alexametrics
Minggu, 27 September 2020
Minggu, 27 September 2020

Ketika Aji Memulung di Hari Pendidikan Nasional

Dari gaya bicara dan tingkahnya, Aji merupakan anak berkebutuhan khusus. Namun sayangnya, bukan disekolahkan di SLB. Dia malah berkeliaran mencari nafkah dari memungut sampah di jalanan. Di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin (2/5), koran ini mencari tahu alasannya tak duduk di bangku sekolah.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

================================

Hari yang cerah. Tanggal 2 Mei tiba usai libur memperingati Hari Buruh Sedunia. Siang itu, Taman dan Hutan Selong sekitarnya sedang dipenuhi aparat kepolisian. Mereka berjaga. Sebab ada unjuk rasa dari sekolompok lembaga yang ingin menyuarakan aspirasinya.

Di saat pengunjuk rasa berteriak serentak, Aji terlihat sedang berjalan di atas trotoar. Di tangannya terdapat sebuah karung berwarna biru. Karung itu baru terisi setengah. Isinya plastik bekas botol minuman, dan sampah kertas. “Aji,” katanya saat penulis koran ini menanyakan namanya.

Ia tersenyum cengegesan setelah menyebut namanya sendiri. Ditanya nama panjang, ia mengelak. Kemudian menyebut nama itu lagi. Sendal jepit yang dikenakan telah lusuh. Bajunya juga. “Saya harus cari uang,” katanya lagi.

Aji mengaku diminta berhenti sekolah oleh orang tuanya. Katanya, cari uang dulu. Saat menyebut kata uang, Aji seolah telah beranjak dewasa. Sudah punya tanggungan. Bukan anak yang seharusnya pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) itu berada di sekolah. Bukan juga terlihat seperti anak yang seharusnya masih meminta perhatian orang tua atas kondisinya yang terlihat kurang normal.

Ia tak menyebutkan tempat tinggal dengan jelas. Penulis koran ini memancing dengan menyebut beberapa nama kelurahan di Kecamatan Selong. Aji menganggukkan kepala saat penulis koran ini menyebut ‘Pancor’. “Pancor,” katanya mengulang kata itu sambil menganggukkan kepala.

Sejak diajak berbicara dengan Lombok Post, Aji selalu ingin menghindar. Sesekali ia terlihat memiringkan kepalanya. Lalu tersenyum. Sesekali maju dan mengayunkan tangan seolah ingin memukul penulis koran ini.

Tentu tak ada yang mesti ditakuti dari Aji. Aji masih anak-anak. Ia mengatakan, jika bersekolah, seharusnya ia duduk di bangku SMP. “Kelas enam satu,” katanya yang mungkin menjelaskan kelas 1 SMP setelah tamat kelas enam SD.

Aji selalu tersenyum, dan beberapa detik melongo setiap selesai mengatakan sesuatu. Ia tak tahu Hardiknas. Ia tak tahu buku-buku. Kata Aji, ia harus mencari sampah untuk dijual. Itu saja yang selalu ia katakan setiap kali ingin pergi.  Jika dihitung, Aji ingin pergi setiap kali selesai menjawab satu pertanyaan.

Anak seperti Aji tentu tak sendiri di Gumi Patuh Karya ini. Anak yang harus membantu orang tua mencari nafkah sangat banyak. Tapi yang mengorbankan sekolah sepertinya, tentu membutuhkan perhatian. Khususnya dari pemerintah

Tapi Aji tak bisa mengatakan keinginannya untuk bersekolah. Ia hanya tersenyum dan melenggang pergi setelah meminta uang kepada penulis koran ini. (r5/*)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Penataan Kawasan Wisata Senggigi Dimulai

Penataan kawasan wisata Senggigi direalisasikan Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat (Lobar). Sayang, dari tujuh proyek dalam perencanaan, hanya lima yang bisa dieksekusi.

LPPOM MUI NTB Target Sertifikasi Halal 125 Usaha Rampung Tahun Ini

”Rinciannya, dari Dinas Perindustrian NTB dan pusat sebanyak 75 usaha, serta Dinas Koperasi Lombok Barat sebanyak 50 usaha,” katanya, kepada Lombok Post, Rabu (23/9/2020).

Solusi BDR Daring, Sekolah Diminta Maksimalkan Peran Guru BK

Jika terkendala akses dan jaringan internet, layanan dilaksanakan dengan pola guru kunjung atau home visit. ”Di sanalah mereka akan bertemu dengan siswa, orang tua, keluarga. Apa permasalahan yang dihadapi, kemudiann dibantu memecahkan masalah,” pungkas Sugeng.

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

Trailer Film MOHAN Bikin Baper

Kreativitas sineas Kota Mataram terasa bergairah. Ditandai dengan garapan film bergenre drama romantic berjudul ‘Mohan’ yang disutradai Trish Pradana. Film yang direncanakan berdurasi sekitar 35 menit ini mengisahkan perjalanan asmara Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskan dengan istrinya Hj Kinastri Roliskana. Film Mohan dijadwalkan mulai tayang Bulan Oktober mendatang.
Enable Notifications    Ok No thanks