Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cabai Intervensi Maksimal Rp 73 Ribu per Kilogram, Satu Ton Cabai Rawit Didatangkan dari Sulawesi Selatan

Lestari Dewi • Selasa, 3 Maret 2026 | 07:44 WIB

Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah, Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan BAPANAS Rinna Syawal (dua kiri), dan KPwBI NTB Hario K Pamungkas menunjukkan cabai rawit yang didatangkan dari Enrekang
Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah, Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan BAPANAS Rinna Syawal (dua kiri), dan KPwBI NTB Hario K Pamungkas menunjukkan cabai rawit yang didatangkan dari Enrekang

 

LombokPost-Harga cabai rawit merah di Lombok Tengah yang melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) memicu intervensi Badan Pangan Nasional. Sebanyak satu ton cabai didatangkan dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, untuk menekan harga pasar.

Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas Rinna Syawal menegaskan, pemerintah tidak tinggal diam melihat gejolak harga yang memberatkan masyarakat.

“Intervensi ini untuk menurunkan harga agar kembali mendekati HAP yang telah ditetapkan pemerintah,” tegas Rinna pada wartawan.

Dalam skema itu, Bapanas menanggung biaya transportasi dari daerah asal hingga ke Lombok Tengah. Harga jual di tingkat konsumen ditekan tanpa membebani pedagang.

Rinna merinci, harga cabai intervensi ditetapkan Rp 68 ribu di tingkat pengecer. Konsumen dapat membeli di kisaran Rp 68 ribu hingga Rp 73 ribu per kilogram. 

Untuk memastikan harga tidak dimainkan, setiap pedagang penerima pasokan dipasangi stiker khusus sebagai penanda. Langkah ini memudahkan pengawasan dan memberi kepastian kepada pembeli bahwa cabai itu bagian dari program stabilisasi pemerintah.

“Kita pasang stiker sehingga kita tahu cabai yang dijual itu adalah cabai intervensi dari kegiatan fasilitasi distribusi pangan,” tambahnya.

Pengawasan juga dilakukan setelah distribusi. Tim Satgas Pangan bersama unsur kepolisian dan Bank Indonesia melakukan pemantauan harian di lapangan. Pengawasan ini diharapkan mencegah spekulasi harga dan penimbunan.

“Akan ada pengawasannya dari Satgas. Kemudian BI juga melakukan pengawasan karena pedagang ini kebetulan binaannya BI,” ujar Rinna.

Menjawab kekhawatiran petani lokal, Rinna memastikan intervensi dilakukan saat produksi Lombok Tengah menurun. Pemerintah telah menghitung harga agar tetap menguntungkan petani dan terjangkau bagi konsumen.

“Tidak mungkin petani rugi setelah melakukan produksi. Harga aman untuk petani dan harga untuk konsumen sudah diatur pemerintah,” pungkasnya.

Pasokan satu ton cabai diperkirakan mencukupi kebutuhan pasar selama dua hingga tiga hari ke depan. Jika harga belum stabil, Bapanas membuka opsi menambah pasokan dari daerah lain.

Sementara itu, Wakil Bupati Loteng M Nursiah mengatakan, melihat kondisi harga cabai rawit masih tinggi dan pemerintah telah menelusuri penyebab kenaikan, solusi jangka pendek yang dilakukan adalah intervensi dengan mendatangkan pasokan dari luar daerah.

“Penyebab terbesarnya (harga cabai mahal) karena iklim. Dengan kondisi harga tinggi ini pemerintah berupaya ditambah dengan mendesaknya kebutuhan cabai ketika puasa Ramadan,” paparnya.

Kedatangan cabai rawit yang kali pertama dilakukan Pemkab Lombok Tengah ini, kata Nursiah, akan didistribusikan ke Pasar Renteng, Pasar Jelojok, Pasar Barabali, dan Pasar Sengkol.

“Pendistribusiannya ini pun akan dilakukan pengawalan dan pengawasan khusus, dalam tim saber ini juga ada pemda,” tegas Nursiah.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI NTB Hari K Pamungkas mengatakan, pihaknya telah memetakan petani cabai rawit di NTB. Kenaikan harga diakui karena momentum panen yang kurang pas ditambah curah hujan belakangan.

“Kami sudah turun ke sentra cabai di Lombok Timur misalnya, ternyata belum bisa panen karena cuaca hujan tinggi. Baru bisa panen beberapa mingu ke depan. Sehingga untuk menambal kebutuhan cabai lokal, kita datangkan dari luar daerah,” singkatnya.

Terpisah, Ketua Komisi II DPRD Lombok Tengah Ferdian Elmansyah bersyukur pemerintah mengintervensi dengan mendatangkan satu ton cabai rawit merah dari luar daerah, untuk menstabilkan harga.

Namun, dia menilai kenaikan harga sebelumnya juga disebabkan pola distribusi, di mana cabai harus piknik terlebih dahulu ke pasar-pasar di kabupaten/kota lain.

“Yang perlu ditekankan adalah pola distribusinya, bukan berarti beli murah di petani, harga tetap sesuai di tingkat petani. Pola distribusi ini seharusnya dipikirkan pemkab Lombok Tengah bukan (hanya) mendatangkan (cabai rawit) dari luar,” katanya.

Isu ini, kata Ferdian, selalu berulang setiap tahun. Dari sisi jangka pendek intervensi dinilai baik. Namun solusi jangka panjang juga harus dipikirkan pemerintah daerah.

“Bagaimana pola distribusi ini tidak terlalu panjang,” kata dia.

Dewan berharap cabai rawit hasil panen petani langsung dibeli distributor lokal di Lombok Tengah. Namun mereka terkendala modal untuk membeli dalam jumlah besar.

“Ndek arak (tidak ada, Red) pemodal beleq (besar, Red) di Lombok Tengah ini,” cetus Ferdi. 

Editor : Akbar Sirinawa
#Lombok Tengah #Cabai Rawit #intervensi #sulawesi selatan #Bapanas