alexametrics
Rabu, 30 November 2022
Rabu, 30 November 2022

Bayar Rp 35 Juta, Empat Calon TKI asal Lotim Gagal Berangkat ke Polandia

SELONG-Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Lotim mendampingi proses mediasi empat calon pekerja migran Indonesia (CPMI/TKI) yang diduga menjadi korban penipuan perusahaan penyalur. Mediasi digelar di kantor Disnakertrans Lotim, Kamis (4/3).

“Ini merupakan mediasi ketiga antara CPMI yang merasa dirugikan dengan pihak Lembaga Bale Pelaut dan pimpinan PT SKS Cabang Bali,” kata pendamping CPMI korban dugaan penipuan dari ADBMI Lotim Fauzan.

Fauzan menerangkan, empat CPMI ini melaporkan kepada ADBMI tentang rekrutmen yang dilakukan lembaga pelatihan Bale Pelaut yang bekerja sama dengan PT SKS Cabang Bali. Mereka yang berasal dari Kelurahan Majidi, Kecamatan Selong, tersebut telah dimintai uang masing-masing Rp 35 juta dengan perjanjian untuk bekerja ke negara tujuan Polandia. “Uang ini dikatakan untuk mengurus visa dan tiket keberangkatan. Jadi unsur penipuannya ini sudah jelas. Karena bale pelaut ini lembaga pelatihan. Bukan penyalur,” jelas Fauzan.

Baca Juga :  Perizinan Rumit Masih Jadi Penghambat Investasi NTB

Kabid Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Disnakertrans Lotim Moh Hirsan yang memimpin mediasi menerangkan, pada mediasi pertama dan kedua, pihaknya terus mendalami kasus tersebut. Sehingga ada bukti baru yang didapatkan.

“Kami pun bersurat kepada direktur PT SKS di Jakarta. Dan ternyata direkturnya tidak tahu permasalahan ini. Dari sana kami yakin ini penipuan,” jelas Hirsan.

Selain itu, pemberangkatan CPMI ke Polandia saat ini belum dibuka. Sehingga kalau pun benar ada upaya pemberangkatan, maka sudah dipastikan keberangkatannya akan ilegal.

Hirsan menerangkan, Lembaga Bale Pelaut juga sejauh ini tidak pernah melakukan koordinasi dengan Disnakertrans Lotim. Pada mediasi pertama, empat CPMI ini sudah resmi mengundurkan diri untuk berangkat dan meminta uangnya dikembalikan. Berikut semua dokumen yang sudah mereka serahkan.

Baca Juga :  Tegur Lotim Gelar Aksi Damai

Saat itu, pihak Bale Pelaut mengiyakan untuk mengembalikan uang CPMI dan memberikan jaminan atau agunan berupa sertifikat tanah dalam jangka waktu dua minggu. “Jadi jika tidak mampu mengembalikan uang CPMI, kami diberikan kewenangan untuk menjual aset tersebut,” jelasnya.

Namun pada mediasi ketiga, jaminan tersebut diubah dengan menyerahkan mobil pribadi milik direktur Bale pelaut sebagai jaminan pengembalian uang tersebut. Dengan perjanjian selama satu minggu ke depan.

Direktur LPK Bale Pelaut M Hasim Asfari mengatakan, pihaknya mengakui kesahalan yang dilakukan menyatakan kesiapan untuk mengembalikan uang empat CPMI.  “Saya siap kasus ini dibawa ke ranah hukum jika tidak bisa mengganti uang  itu,” kata Hasim. (tih/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks
/