alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

40 KK Korban Gempa Lombok di Pringgabaya Lotim Masih Tinggal di Huntara

SELONG-Inaq Mihram, 55 tahun Warga Dusun Rumbuk, Desa Batuyang, Kecamatan Pringgabaya masih tinggal di hunian sementara (huntara). Hunian itu berupa bangunan permanen setengah jadi yang disekat dengan pagar bambu.

Kalau hujan lebat, ia harus mengungsi. Numpang berlindung di rumah keluarga.

Sejak dilanda bencana gempa bumi tahun 2018 silam, bantuan Rumah Tahan Gempa (RTG) yang digelontorkan pemerintah sebesar Rp 50 juta pada tahap pertama tak kunjung jadi. Mihram, bersama 39 KK lainnya di Dusun Rumbuk menjadi korban penipuan oknum aplikator yang kabur setelah mendapat setoran dana 25 persen atau Rp 25 juta dari total Rp 50 juta.

“Pagar bambu ini saja kami bisa beli dengan berutang,” kata Inaq Mihram bersama suaminya Amaq Pidah saat ditemui Lombok Post pada 11 Maret lalu.

Amaq Pidah yang usianya hampir mencapai 70 tahun tak bisa berbuat banyak. Kerja serabutan dengan tenaga seadanya hanya bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Satu-satunya yang ia harapkan sekarang adalah bantuan pemerintah yang pernah dijanjikan.

Korban gempa lainnya di Dusun Rumbuk, Sri Wahyuni, 31 tahun menerangkan janji Pemkab Lotim kepada 40 KK korban gempa yang ditipu oknum aplikator. Saat itu, sekitar Januari 2020, Pemkab Lotim melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berjanji akan memberikan bantuan dari dana tak terduga APBD induk 2020.

Baca Juga :  Gempa 6,0 SR Guncang Perairan Utara NTB, Tidak Berpotensi Tsunami

Kalakhar BPBD Lotim Purnama Hadi saat itu menerangkan, dana tak terduga yang dimiliki Pemkab Lotim sebesar Rp 15 miliar. Wahyuni sendiri sudah membangun rumah secara swadaya.

Bangunan seluas 6×6 meter itu baru bisa ditembok separonya. Itu pun dengan bata bekas reruntuhan bangunan lama. “Tiga tahun kami hidup di tenda. Sekarang berusaha bangun sendiri dengan berutang,” tuturnya.

Sebanyak 40 KK korban gempa yang memilih membangun RTG jenis RCI ini merupakan korban gempa tahap pertama. Mereka adalah korban yang mengikuti penyerahan bantuan yang dihadiri presiden Jokowi di Sambelia.

Kata Wahyuni, mirisnya, mereka yang bersalaman langsung dengan Presiden Jokowi justru terbengkalai. “Kalau yang tahap kedua rata-rata rumahnya sudah jadi dan bagus semua,” jelas Wahyuni.

Ibu Masrun, korban gempa lainnya yang menjadi ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) menerangkan, sebagian besar dari mereka memang sudah membangun rumah secara swadaya. Namun sebagian besar dibangun dengan uang pinjaman. Ada yang meminjam di bank, ada juga yang dipinjami keluarga.

Baca Juga :  SNI Lotim Sambut Baik Program Kampung Lobster di Jerowaru dan Keruak

Kata dia, bukan berarti karena sudah terlihat jadi lantas dibiarkan begitu saja. Karena mereka mempunyai hak yang diambil orang lain. Jika Pemkab Lotim ingin membantu masyarakatnya, semestinya jangan hanya ucapan janji belaka. “Kita sudah berapa kali dijanjikan dengan berbagai kepastian,” jelasnya.

Sekretaris BPBD Lotim Muzakir belum dapat memberikan kepastian mengenai bantuan pemerintah terhadap 40 KK korban gempa di Batuyang. Ia membenarkan kepastian adanya bantuan dari dana tak terduga pada 2020 silam. Namun kemungkinan proses tersebut terkendala dengan anggaran dana tak terduga yang digunakan untuk menanggulangi pandemi Covid-19 yang merebak memasuki pertengahan tahun 2020.

Muzakir menerangkan, pihaknya sendiri sudah melakukan pendataan terhadap 40 KK korban gempa yang sampai saat ini masih membutuhkan bantuan. Menurutnya, selain kepastian bantuan, teknis pemberian bantuan juga menjadi kendala tersendiri. Sebab dalam petunjuk teknis dan pelaksanaan pemberian bantuan, pemerintah tidak diperbolehkan memberikan bantuan dalam bentuk uang.

“Ini juga yang masih menjadi persoalan kita. Tapi semoga bisa segera diproses,” ucapnya. (tih/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/