alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Dapur Umum Rumahan ala Pengungsi Desa Pesanggrahan, Montong Gading

Di tengah kondisi hilangnya hunian tetap dan perasaan trauma yang melekat, perut harus tetap terisi. Karena itu, asap dapur umum pengungsian di Pesanggrahan harus terus mengepul. Meski sederhana, dengan lauk seadanya.

=======================

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

Setelah guncangan pada Minggu (17/3) lalu, bumi masih bergetar. “Senin lalu langsung terasa lagi. Kemarin juga. Sampai sekarang rasanya masih selalu ada,” kata Masirah, salah seorang korban gempa dari Pesanggrahan.

Siang itu, Masirah sedang membersihkan ikan teri bersama beberapa ibu-ibu korban gempa lainnya. Mereka mengaku trauma. Jangankan berlama-lama di dapur, masuk ke kamar mandi saja masih terburu-buru.

Kata Masirah, sampai saat ini, belum ada warga yang berani masuk ke dalam rumahnya. Meskipun tidak roboh. “Tapi di sini ini, hampir semua rumah kita terdampak,” katanya sembari membagi ikan teri menjadi dua bagian.

Masirah merupakan seorang janda. Ia bersama ibu-ibu korban gempa lainnya ditemui koran ini di dapur umum pengungsi. Di depan dapur umum mereka terdapat mobil tangki air milik Polres Lotim. Di samping dapur terdapat tenda yang berisi bahan makanan seperti beras, minyak, sayur, telur, dan bahan-bahan lainnya.

Baca Juga :  Marhain, Pedagang Asongan dari Lingsar yang Jualan di Selong

Plang dapur umum sendiri sudah disingkirkan. Tepatnya dibiarkan tergeletak di tanah. Beberapa meter dari area tempat memasak. “Ini dapur ala rumahan. Tidak menggunakan yang masak-masak di dalam mobil itu,” kata Masirah.

Alat yang digunakan memasak juga masih menggunakan tungku berbahan kayu bakar. Di sampingnya memang ada kompor gas. Lengkap dengan dua buah tabung gas 3 Kg. Menyala tiga kali sehari sejak Senin (18/3) lalu, gas itu belum juga habis. Semua itu karena bantuan kayu bakar.

Ketika koran ini datang, waktu makan siang sudah lewat. Para juru masak ini terlihat sedang mempersiapkan makan malam. Mereka menyiapkan hidangan untuk ratusan pengungsi. Makan tiga kali sehari. Satu kali masak, beras yang dibutuhkan 8 sampai 10 Kg. Sehari bisa sampai sekitar 30 Kg.

Sementara lauknya bermacam-macam. Paling sederhana dan sering adalah sayur kol, kacang panjang, kangkung, dan terong. Kata Masirah, yang menambah enaknya ada telur. Telur digoreng, lalu dibuat sambal. Agar cukup, jumlah sambal dibuat beberapa kali lipat dari jumlah telur.

Baca Juga :  IKKON 2019 Sambangi Lotim

“Selalu begitu, kita kasi sambalnya banyak-banyak. Biar cukup,” terangnya disambut anggukan kepala dari rekan dapurnya Ibu Sukardi.

Sejak Senin lalu, mereka menceritakan baru sekali memasak daging ayam. Daging ayam itu hasil pemberian para pemuda desa. Jumlahnya hanya satu kilo gram. Kata Masirah, daging itu dengan bahagia segera dimasak. Agar cukup, para juru masak menyuir-nyuur daging tersebut jadi ratusan bagian. Kecil-kecil sekali. Semua itu agar ratusan orang dari mereka kebagian.

“Tentu tidak lupa kita kasi sambal yang banyak. Meski sedikit, tapi senangnya,” kenang Masirah, seolah sedang membayangkan kapan lagi ada orang yang membawakannya daging ayam.

Membahas lauk, bukan berarti mereka tak berkecukupan. Semua kebutuhan ada. Terutama yang pokok. “Alhamdulillah, beras selalu ada dari orang-orang yang datang membantu. Begitu juga lauk-pauk,” jelasnya. (*/r7)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/