Sabtu, 4 Februari 2023
Sabtu, 4 Februari 2023

1856, Amuk di Ampenan dan Kisah Perlawanan Orang-orang Makassar

Suatu pagi di  Ampenan sekitar bulan Juni 1856. Kengerian meneror warga kota pelabuhan ini ketika seorang pria  berlari ke penjuru kota dan hendak menebas siapapun yang ditemuinya.

————————–

Lekas kul-kul dibunyikan meminta warga tak keluar, menutup jalan dan mengunci pintu rumah. Dari lorong-lorong kampung warga berteriak memperingatkan adanya “Amok” atau “Amuk”.

Naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace yang ada di lokasi tersebut mencatat hal seperti ini lazim terjadi. Dalam The Malay Archipelago  ia menyebut “amuk” seperti ini bukan hanya di Lombok tapi di sejumlah tempat di Nusantara terutama di Sulawesi.

Saat itu, banyak dari mereka yang terkungkung  persoalan pelik  memilih jalan “amuk” untuk mengakhiri hidup.  Mengamuk sejadi-jadinya dengan menerkam siapapun yang ditemui. Aksi brutal ini akan terhenti jika si pengamuk tertangkap atau tumpas diamuk warga.

Demikianlah. Hari itu di Ampenan seorang budak yang menolak dijual dikabarkan hendak mengamuk dan melampiaskan emosi kepada siapapun yang ditemui. Dalam amuk seperti ini, dendam pada kebuntuan sosial mereka anggap lunas dengan jatuhnya korban.

BACA JUGA : Ampenan 1992 : Akhir Cerita Bioskop Ramayana

 

Amuk dan Perlawanan Orang Makassar

Di Makassar zaman itu dilaporkan, sehari belasan korban tewas gara-gara amukan seperti ini. Padahal tradisi “amuk” awalnya tak sesederhana itu.

Kamus Bahasa Indonesia mengasosiasikan amuk dengan perang. Melibatkan banyak orang berhadap-hadapan. Bukan sekadar mengamuk cari maut.

Ada nilai dan keyakinan yang dipertahankan sehingga orang rela mati dalam hunusan pedang lawan. Tapi keberanian di luar nalar itu memang sering muncul dalam detik-detik kebuntuan, cul-de-sac.

Claude de Forbin  utusan Raja Louis XIV merekam perlawanan mengerikan sekelompok warga Bugis yang terkepung ribuan personel gabungan kerajaan Siam, Prancis, Inggris dan Portugis  di pedalaman Thailand, 23 September 1686.  Bernard Dorleans merangkum kisah heroik ini dalam Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai XX.

BACA JUGA : Lombok 1856 : Kisah Raja Mataram Memberantas Korupsi

Baca Juga :  April 1815, Jejak Letusan Tambora Mengubah Sejarah Dunia

Tersebutlah Daeng Mangalle, bangsawan Gowa-Tallo dan kerabatnya diduga terlibat persekongkolan  kelompok Melayu, Campa dan Makassar di Ayuthia. Mereka dituduh hendak menjarah kerajaan dan menghabisi Raja.

Raja Siam yang mengetahui rencana itu mengirim personel bersenjata termasuk bantuan pasukan Prancis yang berpusat di Bangkok. Orang-orang Melayu dan Champa mendapatkan pengampunan setelah meminta maaf kepada Raja.

Namun tidak bagi Daeng Mangalle. Ia merasa tak bersalah atas semua tuduhan itu.  Sebagai bangsawan, pantang baginya mengacau di rumah orang. Karena itu ia merasa tak perlu meminta ampun.

Akibatnya perkampungan Makassar dikepung  ribuan tentara. Lengkap dengan senjata terbaik di masa itu.

BACA JUGA : Lombok 1934 : Jejak Gemilang Bandara Rambang

Dalam beberapa kali negosiasi Daeng Manglle tetap kukuh tak bersalah. Tapi semua tuduhan didakwakan padanya. Setelah insiden berdarah di sebuah pavilliun, 23 September  malam ribaun pasukan bergerak ke kampung Makassar di Ayuthia. Mereka datang  bersama dua kapal perang, 60 kapal kecil dan 22 kapal dayung.

Dalam perang tak seimbang itu Daeng Mangalle tahu betul  ia dan kerabatnnya pasti  kalah. Namun ia telah bersumpah akan memberi perlawanan setimpal yang takkan dilupakan Thailand sampai kapaupun. Baginya lebih baik tumbang daripada menjadi budak di negeri orang.

Seluruh pintu keluar kampung di tepi sungai itu telah dikepung. Dalam keheningan subuh, serbuan dimulai. Bola-bola api mulai ditembakkan ke perkampungan. Api merah menyala menjilat seisi desa. Melihat semuanya hangus Koalisi Siam-Eropa sempat merasa menang. Namun perang sebenarnya justru baru saja dimulai.

Seperti laron menerjang sinar, orang-orang Makassar satu persatu keluar dari parit dan menerjang apapun yang mungkin mereka serbu. Perang, serang terjang. Balasan Bugis itu membuat Kapten Coates dari Inggris tumbang. Ribuan pasukan gabungan itu dipaksa itu mundur menunggu bala bantuan datang.

Baca Juga :  Lombok 1856 : Kisah Raja Mataram Memberantas Korupsi

BACA JUGA : Ampenan 1889 : Sahbandar Eksekusi Mati Budak Pelarian

Serangan berlanjut hingga siang. Sisa-sisa orang Makassar semakin terkepung. Namun mereka tak mundur. Keberanian mereka membuat Claude de Forbin dan kawan-kawan  bergidik ngeri. Bagaimana 200 pria dengan keris dan tombak bisa demikian menggila melawan lebih dari 3000 tentara.

Daeng Manggale sendiri terhuyung oleh lima tusukan tombak. Namun dalam kondisi itu nyalinya tak padam. Sebelum napasnya berakhir ia sempat menerjang seorang Menteri Siam dan menghabisi seorang Inggris. Daeng Mangalle baru benar-benar rubuh setelah dihujani peluru Perancis.

Melihat ayahnya terkapar putra sulung Daeng Mangalle yang baru 14 tahun tak diam. Anak muda ini mengamuk sejadi jadinya sebelum akhirnya tumbang diterjang senapan.

Perlawanan terhenti, 22 orang Makassar tertawan, 33 mayat ditemukan. Sisanya tertangkap beberapa hari kemudian untuk dihukum dengan kejam.

Forbin mencatat kesaksian Pastor Tachard tentang bagaimana sisa-sisa orang Makassar ini dihukum. Kepala dijepit dan dipasak sebelum menjadi santapan macan. Ada juga yang dibakar dan dikubur setengah badan hingga mati perlahan. Sisanya kepala mereka dipenggal dan dipamerkan sebagai peringatan.

Selebihnya adalah sejarah yang hingga kini membuat penduduk Thailand terpana. Mereka terkenang kisah keteguhan hati dan perlawanan tak terperikan. Bayangkan, 200 lelaki Makassar yang terkepung mampu menghabisi tak kurang seribu prajurit Siam  dan 17 tentara Eropa. Dengan senjata seadanya. Ya…. Senjata sedanya.(*)

 

*) Penulis : Zulhakim, penyuka seni dan budaya tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31

 

 

 

 

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks