Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bupati Jarot Sebut Hasil Perjuangan Panjang, Proyek Industri Ayam Terintegrasi Rp 1,3 Triliun

Lombok Post Online • Senin, 9 Februari 2026 | 12:15 WIB
MEGA PROYEK: Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal (tiga kanan) didampingi Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot (dua kanan) meletakkan batu pertama pembangunan industri ayam terintegrasi di Sumbawa.
MEGA PROYEK: Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal (tiga kanan) didampingi Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot (dua kanan) meletakkan batu pertama pembangunan industri ayam terintegrasi di Sumbawa.

LombokPost - Pemerintah pusat resmi memulai pembangunan Integrated Poultry Industry atau industri ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui groundbreaking Program Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi. Salah satu lokasi proyek tersebut berada di Kabupaten Sumbawa.

Kegiatan groundbreaking ini dilaksanakan secara virtual dan terhubung dengan enam proyek hilirisasi lainnya di berbagai daerah di Indonesia, Jumat (6/2).

Secara nasional, total nilai investasi proyek hilirisasi tersebut mencapai Rp 20 triliun dan berada di bawah naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Kabupaten Sumbawa berhasil mengamankan investasi sebesar Rp 1,3 triliun untuk pengembangan industri ayam terintegrasi yang mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan, pakan, hingga pengolahan dan pemasaran.

Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot mengatakan, hadirnya proyek ini merupakan hasil perjuangan panjang pemerintah daerah.

Dia mengungkapkan, proyek industri ayam terintegrasi tersebut sempat hampir keluar dari daftar proyek nasional.

“Ini bukan proses yang singkat. Proyek ini bahkan sempat hampir lepas. Tapi dengan komunikasi intensif ke pemerintah pusat dan dukungan banyak pihak, akhirnya bisa kita pastikan tetap berjalan di Sumbawa,” kata Jarot.

Dia menyampaikan rasa syukur atas dimulainya pembangunan industri tersebut.

Menurutnya, industri ayam terintegrasi akan memperkuat rantai pasok perunggasan, menekan biaya produksi peternak, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Jarot juga menegaskan, proyek ini sejalan dengan program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) serta upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan.

“Kehadiran BUMN di sini sangat penting untuk memberi kepastian bagi peternak, mulai dari bibit, pakan, sampai pemasaran. Dengan begitu, harga tidak sepenuhnya dikendalikan mekanisme pasar yang sering merugikan peternak kecil,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan, proyek ini bukan sekadar pembangunan kandang ayam, melainkan embrio industrialisasi perunggasan yang utuh di NTB. “Ini bukan hanya soal ayam, tapi membangun ekosistem industri. Kalau berjalan baik, NTB tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tapi pusat produksi unggas yang mandiri dan berdaya saing,” kata Iqbal.

Dia menambahkan, industri tersebut diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.

Direktur Hilirisasi Peternakan Kementerian Pertanian Makmun menyebutkan, kehadiran industri ayam terintegrasi di NTB sebagai bagian dari strategi besar pemerintah membangun ekosistem perunggasan nasional di luar Pulau Jawa. NTB dinilai memiliki posisi strategis karena produksi jagungnya menempati peringkat ketiga nasional, sementara jagung menyumbang sekitar 50 persen komposisi pakan unggas.

“Selama ini peternak di NTB terkendala akses bibit unggul dan pakan. Melalui program ini, negara hadir lewat keterlibatan BUMN,” ujar Makmun.

BUMN seperti PT Berdikari dan PT Perkebunan Nusantara III akan berperan dalam pembibitan, pembangunan pabrik pakan, serta penyediaan day old chick (DOC) berkualitas dengan harga terjangkau bagi peternak. (jlo/r5)

Editor : Kimda Farida
#Berdikari #nusantara #Pembibitan #perkebunan #BUMN