alexametrics
Minggu, 27 September 2020
Minggu, 27 September 2020

Peringati Hari Peduli Sampah, Rifat Pilih Jadi Cerpenis ‘Sampah’

Di Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari nanti, Rifat Khan akan menulis cerita pendek bertema sampah. Bagaimana ia memandang Lombok Timur yang masih bermasalah dengan sampah? Berikut laporannya.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

==========================

Puluhan lembar koran yang terbingkai menempel di dinding kamarnya. Semua koran itu memuat cerpennya. Tak hanya pernah dimuat di halaman literasi Lombok Post, karya Rifat Khan juga telah melanglang buana ke sebagian besar koran besar di tanah air.

“Ini sebagian saja yang dibingkai. Kalau semuanya tidak nampung. Sebagian besar sudah menyatu di buku antologi  cerpen saya,” kata Rifat menerangkan karyanya.

Namanya Ma’rifatullah. Rifat Khan merupakan nama pena yang ia sematkan sendiri. Alasannya sederhana dan cukup jelas. Rifat adalah panggilannya, sedangkan ‘Khan’ diambil dari darah yang mengalir di tubuhnya. “Buyut saya dari Pakistan,” terangnya.

Menelusuri keturunan cerpenis muda ini nampaknya akan terlalu panjang. Ia pun segera menjelaskan program dari Gema Alam NTB dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari mendatang. Kata Rifat, ia tertarik menjadi satu dari sekian seniman yang terlibat dalam proyek tersebut.

Menurutnya proyek tersebut cukup menantang. Apalagi dikuratori oleh sastrawan nasional peraih sastra khatulistiwa literary award 2018, Kiki Sulistyo. Ia dengan senang hati mengiyakan tawaran berkarya yang mengangkat tema tentang sampah tersebut. “Saya melihat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan masih kurang,” terangnya.

Karena itu, dalam proyek kali ini, ia mengatakan akan menulis cerpen ‘sampah’. Bukan cerpen sampah dalam arti kualitas buruk. Tapi cerpen yang mengangkat cerita tentang sampah. Idenya sederhana. Sembari menyeruput kopi sore, ia menjelaskan kepada koran ini perihal ide menarik yang katanya telah disetujui kurator.

Ide tersebut berasal dari sampah yang tak berharga. Hal itulah yang menyebabkan masyarakat menempatkan sampah di tempat terendah. Salah satu dampaknya adalah membuangnya sembarangan. Karena itu, dalam ceritanya nanti, ia akan menulis kisah tentang betapa berharganya sampah.

“Nanti akan ada seseorang yang ceritanya membeli sampah dengan harga mahal. Sekelas emas. Karena orang itu, semua masyarakat berbondong-bondong mengumpulkan sampah. Semua ingin jadi pemulung,” ujarnya.

Karena hal itu pun, kota menjadi bersih seketika. Sampah yang mendadak berharga itu tak satupun terlihat berserakan di jalan. Bayangkan saja, harganya Rp 500 ribu per gram. Rifat tersenyum menjelaskan keliaran imajinasinya.

Namun di saat semua orang mengumpulkan sampah di rumahnya masing-masing, sang pembeli tiba-tiba menghilang. Harapan masyarakat pupus seketika. Lama menunggu, mereka pun akhirnya dengan kekesalan kembali membuang sampah ke kali. “Tentu jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumya,” katanya memberi bocoran.

Tapi setelah itu apa yang terjadi? Rifat tak ingin terburu-buru membeberkan semua cerita yang tuntas ditulisnya. Itu baru gagasan. Entah bagaimana ia menyusunnya nanti. “Yang jelas cerpen ini akan saya bacakan di peringatan hari peduli sampah nasional nanti,” terangnya. (*/r7)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Penataan Kawasan Wisata Senggigi Dimulai

Penataan kawasan wisata Senggigi direalisasikan Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat (Lobar). Sayang, dari tujuh proyek dalam perencanaan, hanya lima yang bisa dieksekusi.

LPPOM MUI NTB Target Sertifikasi Halal 125 Usaha Rampung Tahun Ini

”Rinciannya, dari Dinas Perindustrian NTB dan pusat sebanyak 75 usaha, serta Dinas Koperasi Lombok Barat sebanyak 50 usaha,” katanya, kepada Lombok Post, Rabu (23/9/2020).

Solusi BDR Daring, Sekolah Diminta Maksimalkan Peran Guru BK

Jika terkendala akses dan jaringan internet, layanan dilaksanakan dengan pola guru kunjung atau home visit. ”Di sanalah mereka akan bertemu dengan siswa, orang tua, keluarga. Apa permasalahan yang dihadapi, kemudiann dibantu memecahkan masalah,” pungkas Sugeng.

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks