Prestasi membanggakan ditorehkan empat orang putra-puteri NTB. Mereka terpilih menjadi anggota paduan suara pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-80 di Istana Negara. Satu orang diantaranya adalah Hurmayanti, asal Dusun Gawah Malang, Desa Mujur, Praya Timur, Lombok Tengah.
-----
Di tengah kesibukan kegiatan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah siang itu, beberapa staf tampak berkumpul di luar ruang rapat utama kantor bupati.
Mereka menunggu agenda rapat usai sembari menyusun kotak makan siang yang baru tiba. Sejumlah wartawan pun terlihat santai bercengkrama, saling berbagi cerita ringan.
Di sela obrolan tersebut, muncul gadis cantik mencuri perhatian. Ia adalah Hurmayanti. Penampilannya sederhana namun percaya diri.
Siang itu, ia hadir dengan cerita membanggakan, terpilih sebagai anggota paduan suara HUT ke-80 Republik Indonesia di Istana Negara, 17 Agustus mendatang.
Yanti, begitu ia akrab disapa, tidak sendiri. Bersama tiga pemuda lainnya dari NTB, ia akan mewakili daerah pada perayaan kenegaraan paling bergengsi di Tanah Air. Antara lain Fahri dari Sumbawa, dan dua lainnya dari Kota Mataram, yakni Mevi dan Alvin.
“Ada empat orang yang wakili NTB jadi anggota paduan suara ke Istana Negara untuk HUT RI,” ucap Yanti sambil tersenyum.
Dalam paduan suara, peserta dibagi menjadi empat kategori suara, Sopran, Alto, Tenor, dan Bass. Yanti masuk dalam kategori Alto 2.
“Setiap kategori ini ada bagiannya lagi. Alto pun ada Alto satu dan dua, dan saya masuk Alto dua karena range suara saya agak rendah,” jelas putri bungsu dari empat bersaudara ini.
Yanti menjelaskan, proses seleksi cukup ketat. Ia mengikuti dua tahap audisi yang digelar Pemkab Lombok Tengah dan Pemprov NTB.
Pada tingkat kabupaten, ia masuk dalam 20 besar. Kemudian di tingkat provinsi, ia terpilih setelah mengikuti tes menyanyi dan membaca notasi (primavista) di Taman Budaya NTB, 15 Juli lalu.
“Alhamdulillah dapat dan lolos ke paduan suara nasional,” kata mahasiswi semester 5 Prodi Perbankan Syariah di UIN Mataram ini.
Meski kini bisa berdiri sejajar dengan para penyanyi terpilih se-Indonesia, perjalanan Yanti terbilang unik.
Ia mengaku menyukai dunia tarik suara sejak SMP, namun belum pernah aktif di kelompok paduan suara sekolah.
Keberaniannya mengikuti audisi pun didorong tekad sederhana, ingin membanggakan orang tua dan daerah.
“Ini jadi suatu kebanggaan bisa nyanyi ke Istana Negara. Terpenting lagi bisa punya banyak teman dari Sabang sampai Merauke, tambah pengalaman,” ungkapnya bahagia.
Menjelang tampil di Istana Negara, seluruh anggota paduan suara akan mengikuti masa karantina di Jakarta mulai 1 Agustus hingga 17 Agustus.
Selama 19 hari, mereka akan digembleng secara intensif. Mulai dari bangun dini hari, olahraga bersama, hingga latihan vokal dan koreografi.
“Selain menjadi paduan suara di HUT, kami juga akan mengisi kegiatan konser kemerdekaan di Kota Tua Jakarta tanggal 9 Agustus,” jelas alumnus SMAN 1 Praya Timur ini.
Meski tidak ada persiapan khusus, panitia meminta setiap peserta membawa pakaian adat lengkap. Tidak ada ketentuan pakaian harus mewakili daerah asal, namun Yanti dan tiga rekannya dari NTB sepakat mengenakan pakaian adat Sumbawa.
“Bawa sepatu pantofel, rok dan sebagainya. Pakaian adat ini akan kita pakai saat HUT, kalau konsernya sudah disiapkan panitia,” tutup Yanti.
Editor : Siti Aeny Maryam