alexametrics
Rabu, 21 April 2021
Rabu, 21 April 2021

Lombok 1839 : Perang Saudara dan Persaingan Tanjung Karang – Ampenan

Jauh sebelum Ampenan sohor sebagai pelabuhan besar, Tanjung Karang pernah menjadi bandar utama yang disinggahi kapal-kapal dunia. Namun perang saudara yang meletus tahun 1838-1839 mengakhiri riwayat pelabuhan ini. Ia limbung dan tak pernah bangkit lagi hingga kini.

———————————————-

Matahari lebih sepenggalah saat kami tiba di Pantai Tanjung Karang, Kamis 2 April 2021 kemarin. Perahu nelayan dan hamparan pasir hitam menyambut saya dan empat anggota Lombok Heritage Science and Society (LHSS) lainnya. Agung, Zainal, Ali dan Widya.

Seharusnya kami berenam, namun satu kawan berhalangan. Tumpukan dokumen dan sebuah peta tua menuntun kami datang kemari. Mengenang kembali sejarah yang hilang di Tanjung Karang.

Tapi hampir tak ada yang tersisa lagi. Padahal 270 tahun lalu Tanjung Karang adalah bandar ramai yang dikunjungi kapal-kapal besar dari penjuru bumi.

Bahkan dari muara sungainya rakit dan sampan hilir mudik memunggah barang hingga ke jantung Mataram. Berabad lamanya, Tanjung Karang menjadi gerbang timbul dan tenggelamnya peradaban.

BACA JUGA : Lombok dan Jejak Penemuan Teori Evolusi

Tanjung Karang kini terkesan kumuh dengan tumpukan sampah di pesisirnya. Lesu dan tak terawat. Siang itu pengunjung tidak lebih dari tujuh orang. Dua warung kopi, sepi pembeli. Seperti tempat ini, pedagangnya terlihat letih dan menahan kantuk dengan wajah terlipat.

Agustus 1741, nama Tanjung Karang tertulis jelas dalam lembaran surat dari I Gusti Wayan Tegah kepada Hendrik Smout, pimpinan maskapai dagang Hindia Timur alias Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Makassar. Byvanck mengulas surat ini dalam Onze Betrekkingen tot Lombok yang terangkum dalam De Gids volume IV tahun 1894 .

Byvanck menyebut, melalui surat ini Wayan Tegah ingin menjalin kerjasama perdagangan dengan Belanda. Sayang surat tersebut belum mampu menarik minat VOC untuk datang.

Mengenai siapa sebenarnya Wayan Tegah, sejumlah sumber menyebut dia bangsawan Karangasem tulen. Namun JF Stutterheim meyakini dia berdarah Sasak dari sang ayah. Boleh jadi inilah yang membuat bisa diterima sebagai raja di Mataram di awal abad ke 18.

BACA JUGA : Operasi Starfish 1945: Misi Rahasia Australia yang Gagal di Sekotong

Bahkan dalam surat-suratnya ia tak sungkan menyebut diri sebagai Koning Selaparang alias penguasa utuh tanah Selaparang dan seluruh taklukannya.

Sebenarnya Maret 1742, ia kembali mengirimkan surat serupa ke Makassar. Namun ia tak mendapatkan jawaban memuaskan dari Belanda. Tegah mulai mengalihkan perhatianya kepada para pedagang Inggris.

Gde Parimartha dalam Lombok Abad XIX menyebut, usaha Wayan Tegah mendekati pedagang Inggris membuahkan hasil. Tanjung Karang disinggahi banyak kapal kapal dagang berbendera Inggris. Terutama kapal kapal yang sedang mengangkut rempah dari Maluku.

Selain itu, Wayan Tegah juga membuka pintu untuk para pedagang nusantara. Diantaranya para pedagang dar Bengkulu. Salah satu pedagang Bengkulu yang tercatat kerap bongkar muat di Tanjung Karang bernama Daeng Manupa.

Alhasil di bawah kepemimpinan Tegah, tahun 1760, Tanjung Karang tumbuh sebagai pelabuhan ramai yang yang banyak disinggahi kapal asing. Bukan sekadar pelabuhan, Tanjung Karang dan sekitarnya tumbuh menjadi kota dagang dengan kantor-kantor perwakilan dagang internasional.

BACA JUGA : Lombok 1856 : Kisah Raja Mataram Memberantas Korupsi

Namun sinar gemilang Tanjung Karang perlahan memudar menyusul menyusul kematian Wayan Tagah tahun 1775. Perang saudara para pewaris membuat para pedagang enggan datang.

Alfons van der Kraan dalam Lombok : Conquest, Colonization, and Underdevelopment, 1870-1940 menyebut saat itu kerajaan terpecah menjadi empat kekuatan utama. Para pengeran berebut kuasa. Yakni Cakranegara (Karangasem Sasak), Mataram, Pagesangan dan Pagutan. Dari empat kekuatan itu, Karangasem Sasak dan Mataram adalah dua kekuatan terbesar.

Karangasem Sasak, memanfaatkan Tanjung Karang sebagai pelabuhan utamanya, sedangkan Mataram menggunakan pelabuhan Ampenan. Awalnya persaingan dua pelabuhan ini sempat membuat perdagangan di pantai barat Lombok menggeliat.

Para pedagang Perancis dan Bourbon kerap singgah melakukan pertukaran. Mereka menyukai beras berkualitas dengan harga terjangkau yang tersedia di Tanjung Karang.

Mads Johansen Lange
(Sumber : Wikipedia)

Dalam babak inilah sejarah kemudian mengenang seorang saudagar muda asal Denmark, Mads Johansen Lange. Pria kelahiran Rudkobing, Denmark 18 September 1807 itu menjadi bagian penting dalam sejarah Tanjung Karang.

Mads Lange muda tiba di Lombok sekitar tahun 1830 bersama rekannya John Burd, kapten kapal The Syden. Awalnya mereka merupakan perwakilan dagang untuk perusahaan multinasional Jardine Matheson & Co yang berpusat di Canton, China.

Namun berkat hubungan baiknya dengan Raja Karangasem Sasak, memudahkan mereka membangun sebuah firma sendiri bernama Burd & Co. Raja memberinya izin tinggal dan membangun kantor di Tanjung Karang.

Dari tempat ini Mads Lange mengumpulkan aneka hasil bumi mulai dari beras, ternak, kayu sepang dan lainnya untuk diekspor ke China, Singapura, Mauritius dan Australia. Dari luar ia kemudian memasok ragam barang semisal candu (opium) kain lena, amunisi dan senjata.

BACA JUGA : 1897: Lalu Badil Serang Penjara Belanda di Praya dan Bebaskan Para Tahanan

Kesuksesan Mads Lange bukan tanpa saingan. Di periode yang sama muncul juga seorang saudagar Inggris, George Peacock King alias GP King. Seperti halnya Mads Lange ia juga merupakan pengumpul hasil bumi dan memasok ragam kebutuhan dari mancanegara.

Bedanya, GP King memilih para Pangeran dari Puri Mataram sebagai patron. Karena itu ia membangun pusat usaha di Pelabuhan Ampenan. Geliat perekonomian di pesisir barat Lombok semakin hidup. 1836 tercatat ada 18 kapal asing milik pengusaha Inggris dan Prancis rutin bongkar muat di Tanjung Karang dan Ampenan.

Namun demikian kondisi ini tak berlangsung lama. Intrik perebutan kuasa akhirnya pecah menjadi perang saudara terbuka tahun 1838-1839. Puri Mataram bersiap melawan saudara tuanya di Tanjung Karang.

Tak pelak, konflik ini menarik Mads Lange dan GP King dalam kubu bersebrangan. King di pihak Mataram mengerahkan ratusan personel dan kapal dagangnya untuk keperluan perang. Mereka mengangkut senjata Mataram yang dibeli dari Singapura serta bala bantuan prajurit dari Karangasem Bali.

Sementara Mads Lange dengan persenjataan dan pengalaman militernya membantu Raja Tua dari Purinya di Tanjung Karang. Hasilnya seperti tertulis sejarah kubu Tanjung Karang yang dibela Mads Lange kalah.

Kekalahan ini membuat Lange menjadi buronan Mataram. Ludvig V Helms dalam Pioneering in The Far East (1882) mengulas bagaimana detik-detik Mads Lange menyelamatkan diri dari Tanjung Karang.

BACA JUGA : Ampenan 1889 : Sahbandar Eksekusi Mati Budak Pelarian

Dalam detik-detik menegangkan itu Lange nyaris terbunuh. Beruntung ia terselamatkan oleh kuda tunggangannya. Konon dalam kepungan itu ia sempat menembak kepala seorang prajurit yang menghalangi dirinya menuju pantai. Ia berhasil kabur dan berenang menuju kapal yang siap membawanya ke Bali.

Kemenangan Puri Mataram membuat Pelabuhan Tanjung Karang mulai dilupakan. Keluarga Puri Mataram sebagai penguasa baru lebih memilih Ampenan sebagai pelabuhan utama. Sebagai bagian dari pemenang perang posisi GP King sebgai pengusaha utama di Ampenan semakin kokoh.

 

Hidup Kedua Mads Lange

Sementara itu dalam pelariannya Mads Lange mendapat perlindungan dari sahabat lamanya John Burd di Kuta, Bali. Disana ia memulai kembali usahanya sebagai agen perdagangan bagi I Gusti Gede Ngurah Kesiman (Raja Kesiman) salah satu bangsawan paling berpengaruh di Kerajaan Badung.

Di Kuta, nasib baik menaungi Mads Lange. Ia mampu membangun imperium bisnisnya jauh lebih besar dan kuat dibanding apa yang telah hilang di Tanjung Karang.

Ludvig Helms, menggambarkan sebagai simbol keberhasilannya Mads Lange membangun rumah mewah bercat putih ala Eropa. Lengkap dengan segala perabot terbaik di zamannya, mulai dari meja biliar, bar pribadi hingga pemutar musik. Ini belum termasuk pabrik dan komplek pergudangan sebagai basis usaha.

Pabrik : Lukisan suasana pabrik dan pekerja perusahaan milik Mads Lange di Kuta Bali sekitar tahun 1845. (Sumber Foto : Wikipedia)

Dalam naungan Puri Kesiman, ia menjadi pengusaha utama di Bali Selatan. Tak hanya soal perdagangan pihak kerajaan juga kerap mempercayai Mads Lange dalam urusan-urusan diplomatik dengan bangsa-bangsa Eropa. Karena itulah para pendatang Eropa menjulukinya sebagai King of Bali (Raja Bali).

Namun demikian intimnya keterlibatan Mads Lange dalam urusan internal kerajaan dengan Belanda diyakini menjadi penyebabnya kematiannya di usia relatif muda (48 tahun) pada 13 Mei 1856. Kuat dugaan ia diracun.

BACA JUGA : Lombok 1934 : Jejak Gemilang Bandara Rambang

Sementara itu dari pernikahannya dengan seorang perempuan Bali ia dikaruniai dua putra William dan Andreas Peter. Kemedian dari seorang Tionghoa, ia mendapat seorang putri bernama Cecilia Catharina. Kelak Cecilia menikah dengan Pangeran dari Kesultanan Johor, Malaysia. Dari rahim Cecilia ini lahir Sultan Ibrahim of Johor yang keturunanya masih berkuasa hingga kini.

Kenangan Mads Lange

Di Bali, nama Mads Lange masih harum dan diabadikan sebagai nama jalan. Makamnya di Jalur Bypass Ngurah-Rai, Kuta terawat dan kerap diziarahi para pelancong. Bahkan keturanannya dari Kesultanan Johor secara khusus datang untuk memugar.

Namun kondisi berbeda di Tanjung Karang. Tak ada petilasan atau penanda bahwa ia pernah membangun pesisir di Muara Ancar ini sebagai pelabuhan besar. Seperti halnya I Gusti Wayan Tegah, sosok Mads Lange juga hilang dan dilupakan. Dan selebihnya adalah kenangan tentang semua yang telah hilang. Disini. Di Tanjung Karang.

*) Penulis : Gegen Redrebels dari Lombok Heritage and Science Society (LHSS)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks