alexametrics
Selasa, 20 April 2021
Selasa, 20 April 2021

April 1815, Jejak Letusan Tambora Mengubah Sejarah Dunia

206 tahun lalu, tepatnya tengah bulan April 1815 Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus. Letusan paling mengerikan yang pernah tercatat dalam sejarah manusia modern. Bukan hanya Sumbawa, tapi dampak ledakan ini melanda penjuru dunia.

——————–

Dalam sebuah citra satelit, kawah Tambora nampak seperti bekas bisul tua yang menganga di ujung semenanjung Sanggar. Luka itu masih aktif dengan asap solfatara yang menandakan dapur magma masih bekerja dan masih mungkin mendatangkan luka baru.

Tambora adalah Stratovolcano aktif. Satu dari 452 gunung api yang membentuk Pacific Ring of Fire. Sabuk gunung api yang memagari Samudera Pasifik dari Selandia Baru, Indonesia ke utara menuju Pilipina, Jepang, kemudian berbelok ke Amerika dan berujung di Chili.

Cerita soal Tambora sejatinya adalah kisah bagaimana alam bisa demikian murka. 5 April 1815 kepundan yang menjulang sekitar 4000 meter itu mulai menimbulkan rentetan gempa. Mengerang keras seperti monster tua yang mau keluar dari dasar bumi. Raungannya terus menyambung, hingga akhirnya memuntahkan amarah sejadi-jadinya enam malam kemudian.

Bo’ Sangaji Kai (Catatan Kerajaan Bima) merekam jelas momen ini. Pada sebuah bait bertajuk Alamat Pecah Gunung Tambora, catatan ini mengulas bagaimana dahsyatnya ledakan itu.

‘’Maka gelap berbalik lagi lebih daripada malam itu, kemudian berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah kerisk batu dan debu seperti dituang lamanya tiga hari tiga malam,’’

10, 11 dan 12 April gemuruh yang memekakan telinga itu turun bersama maut. Langit hitam tertimbun abu. Kemudian batu berguguran menghujam apapun yang ditemukan di daratan.

Mereka yang tak sempat menyelamatkan diri tertimbun, tersapu awan panas yang melaju cepat dari kawah. Tiga Kerajaan kecil di lerengnya Sanggar, Pekat dan Tambora terbenam. Ledakan besar pada 12 April ini adalah klimaks yang menghancurkan segalanya.

Volcanic Explosivity Index (VEI) mencatat ini adalah ledakan level tujuh, yakni ledakan super kolosal dengan muntahan material terbesar yang terekam sejarah peradaban manusia moderen. 10 kali lebih besar dari Krakatau yang meledak di Selat Sunda 68 tahun kemudian.

Bukan hanya Semenanjung Sanggar yang bergetar, seluruh Sumbawa, Lombok, Bali, Madura dan sebagian timur Jawa gelap gulita. Gempa menjalar hingga Batavia (Jakarta) dan kepulauan Maluku.

Sementara itu di Jawa, Thomas Stamford Raffles yang baru empat tahun menjadi Letnan Gubernur Hindia Belanda tak kurang terkejutnya. Awalnya ia, mengira itu suara meriam musuh yang datang menyerang. Maka dari itu militer segera disiagakan.

‘’ Suaranya pada kali pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Jogjakarta dengan perkiraan bahwa pos terdekat (tengah) diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan,’’ ujarnya dalam Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles

Beberapa saat kemudian Raffles sadar ini bukan bunyi perang. Tapi suara letusan gunung yang membuat langit siang jadi mendung. Hujan menghitam dan tsunami tumpah ke daratan. Sementara di lautan sisa-sisa pohon, bangkai hewan dan manusia mengambang luas di Samudera.

‘’Dalam perjalananku, aku melewati hampir seluruh Dompu dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran melanda penduduk. Bencana telah memberikan pukulan hebat. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda-tanda banyak lainnya telah terkubur. Desa-desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah rubuh. Penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan. Diare menyerang warga di Bima, Dompu, dan Sangir. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga mati dalam jumlah yang besar…’’ kata Letnan Phillips yang diminta Raffles untuk mengunjungi Pulau Sumbawa selepas bencana itu.

Dan kelaparan itupun datang seiring rusaknya lahan. Ladang-ladang yang terbakar. Tanah yang tertutup material vulkanis mematikan tanaman pangan. Ditambah lagi matahari yang jarang muncul karena terhalang debu yang memenuhi atmosfer. Tanaman apakah yang bisa hidup dalam konsisi begini?

10 ribu jiwa yang tewas seketika terus bertambah seiring datangnya kelaparan dan wabah penyakit. H. Zollinger sorang ahli ilmu alam Belanda yang singgah di Sumbawa sekitar tahun 1847 menaksir total korban jiwa akibat letusan ini sekitar 90 ribu. Ini termasuk angka korban kelaparan dan wabah penyakit di pedalaman Lombok.

‘’Kerajaan kecil Pekat dan Tambora terhapus dari muka bumi, hanya tiga atau empat orang saja yang selamat dari kehancuran dan mereka itulah yang menyampaikan cerita ini yang di kalangan banyak penduduk sama sakti (sama dahsyatnya) dengan kisah pembinasaan kota Ninive dan jerusalem di kalangan orang Kristen,’’ ujar pemikir, penulis Belanda, PP Roorda van Eysinga yang sempat berkunjung ke Sumbawa beberapa tahun setelah letusan.

Derita ini belum selesai. Bahkan 60 tahun setelah amuk Tambora, suasana masyarakat di Semenanjung Sanggar demikian mengharukan. Albert Colfs, seorang ilmuan Belgia mengisahkan kondisi Kerajaan Sanggar yang sangat miskin pada periode itu.

‘’Saya mengatakan mau pamit dengan Sultan (Sanggar). Saya kesana pukul delapan. Sultan lebih ramah dan kelihatan lebih segar daripada waktu kunjungan saya yang pertama. Dia bercakap-cakap dalam bahasa melayu yang cukup bagus. Dia harus mencocok ladangnya sendiri dan dia pula yang memotong dan memikul kayu bakarnya; Saya merasa kasihan sekali,’’ ujarnya dalam buku hariannya bertarikh 1888.

Dahsyat : Suasana perang Waterloo tahun 1815 dalam goresan perupa William Sadler. Letusan
Tambora turut mengubah hasil akhir perang ini.

 

Tambora Mengubah Dunia

Semestinya Inggris, Belanda dan negara-negara yang tergabung dalam Koalisi Ketujuh pada perang Waterloo 1815 berterimakasih pada Tambora. Betapa tidak sebuah gunung asing yang berada lebih dari 12 ribu kilometer di bumi bagian selatan telah membantu mereka memenangkan perang melelahkan melawan Kekasiaran Napoleon.

Letusan Tambora 10-15 April 1815 memuntahkan debu vulkanis yang mengapung di atmosfer. Menggenang di angkasa sembari mengutuk setiap daratan yang dilintasinya. Bumi dibuatnya menggigil kedinginan karena matahari tak bisa menembus awan berdebu dari Semenanjung Sanggar itu.

Beberapa pekan kemudian mega hitam ini tiba di langit Belgia setelah sebelumnya singgah di beberapa negara. Minggu 18 Juni 1815 tepat di atas Waterloo yang tengah memanas karena perang, mendung hitam memuntahkan hujan sejadi-jadinya. Medan tergenang dan menyulitkan gerak pasukan untuk melakukan penyerbuan. Mau tak mau Napoleon harus menunggu medan mengering untuk melanjutkan serangan. Tambora mengubah iklm bumi dan menunda peperangan.

Dalam jeda itulah Duke of Welington yang memimpin tentara Inggris akhirnya bisa bernafas lega karena Gebhard Leberecht von Blücher tiba di medan perang dengan bala bantuan pasukan Prusia. Koalisi menjadi lebih kuat dan berhasil memukul mundur militer Napoleon.

Setidaknya Tambora telah mengubah konstalasi politik di Eropa yang buahnya bisa kita lihat hingga kini. Tapi selepas perang di Waterloo, Tambora belum mencabut kutukannya di Eropa.

Anomali cuaca ini menyebarkan epidemi tipus di bagian tenggara Eropa dan kawasan timur Mediterania pada 1816 dan 1819. Tahun-tahun itu demikian mencekam. Langit gelap membuat dingin terperangkap lebih lama di daratan.

Ditambah hujan yang terus-menerus membuat gagal panen, ladang-ladang tak bisa ditanam, ternak mati membuat seantero negeri kelaparan. Bahkan di Jerman, kerusuhan menjalar menyusul kenaikan harga pangan yang tak terbendung. Ini adalah salah satu bencana kelaparan terburuk yang pernah melanda Eropa moderen.

Media-media di Amerika dan Eropa mengabarkan bagaimana sebuah musim yang membingungkan tiba-tiba datang bersama ketakutan dan kelaparan. Cuaca tak lazim yang tidak pernah terlihat sebelumnya. The Albany Advertiser, sebuah koran terbitan New York, edisi 6 Oktober 1816 menuliskan tentang musim ini.

‘’’Cuaca selama musim panas lalu sangat tidak lazim tidak hanya di negeri ini, tapi, juga melanda Eropa…… Ada salju keras dalam setiap bulan musim panas, sebuah fakta yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Cuaca dingin dan kering terjadi di beberapa bagian Eropa, dan sangat basah di tempat-tempat lainnya di seperempat belahan dunia,’’ tulisnya.

Dalam kedinginan itu orang Eropa dan Amerika kemudian menyebut 1816 sebagai Year Without Summer alias Tahun Tanpa Musim Panas. Sebuah penelitian bertajuk Iberia in 1816 The Year Without Summer yang dimuat dalam International Journal of Climatology tahun 2008 mengkaji ulang.

Kajiannya mencakup wilayah Spanyol, Portuga, Prancis dan Skandinavia. Hasilnya kondisi serupa dirasakan serentak. Menipisnya bahan pangan dan kedinginan yang mencekam.Di Kota Madrid misalnya suhu dilaporkan tidak pernah melebihi 15 derajat selsius. Padahal itu sedang musim panas.

Tahun yang gelap ini kemudian melahirkan banyak karya sastra bertema ketakutan dan kegelapan. Salah satunya kisah Frankenstein yang kelam dari tangan novelist Inggris, Mary Shelly pada 1818. Dalam puisinya pujangga Inggris, Lord Byron juga menggambarkan bagaimana Tambora telah menebar ketakutan itu hingga ke pedalaman Eropa awal abad 19.

‘’ Aku bermimpi, yang tidak semuanya mimpi. Matahari terang itu dipadamkan, dan bintang-bintang yang berjalan gelap dalam ruang abadi, Tanpa cahaya, dan tanpa jalan, dan bumi membeku, Berayun buta dan menghitam dalam udara tanpa bulan,’’ ucap Byron dalam bait pertama puisi berjudul Darkness (Kegelapan) yang ia tulis pada 1816.

Lalu dalam baris berikutnya. ‘’ Pagi datang dan pergi dan berlalu-, dan tidak membawa siang, Dan laki-laki lupa nafsu mereka dalam ketakutan tentang kehancuran mereka, dan semua hati yang kedinginan dalam pengharapan yang egois tentang cahaya,’’

Lirik-lirik tragis seperti ini muncul di berbagai penjuru. Semuanya tentang duka berkisah mengenai musim yang ganjil. Musim panas yang dingin membuat salju di ladang-ladang enggan mencair.

Bahkan di Amerika orang ramai mulai bertanya akankah ini akhir dunia. Karena bintik-bintik hitam di langit yang menghalangi sinar matahari semakin banyak. Akibat bencana ini di Eropa saja diperkirakan ada 200 ribu jiwa menjadi korban. Belum termasuk di Amerika, China dan India yang juga mengalami hal serupa.

 

Tambora dan Kisah Kutukan Daging Anjing

Setelah bencana ini banyak yang bertanya kemudian kenapa Tambora demikian marah. Apa gerangan yang membuat dia demikian murka. Dalam ilmu vulkanologi ledakan ini adalah hal yang lazim dari siklus hidup gunung api.

Namun bagi masyarakat di Semenanjung Sanggar, Dompu dan Bima ada cerita rakyat yang menyebut lebih dari itu. Yakni azab tuhan terhadap Raja Tambora, Abdul Gafur dan rakyatnya.

Syair Kerajaan Bima yang ditulis Khatib Lukman sekitar tahun 1830 menceritakan hal tersebut. Kemudian penulis dan pemikir Belanda, PP Roorda van Eysinga, yang datang ke Sumbawa menulis ulang cerita ini tahun 1841. Penggalan kisah ini juga dapat dilihat dalam Kerajaan Bima dalam Sejarah dan Sastra karya Henri Chambert-Loir.

Letusan : Sebuh lukisan tentang ketakutan warga saat letusan gunung Tambora April 1815 oleh Greg Harlin/Wood Ronsaville Harlin.

Alkisah sebelum ledakan terjadi seorang Arab muslim asal Bengkulu bernama Said Idrus datang ke Negeri Tambora untuk berniaga. Suatu ketika dalam perjalannanya masuklah waktu Zuhur dan Tuan Said ini mencari masjid terdekat untuk menunaikan solat.

Namun betapa marahnya ia, saat melihat di dalam masjid itu ada anjing. Hewan nakjis seenaknya berkeliaran di tempat sesuci itu. Ia, lalu meminta warga memukul dan mengusir hewan itu. Tapi si penjaga hewan marah dan balik menjawab.

‘’Raja kami yang empunya itu anjing,’’

Tuan Sayid membalas. ‘’Baik, siapa punya anjing, karena ini masjid Allah subahanahu wa taala yang empunya rumah ini. Siapa yang memasukkan anjing di dalam masjid , orang itu kafir,’’ ujarnya.

Mendengar ini penjaga anjing mengadu pada raja. ‘’Ada seorang tuan-tuan Arab mengatakan kita ini orang Tambora dikatakan kafir, sebab didapatinya ada anjing dalam masjid,’’ lapornya kepada sang raja.

Mendengar ini raja tersinggung dan marah sekali. Raja kemudian meminta rakyatnya untuk mempersiapkan jamuan dalam dua menu berbeda. Satu menu berisi daging anjing dan satu lagi daging kambing. Lalu kemudian Tuan Said tersebut diundang menghadiri jamuan makan. Menu anjing itu untuk Tuan Said dan kambing untuk raja dan kaulanya. Selepas jamuan itu Raja berkata.

‘’Hai Arab!! Bagaiman engkau katakan haram anjing??

‘’Ya, Haram’’ jawab Tuan Said.

Raja tersenyum sinis dan membalas ‘’Jikalau engkau katakan haram, mengapa makanan itu anjing,’’

‘’Bukan anjing saya makan tadi, saya makan daging kambing,’’ jawab Tuan Said dalam nada sedikit bertanya-tanya mendebat sang raja.

Raja lalu murka dan meminta para pengawalnya menghabisi Arab ini. Dalam kawalan prajurit, Tuan Said dibawa ke Gunung Tambora untuk menemui ajalnya. Meski sempat melawan Tuan Said ini akhirnya berhasil dihabisi. Kepalanya pecah dan mayatnya dibawa ke sebuah goa.

Namun alangkah kagetnya para pengawal itu melihat tiba-tiba ledakan muncul dari gunung disertai api. Api itu menerjang lereng dan mengejar para algojo yang mengeksekusi Tuan Said. Dan seterusnya ledakan sejadi-jadinya. Lava berguguran beserta awan panas menerjang permukiman warga. Mengamuklah tambora

‘’Tiada beberapa lamanya sudah terbakar Negeri Tambora maka ada suatu hari datang air besar dari tiga ombak besar, dari selatan datangnya itu ombak, maka tujuh negeri kecil tenggelam, perahu dagang yang ada berlabuh disitu semuanya dibawa ombak naik ke hutan,’’ tulis Van Eysinga mengisahkan Tsunami yang segera menyusul setelah ledakan dan menenggelamkkan sejumlah kerajaan kecil di Sumbawa. (*)

*) Penulis : Zulhakim, penyuka seni dan budaya tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @kedjoule31

*) Naskah pertama kali dimuat di Koran Lombok Post April 2017

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks