alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Buah Melon Desa Kateng Masuk Ritel Modern, Pemesan dari Bali dan Jawa

Sudah lima tahun para petani Desa Kateng menanam buah-buahan jenis golden melon. Luas areal tanam mencapai tiga hektare. Hasilnya sangat memuaskan.

 

Dedi Shopan Shopian, Lombok Tengah

 

Total luas lahan pertanian di Desa Kateng mencapai 1.500 ha. Dalam setahun para petani di desa itu menanam padi. Itu saat musim hujan saja. Begitu musim kemarau, ada yang menanam tembakau, semangka, jagung, kedelai, bawang merah, kacang tanah, sayur-mayur dan tentunya golden melon.

Hanya saja, tidak semua petani menanam golden melon. Namun, bukan karena mereka tidak berminat, tidak ada pengetahuan, tidak ada bibit atau tidak ada modal. Tapi, menanamnya tidak di sembarangan tempat. Tanaman yang satu itu, biasanya di tanam di tanah liat. Bukan tanah pada umumnya.

Lalu Syarifuddin, satu dari sekian banyak petani sukses di Desa Kateng menceritakan, kalau di tanam di tanah biasa, rasanya tidak semanis yang di tanam di tanah liat. Berpengaruh pula pada ukuran, bentuk dan warna melon. Sehingga dari 19 dusun di Desa Kateng, hanya tiga dusun yang potensial.

Yakni Dusun Pilang, Dusun Kemelong, dan Dusun Gubuk Duah. Luas areal tanamnya mencapai 3 ha. Dalam satu hektarenya, mampu menghasilkan 30 ton golden melon, bahkan lebih. Kalau dijual dalam satu hektarenya mencapai Rp 300 juta. “Karena per kilonya di jual Rp 10 ribu,” ujar Miq Syarif-panggilan akrabnya- yang kini menjabat sebagai kepala desa (kades) Kateng tersebut.

Dalam satu buah golden melon, beratnya paling rendah 1,5 kilo atau setara dengan Rp 15 ribu per buah. Sedangkan yang paling tinggi 3 kilo atau setara dengan Rp 30 ribu per buah.

Kalau masuk ritel modern, sudah dua kali lipat harganya. Saat ini, sudah masuk di Lombok Epicentrum Mataram, Mataram Mall dan beberapa ritel modern lainnya. Sedangkan di luar daerah, yang paling banyak pemasannya Pulau Bali dan Pulau Jawa.

Kalau di jual di pasar tradisional, atau lapak-lapak pedagang sepertinya sulit terjual. Itu karena harganya yang mahal. Beda dengan buah melon pada umumnya.

Pola tanam golden melon dalam setahun, bisa tiga kali, atau setiap 70 hari panen. “Kami pernah menghasilkan uang sampai Rp 2 miliar, dari bertani golden melon ini,” cerita Miq Syarif.

Untuk itulah, pihaknya tidak mau meninggalkan profesi utamanya sebagai petani golden melon. Karena hasilnya, mengalahkan pendapatan sebagai aparatur pemerintah desa.

Bagi Miq Syarif, inilah yang disebut modal rendah, untung besar. Kendati demikian, pihaknya berharap lahan-lahan pertanian yang lain, bisa di tanam golden melon.

Pemerintah desa berharap, ada inovasi tersendiri. Sehingga seluruh petani di Desa Kateng, bisa beralih menanam golden melon. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Banyak Manfaat, Petani di Mataram Justru Enggan Terima Kartu Tani

”Ketika daftar, dia berada di titik lahan A dengan luas sekian. Namun, ketika kartu ini keluar, dia sudah mutasi nyewa lahan lain dengan luas berbeda,” jelasnya, Selasa (29/9/2020).

Bisnis Hidroponik, Bantu Perekonomian Warga Kota saat Pandemi

”Mereka bisa jual sendiri, atau bisa juga bermitra dengan kami. Soal pasar, kami yang carikan,” katanya kepada Lombok Post, Rabu (30/9/2020).

Dilantik Lusa, Kontribusi Pemuda Muhammadiyah Kota Mataram Dinanti

"Kita mengambil tema meneguhkan semangat kepemudaan untuk Kota Mataram maju dan religius," kata Ketua PDPM Kota Mataram Iskandar.

Dompu Zona Merah, Simulasi KBM Tatap Muka Dua Sekolah Distop

Rinciannya, SMAN 1 dan 2 Kilo, SMAN 1 dan 3 Pekat, SMAN 1 Kempo, SMKN 1 Manggalewa, SMKN 2 Dompu, dan SMAN 1 Hu’u. Namun, hanya simulasi di SMKN 2 Dompu dan SMAN 1 Hu’u yang dihentikan. ”Pertimbangannya, karena sekolah itu ada di wilayah kota dan dekat kota, sebagai pusat penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Cegah Penyakit Jantung di Masa Pandemi

dr. Yusra Pintaningrum, SpJP(K),FIHA,FAPSC,FAsCC

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks