alexametrics
Sabtu, 20 Agustus 2022
Sabtu, 20 Agustus 2022

Tak Punya Siswa dan Modal, l81 LKP di Lombok Tengah Tutup

PRAYA-Sebanyak 81 dari 129 lembaga kursus dan pelatihan (LKP) di Lombok Tengah (Loteng) sudah tutup. Penyebabnya tidak ada siswa yang mau belajar. Ditambah terbentur modal.

“Sekarang tinggal 48 LKP saja yang aktif,” kata Kabid Transmigrasi dan Peningkatan Kapasitas Tenaga Kerja (TPKTK) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Loteng H Hasyim, Kamis (24/2).

Itu disampaikannya, usai meninjau LKP Modes Kartini Muda di Desa Kopang Rembiga, Kecamatan Kopang. LKP tersebut bergerak di bidang menjahit. Hasyim berpesan agar LKP-LKP lain bisa belajar dari perjuangan LKP Modes Kartini Muda.“Mereka menerima anak didik dari semua kalangan,” katanya.

Bagi yang mampu dikenakan biaya. Sedangkan bagi yang tidak mampu, digratiskan. Baik dari warga miskin maupun anak yatim dan piatu. Bahkan mereka disiapkan tempat tidur, makan dan minum hingga gaji setiap bulan.

Baca Juga :  Tangani Kemiskinan, Pemkab Loteng Gelontorkan Rp 123 Miliar

Biaya operasional diperoleh dari hasil menjahit pakaian. Yang mengerjakannya tentu anak-anak didiknya. Mereka biasanya diberikan pelatihan satu hingga tiga bulan. Setelah itu, dipastikan mahir.

“LKP Modes Kartini Muda ini menjadi satu-satunya yang terbaik di Loteng,” sanjungnya.

Bahkan produk LKP Modes Kartini Muda sudah menembus pasar nasional dan beberapa negara di dunia. Kualitas menjahitnya tidak perlu diragukan lagi. Begitu pula anak-anak didiknya sudah banyak yang mandiri. “LKP Modes Kartini Muda ini juga satu dari 35 LKP yang sudah terakreditasi,” kata Hasyim.

Kepala LKP Modes Kartini Muda Tri Harianta bersyukur dan berterima kasih karena jajaran dari Disnakertrans Loteng datang berkunjung. “Sejak kami berdiri tahun 1991, baru kali ini Disnakertrans datang ke tempat kami ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Diterjang Banjir, Tembok MTsN 3 Loteng Roboh

Bupati HL Pathul Bahri dan Wakil Bupati HM Nursiah sudah beberapa kali. Begitu pula, pejabat Pemerintah Provinsi NTB hingga kabupaten/kota di NTB dan Indonesia hingga sejumlah negara. Mereka biasanya datang memesan kain songket yang sudah tersedia lengkap.

Setelah itu diukur kemudian dijahit. Beberapa hari atau minggu kemudian, jadi dan sudah siap pakai. “Harga termahal di tempat kami Rp 7 juta. Itu untuk satu baju saja,” papar Tri.

Harga itu tentunya sesuai dengan kualitas kain dan cara menjahit yang rumit. Dipastikan bisa bertahan lama. (dss/r1)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/