Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cabai Rawit Mahal, Petani Lombok Tengah Harus Tetap Untung

Lestari Dewi • Selasa, 24 Februari 2026 | 22:50 WIB

MULAI TURUN: Sejumlah pedagang sayur mayur menanti pembeli berbelanja di Pasar Renteng, Praya, Lombok Tengah, Senin (23/2).
MULAI TURUN: Sejumlah pedagang sayur mayur menanti pembeli berbelanja di Pasar Renteng, Praya, Lombok Tengah, Senin (23/2).

LombokPost - Kenaikan harga cabai rawit pada bulan suci Ramadan kembali menjadi perhatian publik. Lonjakan harga komoditas yang menjadi primadona dapur masyarakat Lombok itu perlu disikapi bijak agar tidak merugikan konsumen maupun petani.

Ketua Komisi II DPRD Lombok Tengah Ferdian Elmansyah menegaskan, fluktuasi harga cabai rawit pada momen Ramadan merupakan fenomena yang hampir terjadi setiap tahun. Tingginya permintaan, terutama karena tradisi masyarakat Lombok yang gemar menyantap lauk pauk pedas saat berbuka puasa, menjadi salah satu faktor pendorong.

“Di satu sisi, kenaikan harga ini jangan sampai memberatkan dan merugikan konsumen. Namun di sisi lain, kita juga tidak ingin petani cabai justru tidak menikmati keuntungan dari selisih harga yang terjadi di pasaran,” ujarnya kepada wartawan, Senin (23/2).

Menurutnya, momentum Ramadan seharusnya menjadi kesempatan bagi petani cabai untuk meraih pendapatan lebih baik. Ia berharap rantai distribusi tidak terlalu panjang sehingga selisih harga benar-benar bisa dirasakan langsung oleh petani, bukan terserap di tingkat perantara.

Selain itu, Ferdian juga mendorong Pemkab Loteng rutin menggelar pasar murah sebagai langkah konkret menekan harga kebutuhan pokok, termasuk cabai rawit. Menurutnya, intervensi pasar melalui operasi pasar atau pasar murah dapat menjadi solusi jangka pendek.

“Ini penting untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau,” tegasnya.

Ferdian juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau membeli cabai rawit dalam jumlah berlebihan. Sikap tersebut justru dapat memperparah lonjakan harga di pasaran.

Sebagai solusi jangka panjang, ia mendorong masyarakat mulai memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam cabai sendiri. Selain mudah dibudi daya, cabai rawit tidak membutuhkan lahan luas dan bisa ditanam di pot maupun polybag.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah RR Srimulyaningsih menyampaikan, harga cabai rawit mulai menunjukkan tren penurunan. Jika sebelumnya sempat menyentuh Rp 150 ribu per kilogram, kini berangsur turun menjadi sekitar Rp 120 ribu per kg.

Penurunan harga dipicu mulai masuknya pasokan cabai rawit dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa, sehingga suplai di pasar Lombok Tengah bertambah. “Alhamdulillah sudah ada penurunan harga. Pasokan dari luar daerah mulai masuk, sehingga membantu menekan harga di tingkat pedagang,” jelasnya.

Editor : Marthadi
#Cabai Rawit #Petani #DPRD Lombok Tengah #mahal