LombokPost-Pemkab Lombok Tengah optimistis produksi gabah pada musim tanam pertama tahun ini menembus 250 ribu ton. Target itu dihitung dari luas lahan tanam padi sekitar 54 ribu hektare dengan rata-rata produktivitas lima ton gabah per hektare.
Plt Kepala Dinas Pertanian Loteng Zainal Arifin mengatakan, panen padi di sejumlah wilayah mulai berlangsung serentak sejak akhir Februari. Puncak panen raya diperkirakan hingga akhir Maret.
“Kita melihat panen sudah mulai serentak sejak akhir Februari hingga akhir Maret sebagai puncak panen raya,” ujarnya.
Meski optimistis dengan hasil produksi, pihaknya juga mengakui adanya tantangan saat panen raya berlangsung bersamaan di banyak wilayah. Salah satunya keterbatasan alat panen modern seperti combine harvester.
Menurutnya, sebagian besar petani kini mulai memanfaatkan alat panen mekanik. Namun jumlah alat yang tersedia masih terbatas. Sementara jika menggunakan tenaga manusia, petani harus menghadapi lonjakan biaya buruh tani karena bertepatan dengan bulan Ramadan.
Hingga pertengahan Maret, luas lahan yang sudah dipanen tercatat mencapai sekitar 25 ribu hektare. Sebagian besar petani mengaku cukup puas dengan hasil panen musim tanam pertama tahun ini karena produksi meningkat dibanding sebelumnya.
Zainal menjelaskan, peningkatan hasil panen dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya ketersediaan air mencukupi, distribusi pupuk relatif lancar, serta kondisi iklim mendukung sehingga tanaman padi tidak mengalami kerusakan atau rebah.
Ia berharap hasil panen gabah petani dapat terserap maksimal oleh Perum Bulog. Pasalnya, Bulog menetapkan standar pembelian berupa gabah kering dengan kadar air maksimal 14 persen.
“Kalau tidak terserap, gabah ini tentu bisa dijual bebas oleh petani,” tambahnya.
Sementara itu, jajaran TNI melalui Babinsa di wilayah Kodim 1620/Loteng turut melakukan pengawalan terhadap proses penyerapan gabah petani oleh Bulog. Pengawalan dilakukan dari hulu hingga hilir guna memastikan serapan berjalan maksimal.
Komandan Kodim 1620/Loteng Karimmuddin Rangkuti mengatakan, keterlibatan TNI merupakan bagian dari kerja sama dengan Bulog untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus memastikan ketersediaan stok pangan daerah.
“Kami telah menginstruksikan seluruh Babinsa di tiap desa untuk turun langsung ke sawah dan penggilingan. Tujuannya memastikan gabah hasil panen petani terserap maksimal oleh Bulog dengan harga sesuai ketentuan pemerintah,” ujarnya.
Editor : Redaksi Lombok Post