alexametrics
Jumat, 25 September 2020
Jumat, 25 September 2020

Membahas Stigma Buruknya Pelayanan RSUD dr Soedjono Bersama dr Hasbi (1)

Pelayanan buruk RSUD dr R Soedjono Selong kerap dikeluhkan pasien. Hal itu sudah menjadi rahasia umum, jika pelayanan di rumah sakit swasta 180 derajat berbanding terbalik dengan rumah sakit plat merah milik Pemkab Lotim. Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD dr Soedjono Selong dr HM Hasbi menanggapinya dengan penjelasan panjang dan menarik. Berikut Laporannya.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

=============================

Perbincangan panjang dengan dr Hasbi berawal dari keluhan warga Pancor Marjuandi Iswantari. Jumat malam (22/2) lalu, dengan gelisah Marjuandi datang membawa adiknya ke IGD RSUD dr R Soedjono Selong.

Dalam kondisi gelisah, waktu terasa begitu cepat. Marjuandi yang akrab disapa Andi menerangkan jika adiknya dalam kondisi lemas dan tak bisa berdiri. Membawa selembar surat keterangan dari dokter umum yang praktik di Pancor, ia melarikan adiknya ke IGD. “Menurut dokter praktik, adik saya harus segera diopname,” terangnya.

Tak berpendidikan tinggi membuat Andi tak sempat menanyakan kepada dokter praktik terkait persoalan yang dihadapinya. Karena itu, semua yang ingin ia ketahui diharapkan akan bisa didapatkan di IGD. Namun di sanalah letak masalahnya. Malam itu, dokter jaga di IGD tak sepatah kata pun menjelaskan kepadanya mengenai kondisi pasien.

“Saya merasa pelayanan di RSUD jauh berbeda dengan di rumah sakit swasta. Di sini adik saya harus berbaring lama untuk mendapatkan infus. Tanpa satu pun keterangan,” terangnya.

Sampai di sana, informasi itu pun segera koran ini teruskan ke Direktur RSUD dr R Soedjono Selong. Dokter Hasbi yang terkenal memiliki segudang pengalaman dalam memajukan rumah sakit tak menampik sedikit pun kelemahan rumah sakit yang dinakhodainya.

Ia pun dengan rinci meminta keterangan terkait pelayanan yang didapatkan Andi. Penulis koran ini pun menjelaskan sesuai dengan apa yang ditemukan. Persoalannya hanya satu, petugas tidak profesional. “Memang sudah seharusnya dokter menjelaskan kondisi pasien. Jadi dengan menjelaskan, tidak apa mereka menunggu lebih lama. Tapi sudah dalam kondisi tenang,” kata dr Hasbi.

Lantas apakah benar pelayanan rumah sakit plat merah seburuk yang dibayangkan? Atau memang persoalan tesebut terletak pada personal karyawannya. Apa yang membuat pelayanannya jauh berbeda dengan rumah sakit swasta di Lotim. Sebut saja RSI Namira dan Risa yang terkenal di Lotim.

Hasbi mulai menerangkan perbedaan tersebut. Kali ini, ia menunjukkan kemampuannya di bidang tersebut. Hal itu ia tunjukkan dengan tesis yang mengkaji tentang reward and punishment pegawai pelayan kesehatan.

Kata Hasbi, selama ini masyarakat menganggap hal itu dikarenakan oleh honor. Di mana, jumlah honor yang diterima perawat dan dokter di rumah sakit swasta jauh lebih besar di banding rumah sakit plat merah. Jumlah honor, menentukan kualitas kerja.

Pandangan umum masyarakat selama dipatahkan mentah-mentah oleh dr Hasbi. Menurutnya total keliru. Sebab yang menjadi pembedanya adalah peraturan dan cara menegakkan aturan tersebut. “Di rumah sakit swasta, jika hari ini ada komplain dari pasien tentang pelayanan, besoknya petugas itu bisa dipecat. Kalau pegawai negeri, dia tidak masuk dua minggu saja kita tidak bisa melakukan apa-apa,” terangnya. (bersambung/r7)

 

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Catat, Kampanye Undang Massa Bisa Dipidana

Seluruh calon kepala daerah yang akan berlaga dalam Pilkada serentak di tujuh kabupaten/kota di NTB telah ditetapkan, kemarin (23/6). Hari ini, para calon kepala daerah tersebut akan melakukan pengundian nomor urut. Kampanye akan dimulai pada 26 September. Seluruh kandidat harus hati-hati berkampanye di masa pandemi. Sebab, mengundang massa dalam kampanye bisa dikenakan pidana.

Dua Sopir Bupati Lotim pun Positif Tertular Covid-19

PELACAKAN kontak erat Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy yang positif terinfeksi Covid-19 masih terus dilakukan. Hingga kemarin, dari kontak erat yang telah menjalani uji usap atau swab, dua orang sopir Bupati Sukiman telah dipastikan positif Covid-19.

Dua Jempol untuk Penanggulangan Covid-19 Desa Bentek Lombok Utara

Desa Bentek meraih juara satu Kampung Sehat di Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Berada di pintu masuk Kecamatan Gangga, desa ini memang dua jempol. Bidang kesehatannya oke. Bidang ekonominya mantap. Sementara bidang ketahanan pangannya juga menuai decak kagum. Pokoknya top!

Disdag Kota Mataram Gelar Pasar Rakyat, Warga Antusias

”Kami berterima kasih pada pihak Disdag karena kebutuhan rumah tangga bisa diakomodir sekaligus di sini dengan harga terjangkau,”  kara Nasrullah, lurah Pagutan Barat.

Dapodik Versi Terbaru Buat Bingung, Dikbud NTB Latih Operator Sekolah

Kami rancang untuk yang pulau Lombok dulu,” kata Kepala Seksi  GTK SMK Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Dikbud NTB Mu'azam, Rabu (23/9/2020).

SMK di NTB Mulai Persiapan Ikuti LKS Tingkat Nasional

”Siswa yang ikut, sedang menjalani training center (TC),” kata Kepala SMKN 3 Mataram Ruju Rahmad, Rabu (23/9/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Sutradara Trish Pradana, Angkat Kisah Mohan ke Layar Lebar

Sutradara Trish Pradana tak henti melahirkan karya. Di tengah Pandemi Korona ini ia kembali ke balik layar menuntaskan film baru bertajuk "Mohan". Ini merupakan film yang diangkat dari kisah hidup Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana sewaktu remaja.
Enable Notifications    Ok No thanks