alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Nusantara di Abad 17, Ketika Warga Bebas Jual Beli Narkoba

Jauh sebelum narkoba (narkotika dan obat/bahan berbahaya) dilarang seperti saat ini, Hindia Belanda pernah kaya raya dari monopoli Opium (candu). Uang hasil penjualan barang memabukkan menggerakkan perekonomian, membiayai pembangunan rel kereta api, jalan raya, pelabuhan hingga perang.

————————————-

Seorang pria ceking, berselonjor kaki di sebuah bilik bale-bale bambu. Rambutnya terurai, matanya sayu, pipinya kempos. Ia, mengisap asap candu dari pipa yang ujungnya dibakar lampu templek.

Sementara di depannya nampak gadis pelayan montok dengan kemban setengah dada.   Sedang di pojok ruang ada pria lain yang sudah teler, meringkuk dimabuk madat, melayang ke awang-awang.

Inilah sedikit gambaran suasana kedai-kedai candu yang tersebar seantero Jawa dalam novel Baboe Delima karangan MTH Perelaer sekitar tahun 1880-an.

Di pedalaman abad-16, getah Opium ini adalah narkoba yang lazim dikonsumsi di nusantara. Para pedagang Arab, Cina maupun India telah hilir mudik memasoknya. Dari Asia Tengah getah bunga popy ini mengalir ke tepian teluk Bengala atau melintasi Burma menuju semenanjung Malaya sebelum dipasarkan ke penjuru Nusantara.

Candu adalah komoditas klasik Asia yang membuat para suadagar kaya-raya.  Para Raja dan sultan-sultan dari Aceh, Riau, Melaka hingga Kepulauan Maluku pernah berhasil  mendulang pundi-pundi harta dari izin monopoli peredaran opium. Peredarannya yang dibatasi membuat suplai dan harga candu terjaga.

Dan tentu saja selain menjual, sejumlah raja gemar mabuk candu.  Pelaut Portugis Tome Pires dalam Suma Oriental merangkum sejumlah kebiasaan-kebiasaan  para raja dan sultan di nusantara.

Misalnya soal Penguasa Malaka Sultan Alauddin Riayat Syah  yang memerintah antara 1477-1488. Menurutnya meski terkenal dalam urusan agama sultan ini kerap menghisap opium dalam jumlah banyak. Menurut Pires iniah yang membuat sang sultan terkadang nampak seperti orang kurang waras dan penyendiri.

Belakangan Ketika Kongsi Dagang Hindia (Vereenigde Oost-Indische Compagnie / VOC) candu menjadi bagian dari alat diplomasi. Para pejabat VOC kerap menghadiahkan para raja dengan candu-candu terbaik dari Bengala.  Hasilnya tahun 1677 VOC mendapat izin mengedarkan opium di wilayah Kerajaan Mataram dari Raja Amangkurat II.

JC Baud menyebut inilah tonggak awal bagaimana Belanda mengorganisir peredaran opium di Pulau Jawa hingga berabad-abad kemudian. Gulipat uang ini terus mengalir melalui izin monopoli

VOC mendatangkan candu dalam jumlah besar dari Bengala, India, untuk kemudian dijual kembali dengan harga tinggi di Batavia. Disinilah para pedagang Tionghoa hadir sebagai distributor resmi, yang kemudian menjual langsung kepada konsumen di Jawa, Bali hingga Makassar.

Namun huru-hara dan pembantaian ribuan warga Tionghoa di tahun 1740 sempat membuat bisnis candu VOC surut.  Karena itulah Gustaaf Willem van Imhoff yang  ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal VOC di Batavia tahun 1743 berupaya mengembalikan tata niaga candu sebabagai penyumbang kas VOC.

Van Imhoff kemudian menginisiasi terbentuknya  Amfioensocieteit (Komunitas Opium), di Batavia pada 1 September 1745, sebagai perusahaan mitra VOC dalam mendistribusikan opium. Ini adalah upaya VOC membuat jalur distribusi Opium yang efektif dengan melibatkan para swasta sebagai distributor. Kemiteraan ini berhasil membuat nafas VOC sebagai sebuah perusahaan multinasional terus hidup.

Mabok : Dua penghisap candu di Jawa sekitar tahun 1867 yang diabadikan oleh Woodbury & Page.( Sumber : media-ktlv.nl)

Namun keberhasilan Inggris merebut  Bengala dari Kesultanan Mughal India di tahun 1757 membuat suplai candu VOC kembang kempis. VOC memang masih bisa membeli opium Bengala namun harus lewat tangan Inggris dengan harga yang lebih mahal.

Alhasil Amfioensocieteit gulung tikar bersama korupsi yang mulai menggerogoti VOC. Konsep Amfioendirectie sempat diperkenalkan sebagai bentuk tata niaga candu namun akutnya korupsi di tubuh VOC dan kuatnya jaringan penyelundup candu membuat Gubernur Jendral Daendels membubarkannya pada 17 September 1808.

Setelah VOC tumbang, Hindia Belanda lebih memaksimalkan peredaran narkoba ini. Khusus di Pulau Jawa dimana kekuasaan Belanda telah dikukuhkan, izin peredaran candu dibagi dalam wilayah-wilayah konsesi Pak Opium (opiumpacht).

Wilayah itu dapat meliputi sebuah distrik atau keresidenan. Dalam periode tertentu wilayah peredaran tersebut dilelang kepada kongsi-kongsi dagang yang sanggup memberi keuntungan (pajak opium) tertinggi bagi pemerintah.

Pak Opium ini tumbuh menjadi kelompok-kelompok berkuasa dengan kekuatan pengaruh dan finasialnya. Sebagian besar mereka adalah warga Tionghoa. Misalnya tahun 1870, nilai Pak Opium di Semarang ditaksir bernilai 26 juta gulden, angka ini mampu menyumbang nyaris satu juta gulden pajak ke kas negara. Jumlah yang sangat besar untuk zaman itu. Kelak dari uang narkoba  inilah jalan-jalan baru dibangun, pelabuhan hingga membiayai perang-perang.

Menghisap opium kemudian menjadi gaya hidup. Sebuah simbol ketinggian status bila dalam acara-acara tertentu tuan rumah menyajikan opium untuk dihisap para tamu. Sementara dalam jamuan yang lebih mewah tuan rumah akan mengadakan pesta candu bagi tamu-tamu terhormat. Mabuk madat ini tentu dilengkapi hiburan penari dan musik pengiring.

Tapi masifnya peredaran candu membuatnya  tak hanya dikonsumsi bangsawan dan keluarga kaya. Para bandar tau betul cara mengemas agar masyarakat miskin ikut “mabok”.

Sebuah cataan Inspektur Urusan Opium Belanda, Charles TeMechelen menyebut, di Jawa sekitar tahun 1885, para buruh perkebunan bergaji 25 sen perhari dapat menghabiskan 10 sen hanya untuk mabuk candu.  Sebutir tike (racikan candu) murah seharga lima sen di tahun 1889 mengandung mengandung 15 miligram  morfin.

Inilah zaman ketika orang boleh memakai narkoba sesukanya tanpa khawatir dirazia polisi. Asal ada uang kedai-kedai candu yang tersebar di berbagai tempat siap membuka pintu. Selain itu candu menjadi teman setia para penjudi hingga lelaki hidung belang di rumah-rumah pelesiran.

Tapi, dampak kesehatan yang ditimbulkan  candu telah lama menimbulkan polemik.  Para pembela tentu punya alibi tersendiri. Suluk Gatoloco sebuah karya sastra Jawa abad 19  menyebut opium tak sekedar membikin mabuk namun diyakini menambah vitalitas pria. Tapi dalam Wulang Reh, Pakubuana IV penguasa Surakarta mengutuk keras para pemadat.

Candu sendiri bukan tak bermanfaat. Kandungan morfinnya telah lama menjadi bagian dari pengobatan, penghilang rasa sakit paling ampuh.  Para ilmuan awal Islam semisal Muhammad ibn Zakariya al-Razi (845–930) hingga Abu al-Qasim al-Zahrawi (936–1013) sejak lama menggunakan morfin pada candu dalam tindakan medis.

Maka wajar jika berabad kemudian Thomas Sydenham seorang dokter Inggris di tahun 1680 menyebut  tak ada obat terbaik yang pernah  diturunkah tuhan ke bumi selain Opium. Hanya saja penyalahgunaan morfin inilah yang hingga kini jadi soal.

 

Perang dan Para Penyelundup Candu

Tapi, seperti lazimnya mafia narkoba moderen, gelimang uang dari peredarannya kerap berujung sengketa. Lengkap dengan intrik-intriknya. Dua babak Perang Opium antara Inggris dan China (1839 – 1842 dan 1856 – 1860) adalah buah dari bisnis candu.

Serangan Belanda ke Bali dan Lombok di penghujung abad ke-19 boleh jadi karena candu. Pulau ini adalah rumah bagi para penyelundup opium murah sebelum mengedarkannya ke Pulau Jawa.

Sejak 1879 hingga 1882 catatan –catatan yang dikumpulkan Residen Belanda di Banyuwangi, Bali dan Lombok menunjukkan angka yang fantastis. Setiap tahun  44.681,5 kg candu ilegal didistribusikan ke Jawa dari Bali.  Angka ini hampir setengah dari seluruh opium resmi yang dipasok Belanda untuk wilayah Jawa.  Kondisi ini benar-benar mengganggu pemerintah Hindia Belanda.

Terlebih ketika itu Kerajaan Lombok-Bali telah bersatu.  Para penyelundup mendapat izin-izin khusus dari kerajaan untuk mendatangkan candu dari Singapura. Salah satu yang paling kesohor adalah Oei Soen Tjioe adalah seorang penyelundup opium ternama yang mendapatkan izin menggunakan Karangasem sebagai  basis usahanya oleh Raja Mataram Lombok.

Kondisi ini turut membuat hubungan Belanda dengan Bali-Lombok semakin memanas. Karena ituah serangkaian aksi terus dilakukan untuk mencaplok dua pulau ini. Upaya Belanda akhirnya berhasil di tahun 1894 dengan lebih dulu mencaplok Lombok lewat perang mematikan. Kemudian satu persatu kerajaan-kerajaan kecil di Bali tunduk dalam perang-perang yang menelan puluhan ribu jiwa.

Narkoba sebagai bahan bakar penggerak perang dan revolusi terus terjadi hingga daat ini. Pada masa revolusi Indonesia, para pejuang republik pernah menyelundupkan ratusan peti candu ke Singapura  untuk ditukar dengan senjata. Lalu ada juga kisah  ladang-ladang ganja di pedalaman Aceh menjadi salah satu modal bagi kelompok bersenjata di masa orde baru.

Kemudian ladang opium yang hingga kini masih menjadi alat tukar bagi para pejuang Afghanistan untuk mendapatkan pasokan amunisi. Lalu dari hutan-hutan Kolombia para pejuang FARC juga tak lepas dari tata niaga kokain.  Produksi merekalah yang tersebar ke kota-kota besar dunia baik di Amerika dan Eropa.

Pabrik Narkoba : Suasana kerja di sebuah pabrik pengolahan opium di Batavia (Jakarta) sekitar bulan Mei 1936.( Sumber : Tropenmuseum via Wikipedia)

 

Narkoba Kini

 Hampir seluruh negara di dunia kini menetapkan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba (narkotika dan obat/bahan berbahaya) sebagai extraordinary crimes alias kejahatan yang luar biasa. Dampak buruk yang ditimbulkan oleh penyalah gunaan narkoba terbukti telah menjalar hampir ke semua lapisan masyarakat. Jumlah pemakainya terus meningkat.

Badan Narkotika Nasional  menaksir tahun 2016 lalu jumlah pengguna narkoba di Indonesia telah mencapai 5,9 juta orang. Angka ini naik signifikan  dari 4,2 juta pengguna di tahun 2014. Jika dibiarkan bukan tak mungkin peredaran gelap narkoba akan menyebar lebih banyak  lagi.

Pemerintah sebenarnya tidak diam dengan kasus ini.  Ini terlihat dari terus meningkatnya grafik pengungkapan kasus peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Januari 2015 misalnya jumlah narapidana kasus narkotika sebanyak 65.566 orang. Beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada Mei 2015, jumlah napi kasus narkotika meningkat menjadi 67.808 orang. Ini belum termasuk sanksi tegas berupa antrian napi yang menunggu untuk dihukum mati. (*)

*) Penulis : Zulhakim, penyuka seni dan budaya tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks