alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

1910: Fenomena Datu-Datuan dan Perlawanan Petani Lombok

Runtuhnya Kerajaan Mataram  di penghujung 1894 benar-benar mengubah keadaan sosial masyarakat Lombok. Belanda secara mutlak berkuasa dan menampakkan wajah kolonial yang sebenarnya. Bahkan lebih buruk dari penguasa yang digulingkan. Sejak itu perlawanan kelompok petani terus meletus bersama munculnya sosok-sosok “Ratu Adil”  dalam wajah sejumlah tokoh. Mereka hadir dan membangkitkan semangat para petani untuk melawan sistem kolonial dan para bangsawan tuan tanah yang menjadi kaki tangan Belanda.

 

———————————————

Tiga tahun setelah memenagkan perang, Belanda mampu mengukuhkan kekuasaannya atas seluruh Lombok. Mereka berhasil  memulihkan keadaan dan setelah mengambil alih kekuasaan dari Dinasti Mataram.

Namun Belanda yang awalnya diiharap sebagai pembebas, justru menampilkan watak kolonial yang sebenarnya. Mereka melakukan penghisapan jauh lebih kejam dari kerajaan yang digulingkan.

Alhasil masyarakat Sasak Jajar Karang dan Sudra Bali sebagai mayoritas semakin menderita. Belanda hanya membagi kue kekuasaan kepada sejumlah bangsawan Bali dan Sasak.

Selebihnya    masyarakat  bawah  semakin menderita. Mereka menjadi objek penjajahan berlapis baik oleh Belanda dan para bangsawan yang menjadi kaki tangan kolonial.

Baca Juga : 1897: Lalu Badil Serang Penjara Belanda di Praya dan Bebaskan Para Tahanan

Sebagai contoh Landrente Monografie West Lombok tahun 1938 menyebut  di Lombok Barat terdapat  sekitar 18 ribu hektare sawah. Dari jumlah itu tiga  keluarga bangsawan Bali bisa menguasai hingga sembilan persen sawah.

Hal serupa juga terjadi di Lombok Tengah dan Lombok Timur dimana para perwangsa Sasak menguasai sebagian besar tanah garapan.

Terpusatnya kepemilikan tanah pada segelintir kelompok  membuat para petani semakin  menderita. Terlebih dengan penetapan ragam pajak yang dibebankan Belanda pada petani.

Dalam kondisi demikian, para petani dan kelompok pekerja sebagai pihak yang kalah terus berupaya melawan. Tapi apalah daya para petani? Sekelompok sudra agrari yang hanya pandai bercocok tanam. Sedangkan para bangsawan, bekas pemimpin mereka di zaman perang dulu telah nyaman sebagai bagian dari pemerintah  kolonial.

Dalam kondisi ini hayalan akan datangnya juru selamat (Mesias)  pembebas kaum tertindas semakin dinantikan.

Baca Juga : April 1815, Jejak Letusan Tambora Mengubah Sejarah Dunia

Meminjam istilah Prof. Sartono Kartodirjo, warga merindukan sosok Ratu Adil yang diramalkan Jayabaya. Sosok yang akan membangkitkan harga diri kaum miskin dan menumpas para penjajah dan kroni-kroninya.

Harapan ini adalah salah satu bentuk perlawanan petani di masa penjajahan yang hampir merata di Indonesia. Di berbagai daerah muncul tokoh-tokoh lokal sebagai seorang “imam” yang memimpin perlawanan.

Misalnya Peristiwa Mangkuwijaya di Klaten pada 1865, Peristiwa Nyi Aciah, di Malangbong  1870,  Gerakan Mas Malangyuda dari Rajawana Kidul 1877,  Pemberontakan Srikaton di Cilegon 1888,  Peristiwa Tegalreja oleh Dulmadjid 1889 dan lainnya.

Bahkan Sartono menyebut Perang Diponegoro adalah bagian dari gerakan mesianistic masyarakat Jawa yang paling besar. Karisma Pangeran Deponegoro yang dianggap sebagai Ratu Adil yang telah dijanjikan mampu membangkitkan perlawanan.

 

Guru Dane dan Fenomen Datu-datuan

Sementara itu di Lombok, Alfons van Der Kraan mencatat  gerakan ini sebagai  lahirnya fenomena Datu-datuan. Yakni lahirnya sejumlah figur lokal “guru” di kalangan masyarakat Bali dan Sasak  Lombok. Tokoh-tokoh ini datang sebagai pemimpin dengan ciri memiliki kemampuan supranatural lebih tinggi dari orang kebanyakan.

Mereka lahir mengisi kekosongan pemimpin sebagai panutan bagi masyarakat kebanyakan setelah kuasa Kerajaan Mataram tumbang. Tentu saja dengan bumbu-bumbu romantisme lampau bahwa figur itu memiliki keterkaitan dengan raja-raja terdahulu.

Tahun 1910 misalnya seorang Sudra Bali hadir dengan ratusan pengikut setia. Ia berkelana ke berbagai penjuru  Lombok dengan membawa kabar bahwa Anak Agung Ketut putra mahkota  yang tewas tahun 1894 akan reinkarnasi menjadi Garuda. Kelak  ia akan menitis dalam wujud manusia di Istananya di Gunungsari untuk memimpin warga melawan Belanda.

Baca Juga :  Ampenan 1889 : Sahbandar Eksekusi Mati Budak Pelarian

Sementara di Sakra tahun 1920, muncul seorang tokoh yang mengaku sebagai utusan Dewi Anjani. Disini ia lekas populer di kalangan petani yang butuh patron politik dan spiritual.

Sementara itu di Jonggat tahun 1927 muncul seorang pria yang mengaku sebagai Datu Jayengrana, tokoh mitologi dalam lakon Wayang  Menak Sasak.

Dalam wujut pria paro baya yang pincang, Datu Jayengrana berhasil menghimpun banyak pengikut berkat kemampuan spiritual dan retorikanya tentang zaman keemasan yang  telah dijanjikan.

Selain mereka banyak lagi figur lain yang mampu mengumpulkan massa dan membuat wibawa pemerintah kolonial meredup. Dari semua itu sosok “Datu” di zaman itu yang paling fenomenal adalah Guru Dane.

Laporan Asisten Residen Lombok Tahun 1908 menyebut Guru Dane merupakan anak dari warga Sasak kebanyakan di Kuripan, Lobar.

Lahir sekitar tahun 1870, Guru Dane muda memiliki kecakapan sebagai seorang pengajar  dan penutur yang baik. Dia diyakini memiliki kemampuan mengobati.

Baca Juga : Lombok 1856 : Kisah Raja Mataram Memberantas Korupsi

Karena itu sejak belia dia berkeliling dari satu desa ke desa yang lain menyebarkan ajarannya.  Dengan gelar Lalu Nurlimbu Dusta Pendita dan Dewa Mas Panji Kimalan sosok Guru Dane semakin disegani. Para pengikutnya meyakini Guru Dane adalah Datu Sasak dari Trah Selaparang yang datang dari masa lalu.

Dalam novel  “Guru Dane” Dr Salman Faris menyebut Guru Dane bahkan mampu menarik pengikut dari warga Sasak dan Bali sekaligus.

Dengan pengikut yang semakin banyak para pejabat Belanda mulai khawatir. Kepala Desa Pujut mengadu kepada Residen Belanda bagaimana wibawanya kalah oleh Guru Dane. Para petani lebih menuruti Guru Dane dan mulai berani membangkang terkait pembayaran pajak maupun kerja korve.

Alhasil bulan April 1906 Guru Dane ditangkap dan dihukum kerja paksa selama enam bulan. Setelah bebas, Oktober 1906 Guru Dane akhirnya pindah dari Pujut ke Tempos, Lombok Barat.

Konon dalam kepindahan itu ia melarikan seorang gadis bangsawan. Meski ada aturan yang melarang lelaki Jajar Karang tak boleh menikahi gadis menak (bangsawan, Red)  namun ketenaran dan pengaruh Guru Dane yang telah mengakar membuat ayah sang gadis tak keberatan.

Malah Guru Dane lah yang dikirimi maskawain berupa 20 ekor sapi. Dan demikian di tempat yang baru ini pengaruh Guru Dane semakin luas. Pengikutnya semakin banyak dan membuat Belanda dan krooni-kroninya kalah pamor.

Baca Juga : Lombok 1934 : Jejak Gemilang Bandara Rambang

Namun hal ini kembali membuatnya harus berurusan dengan penguasa. Serangkaian tuduhan kepadanya dilontarkan. Terakhir Ia dituduh melakukan penipuan dan dijatuhi hukuman kerja paksa selama setahun.

Awalnya Guru Dane mendapat hukuman kerja paksa di Taman Narmada. Namun kabar soal kehadirannya di Narmada menyebar ke berbagai penjuru. Para pengikutnya terus berdatangan. Alhasil ia dipindahkan ke penjara di Mataram.

Hanya saja di lokasi barunya ini Guru Dane justru mendapat perlakuan istimewa dari para sipir penjara. Pesonanya sebagai pemimpin kharismatik menyihir para petugas. Inilah yang membuat Belanda menempatkannya dalam sel terpisah di rutan Praya.

Sebenarnya Februari 1908, masa hukuman Guru Dane habis, namun luasnya pengaruh Dane membuat Belanda mencari-cari alasan agar ia bisa ditahan lebih lama dan dibuang keluar Lombok.

“Dane adalah seorang yang bertingkah laku seperti orang  gila, tetapi ia tidak gila. Ia adalah seorang fanatik yang berbahaya. Ia bahkan lebih berbahaya karena  disini ia mempunyai segolongan pengikut yang patuh , sangat mudah digerakkan untuk melakukan semua jenis kejahatan…” ujar Asisten Residen Kalff dalam laporannya terkait Guru Dane pada 23 September 1908.

Residen De Bruijn Kops menyetujui anjuran asistennya agar melaporkan kondisi ini kepada Gubernur Jenderal Van Heutsz di Batavia. Tujuannya agar mengizinkan Guru Dane dibuang keluar Lombok. Namun Van Heutsz menganggap persoalan Dane belum terlalu menghawatirkan sehingga ia harus diasingkan.

Guru Dane kemudian dibebaskan dan menetap di Pejanggik, Lombok Tengah. Kabar kebebasan ini membuat pamor Guru Dane semakin tinggi. Pengikutnya semakin banyak.

Terlebih di tahun 1910, sasus berkembang bahwa Dane akan memimpin warga untuk perang melawan kompeni.

Sasus ini membuat Dane kembali ditahan selama tiga bulan. Demikian seterusnya pengaaruh Guru Dane telah merongrong wibawa pemerintah kolonial. Warga bersatu dan berani melawan.

Puncaknya Oktober 1917, Raden Nurakse, Kepala Distrik Rarang mengadukan kewibawaan pemerintahannya dirongrong oleh pengaruh Guru Dane.

Warga berani melawan dan  tak patuh membayar pajak. Atas aduan ini 25 Oktober 1917 sekitar 50 orang polisi mengepung rumah Guru Dane di Anjani.

Baca Juga : Ampenan 1992 : Akhir Cerita Bioskop Ramayana

Ia ditangkap bersama 30 pengikutnya dan ditahan di Mataram. Dari sini kemudian Guru Dana dibawa menggunakan kapal untuk diasingkan ke Buleleng, Bali.

Setelah Guru Dane pergi sejumlah Guru-Guru lainnya lahir di berbagai tempat hingga zaman kemerdekaan.

Mereka menjadi patron para petani untuk melakukan perlawanan. Kelak kepulangan para pelajar Lombok yang menimba ilmu dari Mekkah sedikit mengubah warna figur para Guru ini.

Mereka bermetamorfosa dalam warna Islam menjadi Tuan Guru. Seperti halnya para Guru-guru terdahulu para Tuan Guru menjadi pemimpin perlawanan para petani dan rakyat kebanyakan.

Memang hampir tak ada perang yang dimenangkan pera petani Lombok tersebut melawan Belanda dan kaki tangannya. Mereka melawan dan terus ditumbangkan.

Tapi  dalam hening lirik lagu Sasak, Tegining-teganang   merawat  semangat perlawanan para petani Lombok  pada para penguasa yang lalim. “Ongkat dengan Tegining-teganang loeq cerite, ngalahing datu sak beleq-beleq ongkatne.”  

Mereka memang tak menang. Namun setidaknya  mereka pernah melawan, sebaik-baiknya sekuat-kuatnya .( r2)

 

Penulis : Zulhakim, tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks