Ruang Terbuka Hijau (RTH) Renteng di Praya kini berubah wajah. Tempat yang dulu digadang menjadi pusat rekreasi dan pasar malam warga, kini ditelan semak, sunyi tanpa kehidupan. Padahal, RTH ini baru diresmikan bupati pada Juli tahun lalu.
-----
Semak belukar dan rumput liar menjulang tinggi. Sampah kulit kelapa berserakan, mengering diterpa panas dan hujan. Hamparan yang seharusnya menjadi ruang warga berinteraksi kini menyajikan pemandangan yang menyayat hati.
Jalur setapak yang dulu diharapkan ramai kini sepi, tertutup ilalang. Di antara rimbunnya tanaman liar, teronggok gerobak pedagang yang terabaikan. Rangka kayu dan besi berkarat itu menjadi saksi bisu harapan yang pernah tumbuh, kini pudar tanpa pembeli, kontras dengan impian ruang hijau yang pernah dijanjikan.
“RTH ini bukan lagi taman rekreasi, tapi proyek yang mati suri. Tidak ada aktivitas atau pasar malam seperti yang didengungkan ketika diresmikan,” ungkap Riki Aditya Ramdani warga Lingkungan Renteng, Praya, Kamis (6/11).
Tahun lalu, Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan RTH Renteng akan menjadi lokasi pasar malam bagi warga yang diinisiasi kepala lingkungan setempat. Bahkan, akan didukung fasilitas listrik dan taman agar menjadi lokasi hiburan masyarakat sekitar.
Namun, peresmian dengan gunting pita belum mampu menghidupkan ruang publik ini. Ia butuh denyut kehidupan, pengelolaan berkelanjutan, dan kepedulian nyata.
Editor : Siti Aeny Maryam