Sabtu, 4 Februari 2023
Sabtu, 4 Februari 2023

Lombok 1930 : Sepiring Pelecing, Sekeping Kepeng Bolong

Lombok di pedalaman abad 18 telah  membuka diri terhadap perdagangan antar bangsa. Karena itu ragam mata uang dunia ditransaksikan disini. Tentu saja dengan Kepeng Bolong sebagai mata uang utama. Bagaimana nilai tukarnya?

—————————————

Suatu siang di Pelabuhan Ampenan sekitar tahun 1940. Setelah mengemas tumpukan tembakau, ini adalah hari yang ditunggu Inaq Sarah. Hari dimana para buruh buruh pergudangan seperti dirinya menerima upah.

Yang membuat Inaq Sarah senang ia akan menerima upah sekitar satu suku (sesuku). Jumlah yang lebih dari cukup untuk ia dan keluarga kecilnya hidup beberapa minggu.  Sebelum gajian toke (majikan, red) tempatnya bekerja bertanya hari itu apakah ia mau digaji dengan uang berat atau ringan.

Kepeng deang wah Toke, adekn ndak berat lalok,” jawab Sarah dalam bahasa Sasak mengulang jawabannya kepada sang majikan.

Hari itu Inaq Sarah ingin digaji dengan uang ringan saja agar mudah dibawa. Ditambah berat belanjaannya hari itu, ia khawatir jika digaji dengan uang berat tumpukan uang itu akan berat dibawa kemana-mana.

Baca Juga : 1910: Fenomena Datu-Datuan dan Perlawanan Petani Lombok

Jika dilihat dengan kepraktisan sistem pembayaran saat ini, dialog antara Inaq Sarah dan majikannya di atas terasa aneh. Seberapa berat uang sesuku sehingga ia merasa terbebani untuk membawanya pulang?

Sebelum Belanda menaklukkan Kerajaan Mataram Lombok di akhir tahun 1894, Kepeng Bolong uang tembaga beraksara China dan Jawa adalah alat tukar yang berlaku.

Kelak, ketika Belanda berkuasa Kepeng Bolong tetap digunakan terutama untuk transaksi-transaksi dalam jumlah kecil. Sementara untuk transaksi besar orang lebih memilih  valuta asing seperti Gulden, Dollar dan Poundsterling disamping sejumlah mata uang asing lainnya.

Baca Juga : Lombok 1934 : Jejak Gemilang Bandara Rambang

Naturalis Inggris Alfred Russel Wallace yang datang ke Ampenan sekitar tahun 1856 menyebut Kepeng Bolong adalah alat transaksi utama di Lombok. Saat itu satu Rijskdaalder (Seringgit atau sekeping pecahan 2,5 Gulden berbahan perak) setara dengan 1200 Keping Kepeng Bolong. Jika rata-rata berat sebiji Kepeng Bolong  sekitar 4 gram per keping maka satu keping Rijskdaalder setara dengan 4,8 kilogram Kepeng Bolong.

Berat ini tidak tetap. Bisa bertambah dan berkurang mengingat nilai tukar Kepeng Bolong terhadap uang asing seperti Gulden, Dollar maupun Poundsterling berubah-ubah sesuai nilai pasaran.

Kepeng Bolong

 

Alfons van der Kraan  dalam Lombok Penaklukkan Penjajahan dan Keterbelakangan menyebut setelah 1894 pemerintah belanda sempat menetapkan patokan kurs resmi satu Rijskdaalder (Seringgit) setara dengan 2000 keping Kepeng Bolong.

Hal ini bertujuan agar masyarakat lebih suka menggunakan Gulden dalam bertransaksi. Namun nyatanya hingga tahun 1928 nilai tukar  satu Rijskdaalder cenderung stabil di angka 1000-1200 keping saja.

Baca Juga :  1897: Lalu Badil Serang Penjara Belanda di Praya dan Bebaskan Para Tahanan

Dengan penjelasan di atas wajar jika Inaq Sarah menimbang-nimbang jika harus menerima gajian dengan Kepeng Bolong. Dimana satu suku yang bakal diterima Sarah  setara 50 sen atau setengah Gulden (1 Gulden = 100 sen).

Dengan kurs  2,5 Gulden setara 1200 Kepeng Bolong artinya dia harus membawa pulang gaji dalam bentuk Kepeng Bolong sekitar  240  keping yang beratnya mencapai 960 gram atau hampir satu kilogram. Betapa beratnya.

Sementara dengan uang deang (uang ringan, uang Gulden) dia hanya membawa 50 keping pecahan satu sen atau sekeping pecahan setengah Gulden dengan berat 5 gram saja. Ringan di kantongi.

Jika kini anda harus membawa  satu kilogram uang setiap hari dapat dibayangkan bagaimana besar dompet yang harus disediakan.

Baca Juga : 1897: Lalu Badil Serang Penjara Belanda di Praya dan Bebaskan Para Tahanan

 

Nilai Kepeng Bolong

Kepeng Bolong memang tak seperti uang modern saat ini yang memiliki besaran nominal  sebagai penanda  nilai. Karena itulah dalam penggunaanya ia memiliki banyak penyebutan berdasar pada jumlah keping.

Misalnya satak, atak atau setali untuk seikat kepeng bolong berisi dua ratus keping. Atau se ketip berjumlah sekitar 48 atau 50 keping. Jumlah seketip ini setara 10 sen  uang Gulden.

Karena itu selain satuan/per biji,  berat Kepeng Bolong  juga menjadi hitungan timbangan. Misalnya di Lombok Barat tahun 1894, pajak atau sewa tanah subur dengan irigasi baik seluas setenah (58,32 are)  adalah 150 buntel padi.

Untuk mengukur berat padi tersebut, 1200 keping kepeng  diikat menjadi satu sebagai mata timbangan. 1200 keping kepeng bolong setara dengan 0,08 pikul (1 pikul = 61,7 Kilogram)

Seringgit : Sebuah uang pecahan 2 ½ Gulden (Rijskdaalder) bertahun 1898. (Sumber Foto : numista.com)

Nilai Kepeng Bolong terhadap mata uang asing  memang relatif rendah dan tidak efisien dalam transaksi besar. Karena itulah penggunaannya cenderung untuk transaksi-transaksi dalam jumlah kecil.

Dalam The Malay Archipelago misalnya Wallace mengisahkan bagaimana kesibukan sehari-hari Mr. Carter seorang pedagang  berkebangsaan Inggris di pergudangan Pelabuhan Ampenan sekitar tahun 1856. Saat itu para pekerja Mr. Carter setiap hari harus menghitung sedikitnya dua karung besar Kepeng Bolong untuk pembayaran hasil bumi yang datang dari pedalaman. Seperti padi, pisang, kopi hingga sapi dan babi.

Baca Juga :  Lombok hingga Batavia: Perburuan Rempah dan Hasrat Para Penjajah

Karena itulah para pengusaha dan bangsawan lebih memilih mengoleksi pecahan Rijskdaalder (2,5 Gulden) sebagai penyimpan nilai. Selain lebih mudah dalam hal penyimpanan koin ini memiliki nilai lebih stabil dan berlaku luas dalam perdagangan antar bangsa. Selain itu keistimewaan uang ini adalah pada bahan pembuatnya yakni perak 25 gram.

Baca Juga : Lombok 1856 : Kisah Raja Mataram Memberantas Korupsi

Kestabilan nilai koin-koin Gulden juga nampak pada gaji para pekerja. Harjo Santoso dalam Bank Indonesia Dalam Kilasan Sejarang Bangsa menyebut di tahun 1928 gaji seorang pegawai rendahan di De Javasche Bank bank sentral Hindia Belanda hanya  144 Gulden per tahun atau 12 Gulden per bulan.

Sementara gaji seorang prajurit berpangkat rendah sekitar 6-7 Gulden per minggu. Dapat dibayangkan jika dalam sebulan seorang prajurit bergaji 6 Gulden perminggu dapat membawa sekarung Kepeng Bolong ketika gajian tiba di akhir bulan.

 

Harga Sekeping Kepeng Bolong

Apa yang bisa dibeli dengan sekeping Kepeng Bolong? Kisah Amaq Sedan, asal Dusun Montong Batu, Muncan, Lombok Tengah bisa jadi pembanding. Sekitar tahun 1930-an ia adalah siswa Sekolah Rakyat (volkschool) angka tiga di Desa Muncan. Lokasinya persisi di sisi barat embung Muncan kini.

Amaq Sedan mengenang untuk ke sekolah sang ayah memberi uang saku sekeping Kepeng Bolong. Jumlah ini  cukup untuk membeli sarapan pagi. Menunya berupa pelecing kangkung, urap-urap lengkap dengan ketupat dan segelas kopi.  Sementara harga satu ekor ayam dewasa  antara 5 sampai 8 kepeng tergantung jenis dan ukurannya.

Kepeng Bolong sendiri merupakan mata uang tua yang ditaksir telah ada sekitar abad ke-10. Tak hanya di Lombok penggunaan mata uang ini hampir merata di Nusantara.

Di Lombok sendiri Klan Karangasem Bali yang berkuasa hingga 1894 menjadikannya sebagai mata uang resmi. Sebagian besar Kepeng Bolong diimpor dari China, Vietnam dan beberapa daerah lainnya di Jawa.  Mengutip Van der Kraan tahun 1890 nilai ekspor impor Kerajaan Lombok ditaksir mencapai 50.650 rijskdaalders. 1000 Rijskdaalder diantaranya berasal dari impor kepeng bolong ini.(*)

 

Penulis : Zulhakim, tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks