alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Jejak Perempuan, Para Pemerhati AMP di Lotim Selatan

Jejak perempuan merupakan sebuah kelompok yang peduli pada Anak Pekerja Migran (APM) di Lombok Timur bagian selatan. Dengan swadaya, mereka berupaya memastikan pendidikan APM setara dengan anak-anak lainnya.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

====================================

Di sebuah gazebo, tokoh pemuda Jerowaru Hasan Gauk berdiri memberi materi kepada para perempuan tangguh di Dusun Mungkik, Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru. Para perempuan itu tergabung dalam Jejak Perempuan.

Jejak Perempuan itulah nama salah satu kelompok perempuan di tempat itu. Fokus gerakan mereka di bidang pendidikan, sosial dan kesetaraan gender. Mereka mengajar anak-anak yang ditinggal orang tuanya merantau. Anak-anak yang tak memiliki biaya, anak-anak telantar dan anak-anak broken home.

“Kami menjadi guru, teman, dan keluarga bagi anak-anak didik kami.  Tanpa upah, tanpa gaji, dan tanpa tunjangan,” kata Salah seorang anggota Jejak Perempuan, Sri Astuti Wahyuni.

Sejak lima tahun lalu, mereka membentuk pendidikan anak usia dini (PAUD) APM. Muridnya sekitar 48 anak yang setengahnya adalah anak-anak yang ditinggal merantau oleh orang tua mereka. Baik ke Malaysia, Saudi Arabia, Brunei, Hongkong, dan negara lainnya.

PAUD APM diinisiasi oleh relawan Santai, Yayasan Tunas Alam Indonesia, Dusun Mungkik, Desa Pandan Wangi. Di tengah diskusi tersebut, Astuti menjelaskan, di Dusun Mungkik atau mungkin di beberapa tempat lainnya, masyarakat masih memandang anak pekerja migran sebagai orang-orang terbuang.

Hal itu dapat dilihat dari panggilan yang kerap dilontarkan pada mereka. Dengan sebutan anak sawit, anak onta, anak oleh-oleh. “Anak oleh-oleh ini maksudnya mereka yang ibunya mendapat siksaan di tempat bekerja dan pulang membawa anak,” jelasnya.

Stigma tersebut masih kerap ditemukan di tengah kehidupan masyarakat. Dari sanalah, Ahmad J, mengajak para perempuan desa seperti Astuti, Linda Widya Mayanti, Wirnaniati, dan Heni Widyawati untuk membentuk Jejak Perempuan.

PAUD yang mereka kelola sudah beberapa kali pindah lokasi. Dari menumpang di ruang kelas sekolah-sekolah SD, di rumah warga, dan terakhir di rumah kepala Dusun. Kata Ahmad, hal itu disebabkan karena keterbatasan yang mereka miliki.

“Saya percaya, di bawah bimbingan Jejak Perempuan yang dinakhodai oleh beberapa perempuan-perempuan hebat ini, anak-anak APM mendapat ilmu pengetahuan yang setara dengan PAUD-PAUD di luar sana, bahkan lebih,” kata Ahmad.

Hal serupa juga diamini oleh Hasan. Ia mengatakan, jejak perempuan mengajarkan anak-anak APM menjadi orang mandiri. “Semoga gerakan luhur ini tetap bertahan,” harapnya. (r5/*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dompu Zona Merah, Simulasi KBM Tatap Muka Dua Sekolah Distop

Rinciannya, SMAN 1 dan 2 Kilo, SMAN 1 dan 3 Pekat, SMAN 1 Kempo, SMKN 1 Manggalewa, SMKN 2 Dompu, dan SMAN 1 Hu’u. Namun, hanya simulasi di SMKN 2 Dompu dan SMAN 1 Hu’u yang dihentikan. ”Pertimbangannya, karena sekolah itu ada di wilayah kota dan dekat kota, sebagai pusat penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Cegah Penyakit Jantung di Masa Pandemi

dr. Yusra Pintaningrum, SpJP(K),FIHA,FAPSC,FAsCC

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks