat-obatan. Karena itu menjadi satu-satunya senjata paling ampuh, guna mempercepat penanganan PMK.

Karena di satu sisi, penyebarannya terus meluas. Tinggal menyisakan 31 desa/kelurahan lagi yang aman dari PMK.

Namun, dispertan memperkirakan cepat atau lambat pasti terserang PMK. “Data terakhir jumlah kasus PMK di daerah kita sebanyak 12.313 ekor,” ujar Arman.

Terdiri dari 12.063 ekor sapi, 6.044 ekor diantaranya sudah sembuh dan 6.019 ekor masih sakit. Kemudian 177 ekor kerbau, 115 ekor diantaranya sembuh dan sisanya 62 ekor masih sakit. Berikutnya 73 ekor kambing, 42 ekor diantaranya sudah sembuh dan sisanya 31 ekor masih sakit.

Baca Juga :  Pemprov NTB Masih Hitung Royalti yang Harus Dibayar GTI Dalam Adendum

“Saat ini, kami juga terus berperang melawan PMK,” kata Kepala Desa (Kades) Lantan, Kecamatan Batukliang Utara Erwandi, terpisah.

Dia optimis, ternak-ternak yang terjangkit PMK sembuh total. Sejauh ini, kata mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tersebut, tidak ada sapi atau kambing yang dipotong paksa atau mati. Itu karena, pemerintah desa ikut bergerak masif dan simultan membantu para peternak.

Tidak saja menyediakan stok obat-obatan, tapi mengeluarkan imbauan dan peringatan. “Untuk penyemprotan disinfektan kandang pribadi maupun kelompok kita lakukan hampir setiap hari,” pungkas Erwandi. (dss/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/