alexametrics
Selasa, 20 April 2021
Selasa, 20 April 2021

Lombok 1856 : Kisah Raja Mataram Memberantas Korupsi

Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, korupsi telah lama menjadi penyakit akut yang merongrong kerajaan-kerajaan Nusantara. Di paruh pertama abad ke 19, Raja Mataram Lombok juga dipusingkan oleh persoalan yang satu ini.

———————————

Lombok di pedalaman abad 19 adalah salah satu penghasil beras terbesar di Hindia. Inilah komoditi ekspor utamanya selain sapi, kuda dan kopi. Di tahun 1855-1856 misalnya, terdapat 13 kapal asing bersandar di Ampenan. Seluruhnya datang membeli beras.

Dari Ampenan beras dikapalkan ke Hongkong, Singapura hingga Australia. Ini belum termasuk kapal-kapal kecil yang mengirim beras antar pulau.

Henk Schulte Nordholt dalam The Mads Lange Connection menyebut ramainya perdagangan ini tak lepas dari peran para pedagang asing yang mempromosikan kualitas dan harga beras Lombok yang cukup bersaing.

Iklan beras murah Lombok bertebaran di sejumlah koran di Bandar Bandar utama Asia. Ini belum termasuk posisi Lombok yang strategis di jalur utama pelayaran internasional.

Laporan Kontroleur Heylingers misalnya menyebut di tahun 1883 Lombok mengekspor sekitar 24 ribu ton beras. Jumlah yang sangat besar di masa itu.

Ramainya aktivitas ekspor impor di Lombok membuat Raja Mataram yang berkuasa di zaman itu disebut sebagai salah satu pribumi terkaya di Nusantara.

Baca Juga : Lombok 1934 : Jejak Gemilang Bandara Rambang

Tapi melimpahnya hasil beras kerajaan bukan tanpa ancaman. Korupsi dari para pejabat kerajaan membuat raja resah. Mereka memperkaya diri melalui jalur panjang distribusi gabah dari ladang petani hingga lumbung beras kerajaan.

Soal yang satu ini, naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace yang berkunjung ke Lombok antara Juni-Juli 1856 itu punya cerita sendiri. Ia menuliskan satu babak khusus tentang upaya Raja Mataram memutus mata rantai korupsi di negerinya dalam buku The Malay Archipelago.

Alkisah, suatu hari raja mulai mengendus perilaku buruk para penggawa kerajaan yang kerap menyelewengkan padi saat musim panen tiba.

Baca Juga : Operasi Starfish 1945: Misi Rahasia Australia yang Gagal di Sekotong

Awalnya, raja heran dengan laporan bendaharanya yang menyebutkan jumlah padi yang disetor pada musim panen terus menurun. Padahal kualitas panen setiap tahun terus membaik dan hampir tidak ada gagal panen di kerajaannya.

Sebuah tim khusus diturunkan secara rahasia untuk melakukan investigasi. Hasilnya diketahui, padi-padi tersebut banyak diselewengkan. Alur pengumpulan padi dari para petani penggarap demikian panjang jadi celah penyelewengan. Sementara para pejabatnya semakin kaya namun jumlah yang disetor ke negara menyusut.

Para kepala kampung yang mengumpulkan padi dari petani sering mengambil sejumlah bagian dari jumlah yang disetorkan. Alasannya para pejabat desa ini harus menunjukkan kewibawaan dengan menunjukkan isi lumbung mereka lebih dari penduduk lainnya.

Demikian halnya saat padi tersebut dikirim ke Wedana, jumlahnya semakin menurun karena Wedana juga mengambil jatah. Tak berhenti disini para pangeran sebagai pengumpul terakhir sebelum diserahkan ke gudang kerajaan juga tak mau ketinggalan untuk korupsi bergilir.

Sejumlah tentara Belanda terlihat di Taman Mayura sekitar tahun 1894. (sumber . https://www.europeana.eu/)

Raja sebenarnya tahu bawahaannya ini korupsi. Namun ia kesulitan untuk membuktikan lantaran tidak mempunyai data berapa jumlah penduduk secara keseluruhan. Maksudnya, jika raja mengetahui jumlah penduduk maka jumlah padi yang harus di setorkan ke negara akan terlihat jelas dengan cara menghitung kewajiban perpenduduk dikali jumlah penduduk tersebut.

Karena itu raja ingin melaksanakan cacah jiwa (sensus penduduk). Namun pertanyaannya bagaimana agar para aparat pemerintahan yang ditugaskan tidak tahu bahwa tujuan sensus ini untuk menghitung jumlah harta yang mereka korupsi setiap musim padi.

Hampir sepekan raja berpikir keras mengenai strategi sensus ini agar bisa berjalan secara rahasia. Inilah yang membuat Raja terlihat murung dan hanya mengurung diri dalam istananya di Cakranegara.

Raja yang murung dan lesu membuat seisi istana gundah. Bahkan tersiar kabar bahwa raja terkena guna-guna. Semua orang saling curiga. Pendeta dan orang pintar juga ikut mencari siapa gerangan yang berani meneluh sang raja.

Baca Juga : Lombok hingga Batavia: Perburuan Rempah dan Hasrat Para Penjajah

Saking tingginya kecurigaan, seorang nakhoda kapal asal Irlandia yang kebetulan memiliki tampang sangar hampir jadi korban. Karena wajahnya yang menyeramkan itu ia ditangkap. Ia dikira tukang sihir dan nyaris ditusuk dengan keris.

Beruntung setelah menjelaskan kepada petugas bahwa ia, hanya seorang nahkoda kapal yang hendak mengangkut beras dari pelabuhan nyawanya selamat. Ia, diperkenankan kembali ke Ampenan, namun kapalnya belum diizinkan berlayar.

Dalam penyendirian itu, ahirnya ide briliant itu muncul. Aha…!!!!!. Raja mengumpulkan semua pejabat, pendeta dan pangeran yang ada di Mataram.

“Selama beberapa hari hatiku sangat sakit, tetapi aku tidak tahu sebabnya. Akan tetapi sekarang kesusuahan itu hilang karena aku telah bermimpi. Semalam Roh (penunggu) Gunung Agung muncul dihadapanku dan berkata agar aku pergi ke puncak gunung (Gunung Rinjani). Kalian semua boleh menyertaiku hingga mendekati puncak, tapi kemudian aku harus mendaki sendiri dan Roh Agung akan muncul dihadapanku. Ia akan mengatakan sesuatu yang penting bagiku, bagi kalian penduduk pulau ini. Sekarang pergilah ke seluruh pulau. Selain itu tiap kampung harus menyediakan tenaga untuk merambah (membuat) jalan agar kita dapat melewati hutan dan naik ke puncak gunung,’’ ujar raja.

Suasana Cakranegara diambil oleh ilmuan Franz Heger sekitar tahun 1904. (sumber : europeana.eu)

Tersebarlah kabar bahwa raja akan mendaki Rinjani. Seluruh desa yang akan dilalui bergotong royong menyiapkan jalan yang akan dilalui iring-iringan sang raja. Bukit diratakan, jurang dibuatkan jembatan
dan semua penduduk melibatkan diri dalam misi besar ini.

Sementara itu para pejabat mempersiapkan membagi rute menjadi beberapa etape. Dalam setiap ahir etape sebuah lokasi peristirahatan untuk raja dibangun berserta perlengkapan lainnya. Setelah persiapan dirasa cukup para pangeran, pendeta dan pejabat menghadap raja untuk mengabarkan persiapan.

“Sapi-sapi terbaik dipotong. Dagingnya kemudian diasinkan dan dijemur. Cabai dan ubi jalar dikumpulkan, buah pinang diambil dan daun sirih diikat dalam berkas. Tiap-tiap orang mengisi kantung tembakau dan kotak sirihnya sampai penuh sehingga tak kekurangan bahan menyirih selama perjalanan. Bahan-bahan makanan dikirim sehari sebelum perjalanan,’’ ujar Wallace menggambarkan sibuknya rakyat mempersiapkan perjalanan sang raja.

Baca Juga : Lombok dan Jejak Penemuan Teori Evolusi

Hari yang ditentukan tiba. Masyarakat yang ingin ikut telah datang di sekitar istana sejak semalam. Raja berangkat dengan sebuah kuda besar yang tinggi. Tanpa sanggurdi dan pelana, raja tetap berwibawa di atas kain cerah yang melapisi punggung kuda.

Sementara para pejabat yang lebih rendah dan masyarakat lainnya harus menyesuaikan mengendarai kuda yang lebih pendek. Sementara pengiring memanjang di belakang berjalan kaki sambil memikul perlengkapan.

Di setiap kampung yang dilalui, masyarakat menunduk memberi hormat pada iring-iringan ini. Di semua tempat yang akan menjadi penginapan raja, warga telah membangun sebuah balai-balai dari bambu sebagai tempat peristirahatan lengkap dengan dapur umum sarana lainnya.

Hari kedua, rombongan ini telah sampai di perkampungan terakhir yang berbatasan dengan hutan. Pada hari keempat raja telah berada di pelawangan. Ia, kemudian mendaki puncak diiringi para pendeta dan pangeran yang terlihat letih. Terkadang mereka harus ditandu para pengiring untuk melajutkan perjalanan.

Dalam belaian angin pagi Raja dan sejumlah kecil pengiring hampir tiba di puncak. Ia, meminta para pejabat yang menyertai menunggu di tempat. Raja naik ke puncak yang hanya berjarak beberapa puluh meter ditemani ajudan dalam jarak beberapa meter saja.

Lama raja menyendiri di puncak gunung hingga bocah pengiringnya tertidur. Cukup lama sang raja berada disana. Sementara para pendeta dan punggawa lain yang menunggu di kejauhan, bertanya-tanya apa gerangan yang disampaikan Roh Agung kepada raja.

Beberapa saat kemudian raja turun dari puncak bukit dengan air muka serius. Rautnya seperti orang yang baru menerima kabar yang maha penting. Dia tak berkata apapun. Ia meminta semua pengiring untuk menemaninya pulang.

Hari-hari itu tak ada yang paling ditunggu selain apa gerangan titah sang roh agung kepada raja. Ini menjadi perbincangan hangat, di pasar, langgar, pura hingga alun-alun kota dan persawahan. Semua menunggu pengumuman dari raja.

Tiga hari kemudian, Raja mengumpulkan para pendeta, pejabat dan pangeran. Inilah saatnya perintah dari Roh Agung itu di sebarkan. Dihadapan mereka yang telah hadir, Raja menuturkan wangsit yang diterimanya dari puncak Rinjani.

‘’O,,,,, Raja! Banyak wabah penyakit dan bencana akan melanda bumi, melanda manusia, melanda kuda dan melanda ternak. Akan tetapi karena aku tau kau dan rakyatmu mematuhiku serta telah datang mendaki gunungku yang agung aku akan memberitahu cara menghindar dari malapetaka itu.’’ kata raja menirukan wangsit yang ia terima.

Semua yang hadir masih berdebar-debar apa gerangan cara untuk menghindar dari malapetaka ini. Setelah diam sejenak, raja kemudian memberitahukan bahwa Roh Agung meminta untuk dibuatkan 12 bilah keris. Bahan keris itu terbuat dari jarum sesuai dengan jumlah penduduk di setiap desa.

Maka setiap kepala desa harus mengumpulkan jarum sesuai dengan jumlah warga yang dipimpinnya. Kelak jika ada desa yang terkena wabah penyakit, sebilah keris itu akan dikirim ke desa tersebut sebagai penangkal.

Namun, kata raja menegaskan. Jika jumlah jarum yang dikumpulkan untuk membuat keris itu sesuai dengan jumlah penduduk keris ini akan mqmpu menolak bala. Dan sebaliknya jika jumlah jarum tersebut kurang wabah akan semakin menggila.

Semua pangeran dan kepala desa segera menyebar mengabarkan berita luar biasa ini. Dengan cepat para kepala desa mengumpulkan jarum dalam ikatan sesuai dengan jumlah penduduk. Melihat kesigapan ini raja tersenyum simpul melihat misinya berjalan lancar.

Lalu pada satu hari yang ditentukan, jarum-jarum yang diminta telah terkumpul. Raja menerimanya sendiri kemudian mencatat jumlah jarum dari setiap sesuai dengan penduduknya. Data penduduk masing-masing akhirnya terkumpul.

Jarum-jarum itu kemudian diserahkan ke empu pembuat keris untuk dilebur dan ditempa.

Tak lama setelah keris selesai musim panen tiba. Para kepala daerah dan kepala desa mengantar upeti masing-masing ke istana. Bila jumlah upeti ini hanya berkurang sedikit dari sewajarnya raja tak mengatakan apapun. Akan tetapi kalau upeti itu berkurang hingga setengah atau seperempat, maka kini raja tau apa yang harus dikatakan pada para kepala desa yang korup itu.

“Jarum yang kamu kirim dari desamu jauh lebih banyak dari desa lain, tapi upetimu lebih sedikit dari upetinya. Kembalilah dan periksa siapa yang tidak membayar pajak,’’ kata raja.

Dengan strategi ini tahun-tahun berikutnya setoran upeti hasil bumi terus meninggi karena raja tau siapa yang korupsi. Dan bagi para koruptor yang tetap nekat raja memberlakukan hukuman mati.

‘’Raja Lombok (Anak Agung) pun menjadi kaya raya, ia menambah jumlah prajurit. Membeli perhiasan emas untuk para isterinya. Membeli kuda hitam dari orang Belanda dan mengadakan pesta-pesta besar bila anaknya lahir atau menikah, Tidak ada raja atau sultan yang di kalangan orang Melayu yang dapat menandingi kebesaran Raja Lombok,’’ kata Wallace.

Sementara untuk Keris, masyarakat tetap percaya akan tuahnya. Setiap ada bencana benda keramat ini dikeluarkan. Ia akan dikembalikan ke istana ketika wabah selesai yang diiringi dengan upacara penyelamatan. Dan jika keris tidak dapat menolak bala, mereka akan tahu bahwa ada kejanggalan dalam pengiriman jarum untuk membuat keris itu. (r2)

 

*) Penulis : Zulhakim, penyuka seni dan budaya tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @kedjoule31

*) Artikel ini pertama kali terbit di Koran Lombok Post Juni 2017

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks