alexametrics
Senin, 24 Januari 2022
Senin, 24 Januari 2022

Lombok Abad ke-18 : Metropolitan Kuno Bernama Cakranegara

Jauh di pedalaman abad ke-18, Cakranegara, Lombok telah memberi contoh bagaimana seharusnya sebuah kota dibangun. Kota yang dirancang secara sadar dengan masterplan modern yang melampaui zamannya. Sisa-sisanya masih kita bisa lihat kini Kota Cakra tersusun dalam blok-blok persegi (grid pattern) dengan  jalan dan gang-gang lebar presisi yang terhubung satu sama lain. Apa kabarnya kini?

————————————————

Spiro Kostof dalam The City Shaped (1991), membagi pertumbuhan kota menjadi dua bentuk. Yang pertama adalah kota yang pada awalnya dirancang secara sadar menurut kepentingan dan filosopi tertentu. Disini  penguasa yang membangun kota menyiapkan masterplan jauh sebelum rumah-rumah dan permukiman dibangun. Yang kedua adalah  kota yang tumbuh secara alami mengikuti naluri dan kebutuhan penduduknya.

Di Indonesia jarang sekali ada kota yang pada awalnya dirancang secara sadar dan diatur sedemikian rupa. Sebagian besar adalah kota yang tumbuh secara alami mengikuti naluri kebutuhan warga dan pemodal.

Hasilnya terlihat kini dalam bentuk tata kota tak beraturan cenderung semrawut. Bahkan dalam banyak kasus, pembangunan  mengabaikan bentang alam yang semestinya tak boleh dibangun seperti sempadan sungai dan daerah resapan air.

Baca Juga  : Lombok 1856 : Kisah Raja Mataram Memberantas Korupsi

Maka tak heran jika bencana alam tiba warga kota kalang kabut. Banjir datang karena saluran air telah ditumbuhi beton dan dibebat aspal. Belum lagi ketika kebakaran maupun gempa. Kota yang tak teratur menyulitkan evakuasi.

Karena itu diantara sedikit kota yang dibangun dengan grand design, Cakranegara adalah pengecualian. Ini adalah kota yang dibangun ulang di permulaan abad ke-18 oleh klan Karangasem yang berkuasa di masa itu. Kota ini kemudian disempurnakan kembali  oleh dinasti Kerajaan Mataram  setelah perang suadara 1838.

Kota yang didesain berdasarkan mitologi Hindu. Dataran rendah Cakranegara dibagi dalam blok-blok pemukiman dengan menempatkan Pura Meru Mayura berada di tengah. Sementara di sisi barat terdapat  Pura Dalem, Karang Jangkong  dan Pura Puseh di pojok sebelah timur. Ini adalah formasi kota-kota kuno di Bali.

Baca Juga  : April 1815, Jejak Letusan Tambora Mengubah Sejarah Dunia

Sisa-sia keteraturan Cakranegara masih bisa kita lihat kini. Cakra dibagi oleh dua jalur arteri utama (marga sanga) yang saling menyilang. Yakni jalan Pejanggik-Selaparang yang membelah  timur-barat dari Karang Jangkong hingga Sweta.

Kemudian dari utara-selatan ada jalan Sultan Hasanudin–AA Gede Ngurah yang menghubungkan Karang Taliwang dan Abian Tubuh. Dua jalur ini bertemu di perempatan Cakranegara di depan Hotel Lombok Plaza kini.

Penataan jalan-jalan lebar ini memudahkan lalulintas orang dan barang dan tentu saja baik untuk pertahanan sebuah pusat pemerintahan. Cakra dibangun tepat di tengah jalur yang menghubungkan Pelabuhan Ampenan dan Labuhan Lombok. Jalan ini juga menghubungkan akses Cakra dengan Pelabuhan Lembar dan Lombok Utara.

Peta tata kota Mataram dan Cakranegara yang dibuat untuk kepentingan serangan Belanda tahun 1894. (Sumber : KITLV)

Lebih dari itu penataan ini memungkinkan sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon pelindung. Kemudian dilengapi saluran drainase yang terhubung dengan kanal-kanal lebih besar menuju sungai. Hal inilah yang membuat Cakra selalu siap menghadapi banjir karena pemukiman dibangun lengkap dengan sistem pembuangan yang terpadu.

Sementara itu setiap lingkungan (karang) dibagi melintang utara-selatan dengan jalan-jalan yang sedikit lebih sempit atau yang dikenal dengan Marga Dasa. Di ujung barat misalnya ruas-ruas ini menghubungkan Jalan Kebudayaan di Utara dengan Jalan Songket di selatan.

Karena itulah warga yang ingin pergi dari satu titik ke titik lain takkan tersesat karena semua jalur marga dasa akan memiliki persilangan dengan jalur utama Marga Sanga.

Baca Juga : Lombok 1839 : Perang Saudara dan Persaingan Tanjung Karang – Ampenan

Shuji Funo dalam Cakranegara, A Unique Hindu City In Lombok menyebut awalnya Cakranegara dirancang untuk 33 banjar (lingkungan).  Angka 33 merujuk pada bilangan khusus dalam kepercayaan Hindu dimana ada 33 dewa yang menghuni Puncak Meru (Mahameru).

Dalam desainnya, satu lingkungan (karang) terdiri atas 80 kapling rumah yang terbagi atas empat marga.  Satu marga memanjang utara selatan  tersusun atas 20 kapling rumah yang saling memunggungi.

Hal inilah yang membuat setiap rumah  akan  berhadapan langsung dengan jalan baik jalan marga sanga (jalan utama) marga dasa (jalan lingkungan) dan marga (jalan kecil/gang).  Dengan pengaturan ini setiap keluarga akan menempati satu kapling lahan dengan luas antara 6-8 are.

Baca Juga : Nusantara di Abad 17, Ketika Warga Bebas Jual Beli Narkoba

Selayaknya sebuah Super Cluster dalam perumahan modern Cakra juga dilengkapi ruang-ruang publik dan pusat perekonomian. Selain Pura Miru hampir semua lingkungan memiliki Pura.

Kemudian sebagai pusat ekonomi Pasar Cakra dibangun. Ini adalah bentuk umum pasar-pasar lama baik di Jawa dan Bali yang berdiri  tak jauh dari gerbang Pura yang masih bisa dilihat hingga kini. Kemudian pemandian-pemandian umum, alun-alun Cilinaya dan lainnya.

Sebagai daerah koloni Karangasem, nama-nama kampung di Cakranegara juga banyak diambil dari nama-nama tempat di Bali. Seperti Karang Ujung, Sindu, Pondok Perasi, Pagutan, Karang Tangkeban,  Tohpati dan lainnya.

Tatakelola Hindu-Bali yang dianut dalam penataan Kota Cakranegara juga berpengaruh pada pengaturan penghuni daerah perumahan di distribusikan menurut empat kasta yang ada, Brahmana, Kesatriya, Weisya dan Sudra.

Taman Mayura Cakranegara (Sumber: KITLV)

Menurut Fono (1991) dalam sistem Kota Cakranegara kebanyakan para Brahmana tinggal di sebelah Utara dan Timur. Ini mengacu pada arah Timur laut adalah arah yang dianggap suci  mengikuti arah Gunung Rinjani.

Sedangkan kasta Ksatriya sebagian besar banyak yang tinggal disebelah Barat. Kasta Weisya banyak yang tingal disebelah Timur. Sementara kasta sudra atau Bali biasa, banyak hidup di semua bagian blok sesuai aturan kerajaan.

Lalu dimana posisi masyarakat non Hindu-Bali bertempat tinggal?. Karena merupakan pusat pemerintahan kerajaan Hindu, Cakranegara memang lebih diperuntukkan untuk masyarakat Bali. Sementara masyarakat Sasak sebagai mayoritas tinggal di perkampungan-perkampungan sekitar Cakranegara.

Baca Juga : Dari Linggasana ke Gunung Sari, Jejak Perang Saudara dan Taman Para Raja

Namun demikian menurut Suprapto dalam Semerbak Dupa di Pulau Seribu Masjid sejumlah perkampungan Muslim Sasak diizinkan berdiri  diantara perkampungan Bali di Cakra dan Mataram.

Namun terbatas bagi mereka yang memiliki keterampilan khusus. Seperti para perawat gamelan di Karang Kemong, perajin emas di Kamasan dan Sekarbela, juru masak di Karang Tapen dan Pelaras dan pembuat Senjata di Karang Bedil.

Baca Juga : Lombok 1891: Jejak Guru Bangkol Mengobarkan Perang Praya

Lalu bagaimana dengan warga negara asing? Kerajaan Mataram di masa itu mencapai puncak kejayaan. Mereka mengembangkan Ampenan sebagai pelbuhan utama. Naturalis Inggris Alfred Russel Wallace dalam The Malay Archipelago menyebut di Ampenan terdapai banyak kantor-kantor perwakilan perusahaan Asing dari berbagai negara Eropa. Inggris, Amerika, Denmark, China dan lainnya.

Sementara untuk tamu-tamu kerajaan dari mancanegara, Raja memiliki komplek penginapan bernama Bogor. Komplek ini kini berada di sisi selatan Taman Sangkareang Mataram.

 

Cakranegara Sebagai Pusat Niaga

Wajah Kota Cakranegara berubah seiring dengan runtuhnya dinasti Mataram. Perang melelahkan dengan kolaisi Timuq Juring  dan Belanda di tahun 1894 mengakhiri riwayat kerajaan ini. Selepas perang hampir seluruh perkampungan Bali di Mataram dan Cakra dihancurkan. Harta kerajaan dijarah.

Wouter Cool dalam Lombok Expeditie menyebut setelah perang Belanda membawa banyak harta rampasan dari Cakranegara dalam berbagai bentuk benda berharga. Yakni 453 Kilogram emas, 3173 kilogram harta berbahan perak dan 75 peti permata dan batuan mulia lainnya. Ini belum termasuk benda benda penting seperti senjata dan naskah-naskah kuno di perpustakaan kerajaan Mataram.

Sementara sisa-sisa keluarga Kerajaan Mataram yang selamat ditangkap dan diasingkan. Mereka tak diperkenankan bersatu kembali dengan jalan diasingkan terpisah di Batavia, Cianjur, Sulawesi dan Bengkulu. Sementara sebagai penguasa baru, Belanda membawa para bangsawan Bali dari Buleleng untuk memimpin Cakranegara.

Sisa-sisa renuntuha istana Raja Mataram di Cakranegara setelah perang 1894. Gambar tersebut merupakan jalur di sisi timur Perempatan Cakranegara kini. Puri raja kini menjadi komplek pertokoan di barat Taman Mayura. Yakni dari Jalan Selaparang hingga Jalan Tenun di utara.

Setelah kekuasaan belanda benar-benar pulih, Belanda  lebih memilih Mataram sebagai pusat pemerintahan. Sementara Cakra bergerak sebagai pusat niaga.

Bersamaan dengan itu pola hunian dan kepemilikan lahan di Cakra tak lagi berdasar kasta. Semua orang bebas memiliki lahan selama tak bertentangan dengan aturan Kolonial Belanda. Sejak saat inilah Cakra menjadi lebih heterogen.

Mayarakat Sasak yang dulu berada di luar boleh masuk selama mampu membeli lahan. Kemudian etnis lain seperti Cina, Arab, Bugis, Jawa dan lainnya  bisa berdampingan dengan masyarakat Hindu-Bali yang sebelumnya menguasai kota.

Hasilnya bisa dilihat  kini, Cakra tak hanya didominasi Pura. Rumah ibadah lain seperti Masjid, Vihara hingga Gereja dapat ditemui. Namun di balik itu struktur kota yang dibangun dalam pola grid ini masih bertahan hingga kini. Sayang  keteraturan penataan tata Cakranegara tak dikembangkan pemerintah di wilayah lainnya. (*)

 

Penulis : Zulhakim, tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks