Lombokpost - Bupati Lombok Timur (Lotim) Haerul Warisin meminta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lotim untuk segera melakukan langkah antisipasi dalam menyambut musim kemarau yang diperkirakan akan lebih awal datang dan lebih panjang di tahun 2026 ini.
"Informasi dari BMKG tahun ini musim kemarau kita akan lebih awal dan lebih panjang ini harus segera diantisipasi, “terang Bupati Lotim, Haerul Warisin, Kamis (12/3).
Kata dia, berdasarkan kebiasaan yang terjadi di Indonesia, pada bulan April-September waktu musim panas atau kemarau. Kemudian pada bulan Oktober-Maret susah dikenal sebagai musim hujan. Sehingga hal ini diakui masih normal dan sudah biasa terjadi.
Namun berdasarkan prediksi BMKG bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih lama terjadi yang prediksi mulai bulan April-November. Jika ini terjadi maka sumur-sumur warga dan sumber air bersih lainnya akan banyak yang kering. Bahkan sumur bor yang selama ini tidak pernah kering juga akan terdampak.
"Biasanya sejak zaman nenek moyang kita itu April-September itu musim kemarau. Tapi sekarang sampai November, jadi Oktober -November ini harus diantisipasi oleh PDAM dan Pamsimas," jelasnya.
Dirinya berharap prediksi itu tidak sampai terjadi dan kembali seperti kebiasaan semula. Terlebih saat ini tengah terjadi efisiensi anggaran baik kabupaten maupun anggaran dana desa.
"Jadi ini menjadi hal yang urgen yang harus diantisipasi. Tetapi kita sama-sama berdoa mudah-mudahan tidak terjadi apa yang diprediksi oleh BMKG," jelasnya.
Sementara itu Direktur PDAM Lotim, Sopiyan Hakim menyebutkan untuk menyambut musim kemarau pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipasi. Salah satunya mengatur penggunaan debit air yang akan di distribusikan kepada masyarakat, khususnya melalui SPAM Pantai Selatan.
"Alhamdulillah sekarang debit air di SPAM pantai selatan mencapai 100 liter per detik. Jika debit ini tetap stabil di musim kemarau maka pendistribusian tetap stabil, tetapi kalau turun kita kecilkan pendistribusian. Tergantung kondisi nantinya," katanya.
Sopiyan menyebut dengan debit air 100 liter per detik yang ada di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kotaraja, idealnya membutuhkan serapan atau sambungan rumah (SR) sebanyak 8.000. Jika serapan kurang maka reservoar di wilayah selatan dikhawatirkan akan overload.
Sejauh ini SR yang sudah terbangun baru mencapai 4.500 yang dibangun oleh Pemkab Lotim melalui APBD. Sehingga sisanya akan menjadi Pekerja rumah (PR) pemerintah kedepannya.
"Masih banyaknya SR yang belum terbangun ini karena kami merasa kesulitan. Kesulitan pertamanya adalah masyarakat tahunya gratis. Untuk itu kami harus mengadakan sosialisasi yang cukup intens," jelasnya.
Kata dia, jika di satu titik ada masyarakat gratis, kemudian di tempat lain berbayar, maka akan menimbulkan gejolak. Untuk itu pihaknya akan berupaya pemasangan SR sebisa mungkin untuk dipenuhi oleh Pemkab Lotim dan BWS, untuk menghindari gejolak di masyarakat.
Editor : Marthadi