alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Rp 50 Juta kok kayak Gini?

SELONG-Dalam pembangunannya, rumah tahan gempa (RTG) dengan dana Rp 50 juta membutuhkan pengawasan penuh. Mulai dari perencanaan bangunan, biaya, sampai dengan evaluasi setelah pembangunan selesai.

Baru-baru ini, Warindi, seorang korban gempa di Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun mempertanyakan pengawasan tersebut. Ia menilai ada yang tak beres dengan realisasi dana Rp 50 juta itu dengan hasil rumah yang mulai dihuni.

“Dengan hasilnya ini, saya yakin nilainya tidak mencapai Rp 50 juta. Ini ada yang dikorupsi oleh ketua Pokmasnya,” keluhnya kepada Lombok Post, Sabtu (23/3) lalu.

Ia menjelaskan, fondasi RTG yang dibangun dengan luas 7×6 meter persegi itu hanya dibuatkan sekitar 3 meter. Kata Warindi, sisanya memanfaatkan fondasi rumah yang sudah ada. Kecurigaan lainnya dilihat dari pintu rumah yang belum terpasang. Plafon dan juga lantai yang hanya berupa rabat. “Saat ini saya sedang menunggu tim dari PU itu. Mau tanyakan apakah benar rumah seperti ini menghabiskan dana Rp 50 juta,” katanya.

Warindi merupakan satu dari ribuan warga lainnya yang berhak mendapatkan keterangan atas total biaya pembangunan RTG. Kata Warindi, ia hanya diberikan tiga lembar kertas yang berisi rincian biaya dengan tulisan tangan. “Ini tidak saya percaya. Karena saya menghitung-hitungnya sendiri,” terangnya.

Koordinator Rekompak wilayah Lotim MJ Sofiyan Yusuf mengaku belum mendapatkan satu pun komplain dari anggota kelompok masyarakat (pokmas). Karena ia memastikan, semua proses pembangunan RTG dengan Pokmas yang didampingi dipastikan sesuai dengan perencanaan. Mulai dari perencanaan bangunan, RAB, sampai dengan evaluasi pembangunan.

“Jika benar ini terjadi, mungkin ada kasus ini. Yang jelas kita harus turun ini, di mana yang membuat pernyataan itu,” kata Sofiyan.

Di dalam perencaan, semua RTG memang selesai tanpa plafon. Sementara lantai tidak keramik. Tapi hanya pelester biasa. Adapun untuk pintu, dan fondasi semua harus terpasang dan dibangun. Kata Sofiyan, untuk pintu, bisa jadi dibuat secara swadaya. Artinya, bisa dipasangkan dari pintu rumah yang sudah ada. “Tergantung seperti apa perencanaan awalnya,” terang Sofiyan.

Sementara untuk fondasi, memang bisa jadi yang lama digunakan kembali. Karena itu tergantung pengawasan dari tim teknis. Jika fondasi lama masih layak dan bisa digunakan, maka itu akan masuk menjadi fondasi swadaya. “Intinya semua sudah ada dalam perencanaan. Yang masalah adalah, apabila perencanaan dengan hasil tidak sesuai,” terangnya.

Ia pun menerangkan akan menurunkan tim untuk mencermati keluhan yang datang dari masyarakat. “Nanti akan kami lihat kembali kondisinya,” pungkasnya. (tih/r7)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Penyuntikan Vaksin Korona Untuk Warga Dimulai Januari 2021

Pemerintah telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dan mendapatkan vaksin untuk Covid-19 sebanyak 20 juta dosis. Rencananya, vaksin mulai didistribusikan pada Desember.

Kampung Sehat, Warga Desa Setanggor Semangat Gotong Royong

GAIRAH warga Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat sedang menggebu-gebu untuk mewujudkan lingkungan mereka yang bersih dan sehat. Karena itu, jangan heran manakala menemukan semangat gotong royong masyarakat di desa ini sangat tinggi.

Satu Gerakan, Warga Desa Kuripan Lawan Penyebaran Covid-19

Warga Desa Kuripan kian konsisten menerapkan protokol kesehatan. Apalagi setelah berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat kabupaten di lomba Kampung Sehat. Sederet inovasi pun telah disiapkan Desa Kuripan.

Simulasi KBM Tatap Muka SMA Sederajat di NTB Pekan Kedua Dimulai

Simulasi KBM tatap muka untuk SMA sederajat di NTB memasuki pekan kedua. ”Sambil kami tetap memantau perkembangan penyebaran Pandemi Virus Korona,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post, Minggu (20/9/2020).  

Mendikbud Pastikan Wacana Penghapusan Mapel Sejarah Hoaks

”Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” tegas dia.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.
Enable Notifications    Ok No thanks