Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Aksi Pemuda Desa Anjani Mengolah Sampah

Supardi/Bapak Qila • Senin, 25 September 2023 | 10:10 WIB
: Ketua TPS 3R Desa Anjani Nendi Wahyu bersama anak-anak muda yang mengelola sampah di Desa Anjani.
: Ketua TPS 3R Desa Anjani Nendi Wahyu bersama anak-anak muda yang mengelola sampah di Desa Anjani.

 

Sampah, bagi sebagian orang bisa jadi merupakan masalah yang sulit untuk diatasi. Namun, bagi pemuda di Desa Anjani, Lombok Timur (Lotim), sampah justru membawa manfaat ekonomi. Berikut ulasannya.

SUPARDI, Lombok Timur

”Sebelumnya kami pergi ke beberapa tempat untuk melihat bagaimana cara pengolahan sampah, karena selama ini sampah menjadi masalah. Karena saya juga memang pencinta alam jadi dari sana saya tergerak untuk melakukan ini,” terang Ketua TPS 3R Desa Anjani Nendi Wahyu.

Melalui TPS 3R ini, pemuda di Desa Anjani mampu mengumpulkan sampah hingga 16 ton hanya dalam tempo 6 hari. Sampah yang masuk kemudian diolah untuk menjadi pakan maggot, larva lalat yang bisa mengurai bangkai hewan, buah maupun sayuran yang busuk.

Pemuda Desa Anjani mengawali pengelolaan sampah dari tingkat RT. ”Kami bagikan bak-bak untuk memilah sampah di satu RT. Ketika berjalan, kami pindah ke RT lain,” ungkapnya.

Upaya yang dilakukan anak-anak muda membuahkan hasil. Maggot yang dikembangbiakkan mulai diminati masyarakat. Meski pada awalnya, pemasaran maggot ini dimulai dengan menawarkan ke perangkat desa setempat.

Sekarang, dengan semakin diminatinya maggot, pemuda Anjani kewalahan memenuhi permintaan pasar. Sebab, dalam satu bulan, maggot yang dihasilkan baru bisa sebanyak 25 kilogram saja.

Belum banyaknya maggot, kata Wahyu, disebabkan kandang lalat yang masih terbatas. Sementara permintaan maggot datang setiap hari, dari masyarakat setempat hingga luar Desa Anjani.

”Sekarang kami sudah tambah lagi kolam tempat pembesaran maggotnya. Agar hasilnya lebih banyak lagi. Juga sampah yang diolah bisa lebih banyak,” ungkapnya.

Maggot yang dijual pemuda Anjani telah diuji coba di laboratorium Universitas Mataram. Hasilnya, maggot kering maupun basah telah memenuhi standar yang baik. Wahyu mengatakan, untuk satu kilogram maggot basah dijual Rp 7.000. Sementara maggot kering dibanderol Rp 20 ribu per 100 gram. 

Selain melakukan pengolahan sampah sebagai pakan maggot, para pemuda ini juga memilah sampah-sampah non organik. Sehingga sampah yang terbuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sangat minim.

”Sedikit sekali sampah yang dibuang ke TPA. Sampah yang kita buang itu hanya daun-daun saja, itu pun kami berencana nanti menjadikan sebagai kompos,” ujarnya.

Sampah-sampah berupa plastik, botol, kresek, dan sandal yang diambil dari masyarakat akan dikumpulkan di TPS kemudian dipilah sesuai jenis. Setelah terkumpul dan terpilah sampah-sampah itu selanjutnya dikirim ke gudang-gudang rongsokan.

Dalam satu bulan, pemuda Anjani bisa mengirim hingga tujuh kali. Dengan satu kali pengiriman mencapai berat 1 ton. Dari pengolahan sampah, pemuda-pemuda itu berhasil meraup omzet sebesar Rp 6-7 juta per minggu. 

”Alhamdulillah itu yang kita gunakan untuk menggaji teman-teman yang bekerja. Untuk biaya operasional juga. Semangat teman-teman ini juga sangat luar biasa.” katanya.

Sebelum melakukan penjualan, para pemuda tersebut melakukan kunjungan ke beberapa gudang atau perusahaan yang membeli barang bekas dan plastik. Untuk melihat harga pasar dan barang-barang apa saja yang dibeli. 

Dirinya berharap kedepannya ada dukungan dari pemerintah daerah dalam hal ini dinas lingkungan hidup (DLH) Lotim, untuk memberikan bantuan berupa penambahan alat transportasi pengangkutan sampah. Karena selama ini hanya mengandalkan 1 unit kendaraan roda tiga untuk mengangkut sampah. (*/r11)

Editor : Akbar Sirinawa