Di tengah kerasnya hidup dan sepinya pembeli, Abdul Gani Murad tetap bertahan dengan kesabaran. Dari jualan ikan hias keliling, ia menafkahi keluarga, menahan lapar, dan menjaga asa agar anak-anaknya bisa terus sekolah.
Hasil jualan ikan hias menjadi satu-satunya tumpuan Abdul Gani Murad untuk menafkahi keluarganya. Meski keuntungannya kecil, pria asal Lombok Timur (Lotim) itu tetap bersyukur. Setiap rupiah yang ia bawa pulang menjadi bukti ketekunan sekaligus perjuangan untuk bertahan hidup.
Dalam sehari penuh keliling menjajakan ikan hias, Murad paling banyak membawa pulang uang Rp 50 ribu. Namun tidak jarang ia pulang dengan tangan kosong, meski sudah berkeliling dari pagi hingga petang.
“Bahkan untuk makan di tempat jualan saja kadang tidak ada. Pernah saya tidak makan dua hari di tempat jualan, saya masuk ke kebun warga dan menemukan kelapa jatuh, itu saya makan,” cerita Murad.
Ia juga pernah tidak pulang karena kehabisan bensin, hingga terpaksa menginap di rumah orang. Begitu mendapat uang Rp 50 ribu keesokan harinya, ia langsung pulang untuk mengantarkan anaknya belanja keperluan sekolah.
Anak-anaknya sudah terbiasa memahami kondisi ekonomi keluarga. Mereka jarang menuntut, bahkan sering pergi sekolah tanpa uang jajan ketika dagangan ayahnya tidak laku.
“Kalau barang tidak laku, anak saya yang SMP kadang jalan kaki pulang maupun berangkat sekolah karena tidak punya ongkos. Biasanya setiap hari saya kasih Rp 10 ribu untuk jajan dan ongkos pulang,” katanya menahan haru.
Tak jarang hasil jualan hanya Rp 15 ribu. Saat itu Murad memilih menahan lapar agar uang yang didapat bisa dipakai anaknya untuk ongkos sekolah.
Pengalaman paling pahit yang ia ingat adalah ketika seharian berjualan tanpa satu pun ikan terjual. Banyak ikan yang mati dan balon wadahnya meletus. Akibatnya, keluarganya terpaksa makan nasi basi yang dimasak ulang karena tak ada uang membeli beras.
“Tapi, Alhamdulillah anak istri saya tidak pernah mengeluh dengan keadaan ini,” ujarnya dengan suara berat.
Dari empat anaknya, dua masih bersekolah di SD dan SMP. Anak sulungnya telah lulus SMA, sementara si bungsu masih balita. Meski hidup serba pas-pasan, Murad tak pernah surut semangat menyekolahkan anak-anaknya. Ia percaya pendidikan bisa mengubah nasib keluarganya.
“Yang SMA ini sekarang dia mau kerja di Bali. Kemarin dia mau kuliah di sana. Tetapi kami ditipu sama orang. Katanya sudah didaftarkan ternyata belum, padahal kami sudah keluarkan biaya pendaftaran. Makanya anak saya memilih untuk bekerja saja,” ceritanya.
Ia bangga dengan semangat anaknya yang masih SMP. Meski harus berjalan kaki puluhan kilometer tanpa uang jajan, sang anak tetap ingin bersekolah.
Perlengkapan jualan yang digunakannya juga merupakan bantuan dari saudaranya. Mulai dari boks dagangan, payung, hingga motor.
“Ada saudara yang ingin membantu untuk memfasilitasi saya agar bisa bekerja. Ini yang membuat saya bersyukur,” tutupnya. (*/r7)
Editor : Prihadi Zoldic